
HARI demi hari terus berlalu. Dan tidak ada hambatan berarti. Aidan -- putra semata wayang Amara pun semakin betah tinggal di Negara kelahiran sang Mama. Karena saking betahnya, Rossie -- anak Melani yang tinggal di Sydney selalu menghubungi Aidan lewat jalur video.
Rossie sangat kesal karena menganggap Aidan melupakan dirinya setelah mereka pindah ke Indonesia. Gadis kecil yang lebih muda satu tahun dari Aidan itu sudah menganggap putra Amara seperti kakak kandungnya sendiri. Dan setelah kepergian Aidan, tentu saja Rossie merasa kesepian.
Amara sendiri kini disibukkan dengan merawat diri dan belajar mengolah makanan. Emir memang tak mengijinkan dia untuk bekerja, hal itu bukan tanpa alasan, Aidan adalah salah satu faktor utama yang membuat Emir melarang wanita itu. Emir hanya ingin Amara fokus saja pada perkembangan Aidan.
Oh, iya. Sudah hampir satu minggu ini, Emir tak tinggal bersama Amara di kediaman wanita itu. Dua minggu yang lalu, Fahri -- Om dari Amara atau adik dari almarhum sang papa datang berkunjung ke rumah itu. Pria yang memiliki wajah mirip ayah dari Amara itu mengatakan pada Emir agar mereka tak satu rumah dulu sampai keduanya sah menjadi suami - istri.
Awalnya Emir keberatan. Pria itu berkilah bahwa tak ada yang menjaga Amara dan Aidan nantinya. Padahal jelas dirumah itu ada penjaga rumah, seorang supir dan juga Bi Lani yang menemani Amara dan Aidan. Namun, ucapan Fahri yang mengatakan bahwa hal itu untuk menghindari fitnah, membuat Emir mengalah, dan akhirnya pria itu kembali tinggal di Apartemennya.
"Kapan Papa pulang?"
Pertanyaan Aidan sontak membuat Emir yang tengah berbincang dengan Amara menoleh.
Saat ini Emir sedang berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dia akan pergi ke Kantor pusat Izekai yang berada di Jepang. Emir tak menjelaskan lebih terperinci alasan pria itu ke sana. Pria itu hanya mengatakan bahwa beberapa petinggi Izekai yang ada di cabang Jakarta - Indonesia pun akan pergi bersamanya, dan tentu saja di antara orang-orang itu ada Helma.
Emir membungkuk didepan bocah lelaki itu. "Papa belum bisa memastikan, Boy," ujar Emir mengelus rambut putranya. "Tapi Papa janji akan sering menghubungi kamu, oke?" janji Emir.
"Pinky promise?" kata Aidan sambil menjulurkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Emir.
Emir tertawa melihat kelakuan bocah itu. Lalu dia berkata, "Janji seorang Pria pada Pria lainnya tidak seperti itu" Emir menekuk jari kelingking Aidan kedalam, lalu dia buat tangan kecil itu terkepal. "Seperti ini! Papa janji!" tukas Emir lagi sambil menempelkan kepalan tinjunya beradu pelan dengan bocah yang kini paham dengan maksud Emir.
"Seandainya bukan masalah serius, mungkin Aku akan meminta Edo saja yang datang kesana mewakiliku," sesal Emir.
Permasalahan yang dialami perusahaannya sepertinya bukanlah perkara biasa. Itu terlihat dari para petinggi Izekai dan juga para investor yang mendapat undangan serupa. Selama bertahun-bertahun Emir bekerja keras membesarkan Izekai, dia tidak pernah mengalami kondisi seperti ini. Namun demikian, Pria itu telah menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
"Fokus saja pada urusanmu, Mir. Kami akan baik-baik saja," ujar Amara mencoba memberi keyakinan pada pria yang tengah berdiri dihadapannya.
Kalau mau jujur sih, iya. Selama ini tanpa Emir -- kehidupan Amara dan Aidan lancar-lancar saja bukan. Tapi tak dipungkiri, bahwa Emir membawa harapan baru pada kehidupan Amara, terutama Aidan -- bocah itu kini lebih ceria dan penuh percaya diri saat orang-orang tau ayahnya adalah sosok yang menciptakan produk smart watch yang dipakai seluruh teman-teman Aidan di sekolah anak itu.
Mendengar ucapan Emir dengan raut wajah kecewanya, Amara pun tak kuasa menahan tawa. Lalu dia raih pipi Emir yang mulus tanpa noda, dan beberapa detik kemudian ...
Cup!
Amara mendaratkan sebuah ciuman dekat bibir Emir. Ciuman yang sedikit menekan tapi juga lembut.
"Kamu adalah nafas untuk Aku dan Aidan. Tanpa kamu, kami mungkin akan selalu sesak," ujar Amara.
Emir menerbitkan senyum simpulnya. "Kamu makin pinter gombalin Aku, Non," goda Emir.
"Tuh kan, lagi serius malah diledek," sungut Amara yang merasa malu dengan perkataanya sendiri.
Melihat Amara yang sedikit kesal, Emir pun berbisik, "Boleh nggak sih, Aku cium bibir kamu disini"
Plak!
Amara langsung mendaratkan sebuah pukulan keras ke lengan Emir sampai pria itu mengaduh sakit
"Nanti aja, setelah kamu kembali," bisik Amara dengan nada menggoda.
...Bersambung...