
23 Tahun yang lalu
SEORANG anak perempuan dengan bingkai kaca mata tebal dan juga potongan rambut menyerupai anak lelaki -- duduk menyendiri disebuah kursi berwarna merah -- di sebuah ruangan yang dihias ramai penuh warna, dengan berbagai pernak-pernik yang terpasang di tembok serta di langit-langitnya.
Seolah kontras dengan dirinya, pemandangan di kursi depan anak itu memperlihatkan seorang anak pendatang baru yang katanya pindahan dari Luar Negri.
Anak baru itu terlihat ceria dan dikelilingi banyak teman-teman seusia mereka. Katanya anak itu adalah anak dari seorang pejabat penting di Negara ini.
Setiap datang kesekolah, anak baru itu selalu diantar orang tuanya -- Ayah dan Ibunya. Berbeda dengan anak berkacamata itu yang selalu diantar sopir -- sendirian.
Helma Paradisa. Anak berusia lima tahun yang tak mendapat nama besar dari keluarga Ayahnya karena statusnya yang sebagai anak haram.
Ibu dari Helma dulunya adalah seorang perempuan malam yang bekerja di sebuah Kelab khusus yang menawarkan jasa plus-plus. Hubungan satu malam dengan sang Ayah yang ternyata adalah anak konglomerat melahirkan seorang bayi tak lain adalah dirinya.
Setelah Adisti -- nama perempuan yang melahirkan Helma itu meninggal. Sang Ayah terpaksa membawa Helma yang saat itu masih berusia tiga tahun pada keluarga besarnya
Kedatangan Helma yang diketahui adalah anak dari seorang pelac*r, membuat Keluarga besar dari sang Ayah begitu membencinya. Semua kekesalan keluarga itu dilemparkan pada Helma yang tak tahu apa-apa.
"Dengar anak haram! Jika kau mau diterima dikeluarga ini, maka berjuanglah! Lakukan apa pun untuk bisa bertahan agar kau di akui disini,"
Sebuah kalimat yang tidak dimengerti anak usia lima tahun itu begitu terngiang-ngiang dan seolah menjadi sebuah sugesti sebagai pegangan hidupnya.
Helma kecil yang tak mendapat kasih sayang dikeluarga sang Ayah -- tak ingin diperlakukan sama diluar rumah. Makan sejak itu, Helma selalu menjadikan kehidupan Amara Salim sebagai parameter hidupnya. Dia ingin mendapatkan kehidupan seperti anak itu, pikir Helma.
Kemanapun Amara bersekolah, Helma selalu masuk disekolah yang sama dengan gadis itu. Dari tahun ke tahun anak yang bernama Amara itu semakin terlihat bersinar. Teman-teman dari gadis itu pun banyak, tidak seperti dirinya yang sulit memiliki teman.
Padahal jika ingin dibandingkan, Helma memiliki paras cantik yang tidak main-main, berbeda dengan perempuan bernama Amara yang menurutnya biasa saja. Bentuk tubuh Helma juga bisa dibilang sempurna. Oleh karenanya saat dia sudah memasuki SMA -- Helma mulai merubah penampilannya. Dia berharap bisa menempati posisi gadis itu yang selalu dikelilingi banyak teman.
Suatu hari Helma tak sengaja mendengar pembicaraan Amara dengan seorang lelaki yang ternyata juga satu kelas dengan mereka.
Dari pembicaraan itu Helma baru sadar, bahwa selama ini ada sosok lelaki yang sedari dulu bersama Amara. Dan ternyata lelaki yang bernama Emir itu memiliki peran ganda -- pelayan dan pengasuh. Begitulah anggapan Helma.
Dari kejadian itu Helma yakin, bahwa yang membuat Amara bisa bersinar selama ini adalah keberadaan lelaki yang bernama Emir. Dan jika Emir berpindah dipihaknya, maka Helma yakin dia bisa bersinar melebihi Amara -- yang menurutnya tidak pantas menerima semua itu karena sikap sombong dan angkuh dari perempuan manja itu.
Dan dugaan Helma ternyata benar. Kini terbukti setelah kepergian Emir ke Jepang, Amara semakin terjatuh -- perempuan sombong, manja nan angkuh itu tak ada apa-apanya tanpa Emir.
Dan kini dengan beraninya, perempuan didepannya ini mendatangi Emir untuk mengemis kehidupan sempurna dengan harapan anak haramnya mendapatkan kasih sayang dari lelaki yang selama ini sudah Helma bantu sampai sedemikian rupa hingga sukses mendirikan perusahaan bersama-sama.
"Apakah karena Emir tak tertarik padamu sebagai lawan jenis?" pancing Amara saat melihat Helma tak juga menjawab pertanyaanya.
"Diam Kau perempuan kotor!" pekik Helma sambil mendorong Amara sampai punggung wanita itu terbanting ke didnding.
"Kau hanya perempuan sampah yang mengais kehidupan bak putri pada orang lain!" maki Helma.
Amara tersenyum. "Setelah parasit ... ternyata sebutan untukku masih ada ya?" tanya Amara dengan senyum sinisnya.
Helma semakin menekan bahu Amara dan mencengkram kuat dengan kuku-kuku tajamnya.
"Parasit, kotor, sampah ... lantas apalagi yang bisa keluar dari mulutmu, Helma?" ujar Amara masih bisa menahan emosinya.
"Kau perempuan hina yang menjual tubuh kotormu untuk mendapatkan kedudukan tinggi! Dan anak yang kau lahirkan itu adalah bukti bahwa Tuhan sudah murka dengan kelakuan busukmu, pelac*ur!!"
BUG!
Tepat setelah Helma mengatakan itu. keduanya pun terjatuh ke lantai toilet.
...Bersambung...