
...Para Pemuja...
EMIR berjalan memasuki lobi Apartemen. Disana dia sudah disambut oleh Security dengan perawakan gagah yang persis seperti tubuhnya.
"Sore, Pak Emir" Emir menyahut salam itu dengan anggukan. "Oh iya Pak, banyak kiriman paket untuk Bapak" ujar Security itu.
Emir mengernyitkan dahinya. "Tertera nama saya atau hanya alamat saya?" tanya Emir menyelidik. Melihat raut bingung dari pria muda didepannya, Emir buru-buru berkata, "Kirim orang untuk membawa semua paket itu, biar saya yang sortir" Ucapan Emir disanggupi oleh Security itu, lalu dia pamit berlalu setelah mengucapkan terimakasih.
Saat sudah sampai di lantai 10, Emir mulai dilingkupi rasa kesal yang tak berkesudahan. Jika saja Asistennya--Edo tidak menceritakan kondisi Apartemennya, mungkin Emir tak sudi menempatinya.
Setelah Emir membuka pintu Apartemennya, Aroma tropical menyeruak kedalam penciumannya. Perlahan dia melangkah memasuki ruangan luas dengan beberapa furnitur mewah yang terpampang aestetik.
Ternyata benar apa yang dikatakan Asistennya itu, 'persis' seperti kali pertama dia membelinya. Bahkan kain sofa sudah diganti dengan yang baru, termasuk gorden dan semua yang berbahan kain.
Emir merebahkan tubuhnya di sofa bed--nyaman seperti biasa. Tapi keinginan dia mencari unit baru tetap akan dia lakukan nanti--untuk menghindari ...
Tiba-tiba pintu Apartemennya berbunyi, pria itu bangkit dari rasa lelahnya, lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang melalui monitor didekat pintu itu.
Oh, ternyata paket yang dibilang oleh Security tadi.
Emir membuka pintu dan menyuruh orang itu meletakkan di dalam Apartemennya.
"Biarkan troly itu disini dulu" pinta Emir, kemudian dia memberikan dua lembar uang seratus ribuan sebagai tips dan ucapan terimakasih sebelum pembawa troly itu pergi meninggalkan Apartemnnya.
Emir mulai melihat isi troly yang begitu banyak tumpukan paket disana. Dia mengambil salah satu dus kecil yang tertumpuk paling atas.
Emir terlihat berdecih saat melihat ada pesan yang diketik pada paket kecil itu--ditujukan untuknya. "Apa-apaan ini!" geramnya. Tanpa melihat isi didalam kotak itu, Emir langsung melempar kasar kedalam troly itu lagi.
Lalu dia meraih ponselnya di nakas dan mulai mencari kontak dan melakukan panggilan. "Andree! Datang ke Apartemenku, Sekarang!" seru Emir yang meradang. Lalu ia membanting ponselnya ke atas ranjang.
Kiki berjalan ke ruang karyawan dengan girangnya. Remaja berusia dua puluh tahunan itu habis mendapatkan tips sebesar itu untuk pertama kalinya.
"Tante Beby!" seru Kiki sambil memeluk wanita yang bernama Beby itu.
"Ada apa berondong ku!" Dengan gemas Beby meraih lengan pemuda itu--melepaskan pelukan, lalu dia berbalik menghadap Kiki dengan cengiran lebar.
Plak!!
Sebuah pukulan telak mendarat di kepala Kiki di barengi dengan ringisan anak lelaki itu. "Sekali lagi lu panggil gue 'Tante'! Siap-siap aja burung lu gue jadiin Crispi!" tandas Beby dengan geram.
Kiki mengaduh kesakitan, beberapa pegawai yang ada disana hanya bisa tergelak melihat tingkah dua orang yang lebih mirip Kakak-Adik itu.
"Aku dapet tips gede, Kak" bisik Kiki pada Beby.
Beby hanya menjebikkan bibirnya yang berwarna merah ke wajah Kiki. "Berapa?" tanyanya penasara.
Kiki kembali membisikkan. Dan Beby melotot tak percaya. "Sultan?" desis Beby. Dan Kiki mengangguk dengan cengiran yang masih menghinggapi wajah sayunya.
"Tapi aku cuma bisa traktir Kakak sama Kak Amarah. Kalo semuanya aku traktir, bakal abis uang tips ku" bisik Kiki yang membuat Beby menahan tawa.
...Bersambung...