
SENTUHAN di bibir keduanya semakin intens dan menuntut. Walau Amara terkesan kaku, tapi Emir bisa membawa wanita itu jauh lebih rileks.
Saat sentuhan itu semakin dalam, tiba-tiba ...
"Papa!" suara bocah lelaki terdengar berlari menuju ruangan dimana terdapat dua insan yang tengah lupa sejenak atas kenyataan.
Segera Emir dan Amara melepas pagutan mereka. Amara terlihat salah tingkah, tapi Emir senang melihat reaksi wanita itu. Lalu tanpa aba-aba, Emir mencium kening Amara begitu dalam.
"Jagoanku sudah memanggil" kata Emir sambil meringis, setelah mencium kening Amara.
Seketika hati Amara menghangat.
Jagoannya?
Itu yang dikatakan Emir.
"Hai Boy!" sambut Emir yang sudah berdiri untuk memeluk dan menggendong Aidan--anak Amara.
"Mom Melani sudah menyiapkan makan siang! Ayo, Pa," ajak Aidan yang masih berada didalam gendongan Emir, sambil menunjuk ruang makan.
Emir menoleh ke arah Amara yang masih duduk salah tingkah, kemudian Emir menjulurkan tangan kanannya ke arah Amara. "Ayo," ajaknya. Meminta wanita itu meraih jemarinya.
...▪︎▪︎▪︎...
Ketika malam menjelang, Emir terlihat sedang berbincang serius dengan Beryl--suami Melani yang baru saja tiba. Keduanya memilih berbincang di ruang kerja Beryl.
Lain halnya dengan Emir. Amara sedang berada dikamar sambil menidurkan Aidan. Wanita itu masih mengingat bagaimana perlakuan Emir padanya. Amara tak tahu jika seorang Emir yang dia kenal pendiam bisa bersikap agresif padanya seperti tadi.
Ah. lagi-lagi Amara berdesir jika mengingat ciuman yang menurutnya panas itu.
Belum lagi saat dia melihat interaksi Emir dan Aidan sepanjang hari ini yang begitu natural. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Jujur saja, Amara senang sekali melihat Aidan begitu menempel pada Emir. Dan dia juga bersyukur Emir tak bersikap kaku dengan putranya.
Serta panggilan 'Papa' yang disematkan Aidan pada Emir. Dan pria itu dengan sepenuh hati tak keberatan dipanggil 'Papa' oleh seorang anak yang bukan darah dagingnya.
Jika memikirkan ini, Amara menjadi sedih. Tapi tak dipungkiri ada rasa tenang yang tiba-tiba menyelimuti kalbunya.
"Apa yang dia pikirkan tentang kami?" gumam Amara yang heran dengan sikap Emir yang baru dia tau.
"Emir akan membawa kalian pulang,"
Sontak Amara yang sedang menepuk-nepuk paha Aidan membelalak saat Melani mengatakan itu.
"Maksud kamu?" Amara terlihat penasaran. Itu terbukti dari gerakan Amara yang langsung duduk tegak menghadap Melani yang kini duduk disebelahnya.
"Emir akan mengurus kepindahan Aidan," terang Melani. "Kamu dan Aidan akan kembali ke Jakarta," ujarnya lagi antusias.
Ada guratan bahagia di wajah Amara saat mendengar Emir akan memboyong Aidan. Tapi tak lama raut wajah Amara berganti muram.
Sebelum menemui Amara ke kamarnya, Melani sempat ikut berbincang sebentar bersama Beryl dan Emir diruang kerja suaminya itu. Karena merasa ikut bahagia, Melani buru-buru menemui Amara untuk memberitahukan kabar gembira ini pada sahabatnya.
"Hei. Semua akan berjalan dengan baik," ucap Melani yang mengerti kekhawatiran sahabatnya. "Aku percaya pada, Emir!" tegas Melani mencoba menyalurkan keyakinannya pada Amara dengan mengelus bahu ringkih wanita dihadapannya.
"Apa aku pantas--"
"Kau berhak bahagia dan hidup tenang bersama Aidan. Emir akan menjamin itu, sayang," sergah Melani.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Amara.Bahwa hal seperti ini akan terjadi padanya dan juga sang putra. Emir akan membawa mereka pulang.
"Apakah ciuman Emir tadi siang kurang meyakinkan?" goda Melani yang membuat Amara melotot dengan wajah merah merona.
"Aku tak sengaja melihat kalian tadi, Hahahaa ...," tawa Melani yang lumayan nyaring membuat Aidan melenguh dari tidurnya. "Ups! Sorry" ujar Melani sambil menutup mulutnya untuk meredam rasa gembira.
Melani kembali menatap Amara dengan serius. Lalu kedua lengannya merengkuh bahu Amara di kanan kirinya.
"Ini waktunya kamu melangkah. Jangan sampai ada penyesalan seperti saat Emir memutuskan pergi ke Jepang tanpa tahu perasaanmu yang sebenarnya."
Melani kembali mengingatkan kejadian sepuluh tahun lalu. Saat Amara meraung dan menyesali tidak mengungkapkan isi hatinya kepada Emir.
"Berbahagialah." Tatapan tulus Melani begitu tersampaikan. "Kau berhak mendapatkannya!" yakinnya lagi.
Dibalik pintu kamar, samar-samar Emir menguping pembicaraan itu. Dan kini Emir semakin yakin dengan keputusannya.
...Bersambung...