
EMIR menduduki sebuah kursi kayu dengan tubuh tegap. Didepannya ada seseorang yang juga sedang duduk dengan wajah tertunduk. Mereka duduk berhadapan dan hanya dibatasi oleh sebuah meja kayu yang sudah usang.
Helma ... wanita itu adalah sosok yang beberapa bulan ini mulai berubah. Atau memang seperti itu sifatnya. Entahlah, Emir sudah tidak bisa berasumsi.
Emir menatap lekat sosok wanita yang pernah dikaguminya karena kepintarannya, serta memiliki selera yang sama dalam pola pikir membuat Emir nyaman untuk melakukan kerjasama dalam membangun bisnis bersama wanita itu.
Saat mengetahui bahwa kecelakaan yang menimpa Amara, Aidan dan Sandrina didalangi oleh wanita dihadapannya. Emir sungguh tidak menyangka.
"Kau sudah bertindak terlalu jauh," ujar Emir.
Saat mengatakan hal itu, Emir tidak terdengar marah apalagi menggeram. Ekspresinya datar saja, seperti hilang selera.
Penyelidikan yang dilakukan polisi setelah mendapat laporan dari Ayah Sandrina membuat Helma harus mendekam di penjara. Wanita itu terbukti menjadi dalang atas kecelakaan yang menimpa seorang putri dari salah satu orang yang berkuasa di Negeri ini.
Panca Tanuwijaya mengerahkan kekuasaannya untuk menjebloskan Helma dan juga kaki tangannya yang sudah berani membuat putrinya cacat.
Ya. Sebelah tangan dan kaki Sandrina patah. Dan hal itu membuat Sandrina tidak bisa melanjutkan karirnya di dunia fashion sebagai perancang terbaik dari Indonesia yang namanya sudah mulai dikenal dipenjuru Eropa.
"Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal yang mengerikan!"
Helma yang mendengar kalimat yang dilontarkan Emir sontak langsung mengangkat kepalanya serta menatap lelaki yang sudah lama dia sukai. "Mengerikan kamu bilang?" tukas Helma yang tak terima.
Penampilan Helma yang biasanya elegan dan terkesan intelektual sudah tidak terlihat. Dengan balutan baju khas tahanan serta wajah pucat dengan rambut yang diikat asal membuat penampilan wanita itu semengerikan perbuatannya.
"Memperdaya mantan supirku untuk melakukan kejahatan sampai membuat orang cacat, apa namanya kalau bukan mengerikan?" Emir masih berbicara dengan tenang. Namun, terdengar sadis.
"Jadi benalu itu cacat?!" Helma berujar sarkas. "Aku bisa sedikit tenang kalau begitu," katanya lagi. Kini dengan bangga wanita itu menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan bersandar di kursi itu. Sikapnya sungguh arogan. Dia lupa dimana dirinya sekarang dan tak sadar dengan sebutan baru sebagai pesakitan.
Emir yang sudah muak melihat Helma dengan tingkahnya, langsung berdiri. Dia sudah menahan diri sejak awal untuk tidak mencekik leher wanita itu. Dia masih mencoba bepikir jernih dan mengingat bahwa mereka pernah menjadi partner kerja yang hebat.
Lelaki yang kini hanya memakai kemeja biru langit dengan lengan terlipat sampai siku serta mengenakan celana formal itu langsung berbalik tanpa lagi menatap Helma.
"Kenapa kamu lebih memilih si benalu yang sekarang sudah cacat itu?!" pekik Helma membuat Emir yang baru berjalan beberapa langkah terhenti.
Emir membalikan badannya. Dia pikir tak apalah melihat raut Helma sekali lagi. "Sejujurnya aku tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, tapi simak ini baik-baik! Dari awal, Amara bukanlah pilihan. Tapi dia adalah tujuanku. Apa yang aku lakukan selama ini hanya untuk dirinya. Izekai atau apapun itu kedepannya, aku lakukan hanya karena dia!"
Sejenak Emir mengambil nafas untuk menormalkan emosinya. Katakanlah dia sudah gila atau berlebihan dalam mencintai Amara. Tapi bagi Emir, tidak ada yang bisa menggambarkan sebesar apa rasa sayangnya terhadap wanita yang sudah dia kenal selama hampir 24 tahun itu.
"Ah! Dan satu lagi. Kejahatan yang sudah kau lakukan tidak membuat Amara dan putraku menjadi cacat. Kau telah salah target dan salah berurusan dengan orang. Yang menjebloskanmu beserta suruhanmu secepat ini adalah Ayah dari Sandrina. Tentu kau tau siapa beliau. Dan berhenti mengatai Amara benalu. Ini adalah terkahir kalinya. Aku harap kau dapat merenungkan diri selama kau disini. Selamat tinggal!"
Setelah berkata panjang lebar dengan menahan diri agar tidak bersikap diluar batas, Emir pun berlalu pergi meninggalkan Helma yang tak beraksi.
Akan tetapi beberapa saat kemudian ...
"Kamu brengsek Emir! Dari dulu dan selamanya kamu hanya bisa menempel pada oranglain untuk mendapatkan keuntungan! Bajingan!" Helma memekik histeris sampai dua penjaga menyeretnya kembali kedalam sel tahanan.
Emir hanya mendengar sayup apa yang dilontarkan Helma. Dia hanya bisa tersenyum masam. Apa yang dituduhkan wanita itu ada benarnya. Emir berpikir bahwa selama ini dia memang bertingkah seperti parasit, tapi hanya kepada Amara.
...Bersambung...