Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
145| Istilah Balas Budi



SETELAH memastikan Aidan dipindahkan ke ruangan yang sama dengan Amara, Emir pun meninggalkan keduanya bersama Melani yang datang berbarengan dengan Aidan yang dipindahkan tadi.


Sedangkan Emir, kini berada disebuah ruangan bersama Beryl dan beberapa orang lainya. Mereka tengah mendengarkan sebuah pernyataan mengejutkan dari mulut seorang Panca Tanuwijaya.


"Ada yang mengincar kendaraan putri saya," ujar Panca hari itu.


Putrinya -- Sandrina, adalah seorang desainer ternama yang sedang mempersiapkan pagelaran besar dengan karya fantastisnya. Jadi wajar jika Panca merasa ada yang iri dengan putri bungsunya itu.


Panca meletakkan sebuah foto hasil dari rekam cctv yang didapat orang suruhannya.


"Dia adalah orang yang menabrakan mobilnya ke arah kendaraan putri saya," lanjut Panca lagi sambil menyodorkan sebuah foto ke atas meja. "dan ini hasil rekaman sebelum kecelakaan itu terjadi" lanjut pria paruh baya yang wajahnya kaku menahan emosi.


Saat yang lain menyaksikan tampilan video dimana sebuah mobil bak sengaja menabrak kendaraan yang dikemudikan Sandrina, Emir malah sibuk memindai gambar wajah yang tercetak pada lembaran foto itu,"


"Sukardi?" gumam Emir dengan kening berkerut.


"Kamu mengenalnya?" Panca yang mendengar suara Emir langsung memusatkan perhatiannya pada pria muda itu.


Emir mengangguk. "Mantan supir saya," beritahu Emir.


Sontak semua orang yang sedang menyaksikan video di detik-detik kecelakaan itu terjadi mengalihkan atensinya pada Emir.


...▪︎▪︎▪︎...


Sudah dua minggu sejak kepulangan Amara dan Aidan dari rumah sakit. Kini terlihat Amara sedang berada dikamarnya, dengan langkah yang hati-hati, wanita itu berjalan menuju lemari bajunya.


Langkahnya masih tertatih, dan wanita itu masih didatangi Terapis untuk sesekali melakukan latihan agar dapat kembali berjalan dengan normal.


"Kenapa nggak telepon Aku?"


Sebuah suara datang dari arah pintu yang sedikit terbuka. Emir berjalan cepat menghampiri Amara yang sedang meraih pakainnya yang terlipat di lemari paling atas.


Amara menoleh ke arah Emir, pria itu mengambilkan pakaian yang tadi hampir disentuh wanita itu.


"Aku nggak pernah merasa kamu repotkan," kata Emir sambil memapah Amara ke ranjangnya.


"Aidan sedang apa?" tanya Amara yang sudah duduk sambil memangku bajunya. Wanita itu masih masih mengenakan baju handuknya.


"Lagi disuapin sama Bunda," ujar Emir yang duduk disebelah Amara.


Setelah kedatangan Ibunya Emir ke Jakarta, wanita itulah yang mengambil alih untuk merawat Aidan. Sedangkan Ayah Emir langsung kembali ke Majalengka setelah satu minggu berada di Jakarta.


Dibalik rasa syukurnya karena Fatma kini telah bersamanya, Amara pun merasakan sungkan diwaktu yang bersamaan. Dia khawatir dirinya dan sang anak terlalu merepotkan wanita yang dulu pernah mengurus Amara sedari wanita itu berusia lima tahun.


Melihat Amara yang mengehembuskan nafas berat, Emir paham. Amara merasa tak enak hati.


Emir mengelus dahi Amara yang berkerut. "Mikir apa sih?" tanya Emir mengurai kerutan di dahi wanita itu.


Emir masih ingat betul pertemuan pertama sang Ibu dengan wanita pujaanya ini setelah bertahun-tahun tak bertemu. Tak ada kalimat yang terlontar, hanya air mata disertai isakan tertahan saja yang memenuhi ruangan dimana Amara dirawat sejak satu bulan yang lalu.


Dengan sigap. Fatma mengambil alih tanggung jawab merawat Aidan dan Amara yang saat itu berada dalam satu kamar.


Emir bangga terhadap Ibunya yang tak menanyakan apapun dan hanya fokus merawat dua orang yang dicintainya.


Walau Emir tau betul sepenasaran apa sang Ibu dengan kondisi Amara yang terlihat memprihatinkan. Namun, wanita yang sangat sayang pada Amara itu bisa menahan diri untuk tak bertanya.


"Apa Ayah nggak keberatan kalau Bunda terlalu lama disini, Mir?" tanya Amara menatap Emir yang sedari tadi tak lepas memandang Amara.


Pertanyaan Amara yang diselimuti kekhawatiran itu tentu saja tak jadi persoalan bagi orang tua Emir.


Fatma yang menyayangi Amara seperti anak kandungnya sendiri itu memang sudah lama menantikan hari ini. Hari dimana mereka kembali bertemu. Walau dengan kondisi yang tak diharapkan, namun Ahmad dan Fatma berjanji akan merawat Amara dan Aidan dengan segenap jiwa dan raga. Mengingat mendiang orangtua dari gadis itu sudah memberikan masa depan cerah untuk Emir, sampai putranya menjadi lelaki mandiri dan sukses.


"Setelah kamu benar-benar pulih, kita akan tinggal sementara di Majalengka. Kamu siap?" Pernyataan Emir barusan tentu saja membuat Amara bahagia. Walaupun pada akhirnya dia akan kembali meninggalkan rumah masa kecilnya di Jakarta. Tapi asalkan bersama Fatma, Amara merasa sosok mendiang sang Ibu selalu bersamanya.


...Bersambung...