Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
105| Banyak Mulut



SUKARDI berjalan mendekat ke arah Amara dan Lastri sambil membawa satu tentengan plastik merah besar.


"Kalian saling kenal?" tanya Sukardi dengan wajah menelisik.


Terlihat Lastri ingin menyahuti. Tapi pria yang bekerja sebagai supir itu langsung menyodorkan plastik merah ke tubuh Amara.


"Dunia memang tak selebar daun kelor. Sesama pembantu pasti saling kenal," sindir Sukardi.


Lalu pria itu berbalik badan dan berjalan ke arah pos penjaga.


Lastri yang melihat tingkah pria paruh baya yang baru dikenalnya, cukup geram saat melihat prilaku Sukardi.


"Masih ada barang apa lagi?" tanya Amara.


Lastri menoleh ke arah majikannya itu. Lalu mengambil pelastik merah yang masih dipeluk Amara.


"Sudah .... Non Amara masuk saja. Biar saya yang bereskan," pinta Lastri.


Amara terlihat ragu. "Biar saya bantu, Bik," kata Amara.


Wanita itu pun berjalan menuju bagasi mobil untuk membawa sisa barang-barang. Lastri pasrah dan hanya mengikuti dari belakang.


Sebenarnya banyak sekali rasa penasaran yang membuat Lastri ingin bertanya tentang kehidupan Amara yang kini kembali menjadi majikannya. Namun, dia teringat pada ucapan Emir.


"Bik Lastri, bersikap biasa saja. Jangan banyak menanyakan tentang Amara saat bertemu nanti,"


Pesan Emir saat menawarkan dirinya untuk kembali bekerja pada Kediaman Andar Salim beberapa minggu lalu -- masih terngiang. Dan untuk menghilangkan rasa penasarannya, Lastri pun memutuskan untuk menutup rasa keingintahuannya.


"Padahal saya juga punya keponakan yang pintar bekerja. Masih muda dan cantik lagi. Saya yakin keponakan saya tidak akan seenaknya saja seperti kamu," pekik Sukardi.


Pria itu duduk didepan pos jaga masih memperhatikan Amara yang mengeluarkan beberapa tas di dalam bagasi mobil.


Lastri yang mendengar perkataan pria itu benar-benar geram.


"Bukan saya yang bayar, Bik. Tapi Emir," beritahu Amara.


"Tapi kan tetap saja, Non. Den Emir melakukan itu atas nama Non Amara," ujar Lastri menatap tajam ke arah Sukardi.


"Kalian gibahin saya! Iya?!" pekik Sukardi saat melihat gelagat Lastri dan Amara yang berbicara berbisik.


"Kurang ajar banget tuh orang!" geram. Itulah yang Lastri rasakan.


"Sudah, biarkan saja. Kalau diladeni, dia makin senang," kata Amara sambil menutup bagasi mobil lalu berjalan ke arah rumah.


Amara tidak mau berurusan dengan pria bernama Sukardi. Lagipula memang benar kata pria itu, status Amara memang hanya pekerja -- sama seperti Sukardi. Jadi Amara tak mau ambil pusing. Amara sudah terlalu lelah dengan hidupnya. Jadi dia tak mau menanggapi ucapan pria paruh baya itu yang akan semakin menguras energi positifnya.


Di Izekai


Emir terlihat telah selesai memimpin rapat. Beberapa investor pun telah kembali ke kantor mereka masing-masing. Kecuali satu pria yang juga teman Emir -- Andre, dia masih betah di disana.


Andre mengenal Emir dalam sebuah pertemuan bisnis yang dihadiri oleh para eksekutif muda saat di Australia -- beberapa tahun lalu.


Niatan Emir yang saat itu akan melebarkan Izekai di Indonesia, membuat Andre tertarik untuk menjadi salah satu penyumbang dana. Terlebih Indonesia adalah tempat kelahirannya juga. Dan tentu saja Andre optimis untuk menjadi rekanan bisnis perusahaan yang di bangun Emir, bahkan sampai sekarang.


"Kau tak mengundangku minum kopi di ruanganmu, Mir?" kata Andre yang mensejajarkan langkah Emir.


"Kau bisa minta ke Pantry untuk dibuatkan," sahut Emir datar.


"Hei, Bro. Aku tahu kau masih marah padaku tentang kejadian lalu," sesal Andre yang masih berjalan disamping Emir.


Perbuatan Andre yang menggunakan Apartemen Emir sebagai tempat berfoya-foya bersama beberapa wanita bayaran, membuat Emir jijik dan benci. Sampai-sampai Emir pindah dan membeli unit Apartemen baru ditempat lain. Dan mengikhlaskan Apartemen lamanya dimiliki Andre dengan cara dicicil sesuka pria itu.


"Kalau kau tau rasanya. Aku pastikan, kau juga akan ketagihan," celetuk Andre yang membuat Emir menghentikan langkahnya.


...Bersambung...