Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
22| Promise



...Promise...


SEKETIKA mulut Emir menganga. "Memang kapan kamu belajar masak?" tanya Emir bernada tak percaya. "Bukannya ini ... masakan Bunda?" tanyanya lagi dengan menyelidik.


Saat mendengar nada bicara pria yang duduk disampingnya, Amara menatap sinis. "Jangan suka meremehkanku!" ketusnya.


Saat melihat raut wajah gadis itu yang semakin kesal atas perkataanya, Emir buru-buru menyela, "Aku nggak pernah remehin kamu," ungkapnya sambil menoleh ke wajah gadis itu. "Aku cuma penasaran, kapan kamu belajar masak sampai bulatan kuningnya terlihat begitu sempurna dengan memancarkan kilauan," puji Emir bersungguh-sungguh.


Pujian Emir yang berlebihan dan terkesan serius itu, membuat Amara menarik sedikit bibirnya. Dan Emir melihat itu.


"Kalau senyum jadi tambah manis," gombal pria itu.


"Berisik! Sekarang kamu bawel!" tegas Amara yang melipat kembali senyumnya.


"Sekarang kamu jadi pendiam," timpal Emir.


Seketika keduanya terdiam. Seolah ucapan Emir barusan mengingatkan hubungan dingin keduanya yang berlangsung hampir empat hari.


"Aku nggak bisa didiemin sama kamu sampai berhari-hari, Ra" ungkap Emir. "Coba kamu bilang, dimana letak sikapku yang bikin kamu kesel" imbuhnya lagi. "Aku akan coba perbaiki" janjinya kemudian.


Amara masih terdiam, tapi batinnya bergejolak. Sebenarnya, Emir memang tidak melakukan apapun secara disengaja yang membuat dirinya kesal.


Namun, kalimat provokatif yang diucapkan teman-teman sekelasnya itu membuat Amara benci, dan sialnya malah Emir yang jadi sasaran.


Akan tetapi sikap seorang gadis yang bernama Helma itu terlihat ingin mendominasi Emir saat presentasi pelajaran Biologi. Amara dapat merasakan itu. Dan Amara tak suka. Seperti sesuatu yang berharga direbut darinya.


"Amara ...," lirih Emir saat gadis itu diam saja.


"Kamu nggak salah kok, Mir" sahut Amara. "Aku cuma lagi belajar mandiri" ungkap gadis itu sambil menatap kotak makan siangnya.


Emir mengerutkan keningnya, "Belajar Mandiri?" tanya pria itu mengulang ucapan Amara. Dan gadis itu langsung mengangguk.


"Selama ini aku selalu mengandalkan kamu, Apa-apa harus minta tolong kamu. Aku jadi seperti manusia lumpuh," jelasnya, sambil memainkan bulatan telur kuning menggunakan garpu di bekal makan siangnya.


"Walau begitu, aku ... jadi tidak bisa apa-apa, Mir" lirih Amara.


Seketika Emir teringat ucapan Papa Amara, yang begitu mengkhawatirkan sikap putrinya yang terlalu bergantung padanya.


"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan bantu kamu. Biar mandiri" usul pria itu. "Sampai kamu bener-bener bisa melakukan semua itu, walau tanpa aku" janji Emir terdengar pilu.


Seketika Amara memandang wajah Emir.


Apa aku bisa. Batin Amara merasa tak yakin.


Seolah bisa membaca pikiran gadis yang ditatapnya, Emir berkata, "Kamu pasti bisa. Buktinya tadi, Pak Bonar mengakui keahlian kamu. Padahal aku nggak bantu sama sekali. Iya kan?!" ujar Emir.


Dan saat mendengar ucapan itu, entah mengapa Amara merasa bahwa pria dihadapannya terdengar seperti sedang memujinya.


Saking senangnya, sampai tak terasa sebuah garpu menusuk kuat ditempat gadis itu memainkannya sedari tadi.


"Yah!"


Sesal keduanya saat melihat kuning telur itu robek dan mengeluarkan lelehan kuningnya.


Dan dari arah punggung ke dua remaja itu, ternyata ada Sandrina yang berdiri cukup lama, gadis itu berjalan ke arah mereka lalu memutari meja dan duduk dihadapan keduanya.


"Nah, gitu dong. Kalo kalian akur ... aku jadi nggak perlu anter jemput tuan putri" sindir Sandrina.


Ucapan Sandrina barusan membuat kedua bola mata Amara, memutar malas.


"Nah ... sekarang kita bahas rencana yang kemarin, Ra" kata Sandrina yang membuat Amara menahan nafas. "SevenTeen Birthday Party" jelas Sandrina yang membuat Amara menatap tajam sahabatnya itu.


...Bersambung...