
...Membangkitkan Rindu...
SETELAH kepulangan Sandrina sore tadi, Amara masih tak bergerak dari tempat tidurnya--berbaring sambil menengadah ke atap langit kamarnya yang terlihat kuning kecoklatan bekas tetesan air hujan.
Bahkan pakaian yang tadi dia pakai untuk kerja sambilan pun masih menempel ditubuhnya yang ringkih.
Dia tak menyangka akan bertemu dengan Emir--setelah sekian lama pria itu tak memberi kabar, apalagi pulang untuk menemuinya. Amara sadar, bahwa dia tak sepenting itu bagi Emir.
Lengan Amara bergerak menyentuh bagian pundak yang tadi di rengkuh Emir, sambil memejamkan mata, dia mengarahkan kepalanya ke bahu kanan mililnya, kemudian dia mengendus dalam-dalam aroma Pria itu yang masih menyeruak di kemeja putihnya. Harum sekali.
"Kamu ... Amara Salim, kan?"
"Aku Emir. Emir Hamzah,"
"Masih ingat denganku?"
Menerawang jauh pada kejadian tadi, ada sedikit rasa kecewa saat dia dengan bodohnya menghindari Emir, padahal dalam relung hati terdalamnya, Amara ingin sekali bercengkrama.
Kini wanita itu seolah merasa dibangkitkan akan kenangan indah saat mereka masih tinggal di atap yang sama, bahkan tanpa sadar seperti mengembalikan kehangatan saat kedua orangtuanya masih hidup. Amara rindu sekali.
Namun sebuah rasa takut yang masih sulit Amara hadapi hingga kini, membuat wanita itu tak berani menghadapi Emir. Dia merasa hina dan malu. Bagaimana jika Emir tahu kenyataan bahwa dirinya telah .... Ah! Sudahlah. Amara seperti menggali lukanya sendiri jika mengingat kejadian nahas itu.
Berbeda dengan Amara yang seolah sedang menenangkan dirinya dari kemelut yang dia rasakan. Emir malah terlihat tak berdaya didalam sebuah kamar yang ditempati Amara selama bekerja di rumahnya sendiri. Ironis.
Saat ini Emir sedang memeluk erat sebuah koper mini bergambar burung tweety yang dia pastikan adalah milik Amara. Koper itu terakhir kali dilihat Emir saat Amara akan berlibur ke puncak bersama dua temannya--sambil merayakan kelulusan sekolah.
Dan hari itu juga merupakan hari terakhir bagi Emir melihat Amara--karena tak lama setelah itu Emir berangkat ke Jepang untuk melanjutkan Studinya. Bagaimana dia bisa lupa, kan?
Belum lagi saat Emir menyadari sebuah name tag yang bertuliskan server yang tergantung di leher Amara saat bertemu tadi--membuat dia bepikir, sekeras apakah kehidupan yang dijalani Amara selama 10 tahun ini.
Emir benar-benar menyesal atas keputusannya berkuliah di Jepang. Seandainya dia tetap tinggal bersama Amara, setidaknya wanita itu .... Haah, lagi-lagi penyesalan yang tidak berguna.
Emir bangkit dari lantai, kemudian menaruh kembali koper itu sebagaimana mestinya--tanpa bergeser satu senti pun. Lalu dia keluar dan menutup kembali kamar itu.
Tak jauh dari sana, Edo yang sedikit banyak mengetahui kisah antara Bos nya dan juga wanita bernama Amara--masih setia berdiri menunggui Emir.
"Edo ...," panggil Emir dengan suara serak.
Edo segera menghampiri Bos yang juga senior di Kampusnya dulu saat mereka berkuliah di Jepang.
"Saya, Pak" sahut Edo menatap wajah kuyu Bos-nya itu.
"Kamu bilang, Amara akan kembali di hari senin bukan?" ujar Emir sambil memikirkan sesuatu. "Tolong kamu ke Apartemen saya, bawakan beberapa pakaian dan juga keperluan yang biasa saya gunakan" lanjut Emir.
Edo hanya terdiam sambil mencerna situasi. "Anda ... berniat tinggal disini, Pak?" tebak Edo.
"Bawakan saja, Do!" tegas Emir yang mengacuhkan pertanyaan Asistennya.
Edo masih bergeming ditempatnya, pria berwajah kaku itu tampak menarik dahinya hingga membuat sebuah kerutan. Dia sudah menebak rencana Emir yang akan tinggal disini secara diam-diam, dan itu bahkan terlihat seperti penguntit. Membayangkannya saja, Edo sudah bergidik ngeri.
"Mohon maaf, Pak," Edo menginterupsi. "Saya rasa, saya punya rencana yang lebih baik agar Mbak Amara tidak kabur lagi saat bertemu dengan Anda," ungkapnya.
...*Bersambun**g*...