Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Cowok Idaman



...Cowok Idaman...


SORAKAN yang begitu bergemuruh menggema didalam aula SMP Garuda.


Berhubung hari itu pembelajaran dibubarkan lebih awal karena rapat guru, maka dari itu latihan basket pun di adakan secara mendadak.


Emir masih setia menemani Amara. Namun kali ini bukan untuk menemani gadis lincah itu berlatih, melainkan menemani Amara beserta jajaran gengnya melihat pertandingan basket.


"Kak Leooon semangat!" pekik Amara yang hari itu mengenakan sweater kuning. Suaranya begitu memekakkan gendang telinga.


Emir yang berada disamping gadis itu pun dengan spontan berbisik, "Nggak usah teriak gitu Ra,"


Amara menoleh dengan perasaan kesal ke arah Emir. "Kalo nggak teriak mana Kak Leon denger sih!" ujar gadis itu bersungut-sungut.


Pertandingan basket yang sedang disaksikan Amara siang itu adalah persiapan untuk mengikuti kompetisi basket tahunan antar SMP di wilayah Jakarta Selatan. Dan grup pemandu sorak yang Amara ikuti juga menjadi salah satu poin penting dalam kejuaraan basket itu.


"Ya ampun! Anak basket emang pada keren ya?" puji Sandrina, teman satu kelas Amara.


Seragam boleh putih biru, tapi kalo masalah cowok, jangan tanya, mereka bisa mengenal baik wajah-wajah yang pantas buat model sampul majalah. Ya seperti Leon itu. Kakak kelas mereka.


Setelah menyaksikan keseruan anak basket tadi, kini mereka sedang duduk di kantin sekolah, bubarnya pertandingan basket seolah membuat para murid kembali pada kegiatan mereka masing-masing.


"Kalo aja Emir masuk tim basket, aku bisa kenal lebih deket sama Kak Leon," Amara kembali menyeruput es jeruknya. Tenggorokannya menjadi kering setelah satu jam bersorak ria.


"Eh iya ... Emir kenapa nggak coba ikut masuk tim basket?" Melani duduk dihadapan Emir. Dia memilih air mineral untuk melepas dahaga.


"Ya elah Mel, anak basket harus tinggi dan gesit. Emir mana masuk. Badannya aja pendek sama kurus gitu," cela Sandrina sambil melirik ke arah Emir yang masih fokus membaca sambil mendengar musik dari ipod miliknya.


"Anak pintar dan kalem juga keren sih menurut aku," Seperti biasa, pendapat Melani memang selalu berbeda dari kedua teman lainnya.


Dan benar saja, ucapan Melani barusan membuat Amara dan Sandrina diam terpaku. Bahkan, mata mereka kini mengikuti pandangan Melani yang tertuju menatap Emir dengan wajah melongo. Dan tak berselang lama, Amara dan juga Sandrina tertawa sampai terkikik-kikik.


Tertawaan kedua gadis belia itu terhenti saat Leon dan tim nya memasuki kantin. Arah mata Amara tak henti-hentinya memandangi kakak kelas yang berjalan melewatinya. Sedangkan Emir melirik ke arah Amara yang tiba-tiba bersikap aneh.


Semua mata tertuju pada anak-anak lelaki bertubuh tinggi dengan tubuh berisi dan terbentuk keras. Tak terkecuali Emir, bocah itu diam-diam memperhatikan mereka.


...----------------...


Dalam perjalanan pulang, Amara duduk terdiam tanpa kata, Emir yang duduk disebelah Amara hanya melirik sekilas.


Setelah kehebohan di kantin tadi, gadis itu langsung meminta pulang. Tanpa menunggu jemputan dari Ayah Emir, akhirnya mereka menaiki taksi berlambang burung yang melewati sekolah mereka.


Sesampainya dirumah, Amara langsung masuk ke kamarnya, sedangkan Emir mendapat tatapan bingung dari sang Ibu.


"Amara kenapa, Mir?" tanya Fatma, Ibu Emir.


"Biasa Bun ... patah hati," sahut Emir sambil berjalan santai ke arah kamarnya.


Fatma yang mendengar jawaban sang anak, malah menautkan kedua alisnya.


Didalam kamar, Emir langsung berbaring. Bahkan pakaian putih biru masih melekat ditubuh bocah itu. Sambil menerawang ke langit-langit kamar, Emir meraih kembali ipod nya dan memasang earphone pada telinganya. Lalu ia terpejam.


...Bersambung...