Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
81| I Finally Found You



KENDARAAN Melani telah sampai di kawasan Surry Hills--pemukiman di pinggiran kota Sydney, Australia.


Begitu mobil itu berhenti di pelataran rumah, Aidan langsung keluar dari mobil dan berlari menuju pintu rumah.


"Mir," Melani yang masih duduk dikemudi mengarahkan tubuhnya menghadap Emir yang sedang bersiap turun dari mobil di kursi belakang. Sontak Emir menghentikan gerakannya lalu menaikan kedua alisnya yang tajam dan berwarna hitam ke arah Melani. "Ingat permintaanku yang tadi, kan? Untuk tidak--"


"Aku paham, Mel" sela Emir--mengangguk mantap. "Aku hanya merindukannya," lanjut Emir dengan senyum yang sedari tadi tak pernah pudar dari wajahnya.


Melani hanya ingin mengingatkan Emir untuk tidak membahas obrolan seputar masa lalu Amara, kecuali Amara yang memulainya lebih dulu.


Didalam rumah, Aidan berlari mencari Amara. "Mama!" panggil Aidan saat melihat Amara muncul dari ruang makan. "Come here!"(Ayo sini!) ajak bocah itu sambil menarik lengan Amara untuk mengikuti langkah kakinya yang sedikit berlari.


Aidan terkadang berkomunikasi menggunakan dua bahasa--Indonesia-Inggris. Ini berkat Melani yang selalu menerapkan komunikasi dirumah mereka dengan ke-dua bahasa itu. Dan bisa dikatakan Aidan termasuk fasih dalam berbicara dan memahami bahasa Indonesia.


"Ada apa, Aidan?" tanya Amara disela-sela langkah cepatnya mengikuti sang anak.


"Papa menjemput kita!" ujar Aidan dengan antusias.


Amara hanya mengerutkan keningnya.


Papa?


Siapa yang anaknya maksud?


Amara benar-benar kebingungan dengan tingkah Putranya yang tak biasa itu.


Saat sampai di ruang tamu, tiba-tiba Amara menghentikan langkahnya--sampai membuat Aidan ikut berhenti dan berbalik ke arah sang Ibu yang terlihat akan bersimbuh dilantai untuk menyamai tinggi Aidan.


"Aidan, bicara yang jelas ... Mama tidak paham," ujar Amara sambil memegang kedua bahu Putranya dengan mengusap lembut.


"Papa--datang--menjemput--kita, Mam," beritahu Aidan dengan bicaranya yang sengaja di eja, agar Amara paham maksudnya.


Tak lama pintu depan terbuka. Terlihat Melani dan Rossie muncul dari balik pintu itu. Aidan dan Amara menoleh secara bersamaan--saat itulah muncul sosok yang tak asing bagi Amara. Pria bersurai hitam dengan garis wajah yang tegas serta selalu berpakaian rapi.


"Itu Papa!" Tunjuk Aidan ke arah Emir yang berjalan mengikuti Melani.


"Emir?" gumam Amara disaat Aidan menunjuk pria itu.


Melani hanya terpaku saat melihat Amara yang terkejut.


"Aku akan keatas dulu, mengganti seragam Rossie," kata Melani pada dua teman lamanya--Amara dan Emir. "Ayo, Aidan. Kau juga harus berganti pakaian," ajak Melani pada bocah lelaki itu.


Amara dan Emir hanya pasrah melihat Melani dan kedua bocah dikanan-kirinya yang semakin berjalan menjauh menaiki undakan tangga.


Kini Emir yang masih mematung didepan pintu mengalihkan pandangannya ke arah Amara dengan tatapan sendu. Pria itu terlihat kacau saat mengetahui Amara telah pergi dari rumah saat dia baru selesai melakukan perjalanan ke Jepang untuk bertemu Investor baru--beberapa hari yang lalu.


"Gimana bisa ... kamu--" lirih Amara yang bingung harus berkata apa.


Bagaimana mungkin Emir tau keberadaanya di Negara ini--Australia.


Ah tidak. Bukan itu yang terpenting.


Aidan.


Mengingat Aidan menunjuk Emir dan menyebut pria itu dengan sebutan 'Papa', bukankah itu artinya ...


"I finally found you ,(Akhirnya ku menemukanmu)" ucap Emir--sendu.


...Bersambung...