
..."Terpujilah cinta yang mampu mengisi kesepian manusia, dan mengakrabkan hatinya dengan manusia lain." ~Kahlil Gibran...
SAAT mengingat bagaimana perjuangannya dulu dalam mendampingi Almarhumah sang ibu, ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruak. Namun bebunyian yang berasal dari suara perut keroncongan Amara, membuyarkan keheningan diantara keduanya.
Kruyuuk
Seketika Emir yang tengah berjongkok sambil menggenggam jemari Amara mendongak menatap wajah wanita didepannya.
Amara yang ditatap secara tiba-tiba itu tersentak. Ya ampun. Malu-maluin deh! rutuk Amara pada perutnya yang tak tau malu.
"Ah. Aku juga melewatkan makan siang," kata Emir setelah dia melihat jam di pergelangan tangannya sudah hampir memasuki pukul tiga sore.
Perkataan Emir ini seolah mewakili Amara yang juga melewatkan makan siangnya. Buru-buru wanita itu meloloskan pergelangan tangannya yang masih ditangkup Emir, lalu berdiri dan segera melangkah ke arah dapur.
"Mau kemana?" Emir ikut bangkit berdiri dan mengekori Amara.
"Makan" Amara menyahuti tanpa menoleh, dan terus melanjutkan jalannya ke arah dapur.
"Kamu mau masak?" tanya Emir, saat pria itu melihat Amara mengambil panci kecil dari dalam kitchen set.
Amara hanya menoleh sekilas, kemudian dia beralih ke kabinet lain dan mengambil dua bungkus indomie goreng. "Mau sekalian?" tawar Amara pada Emir yang masih berdiri.
Emir sebenarnya tidak suka makanan instan. Tidak sehat menurutnya. Oleh karenanya saat pertama kali pria itu datang menginap di hari libur minggu lalu--dia memerintah Edo membeli jenis daging dan sayuran untuk memenuhi lemari pendingin, agar pekerja yang tinggal dirumah ini tidak lagi memakan mie instan.
Bukan tanpa alasan Emir melakukannya, hal itu karena dia menemukan satu dus mie goreng yang ditaruh didalam kabinet makanan kering--minggu lalu.
Emir hanya berpikir bahwa pekerja itu mungkin kesulitan berbelanja, melihat bagaimana komplek mewah itu berlokasi yang tidak memungkinkan pedagang sayur lewat. Dan siapa menyangka pekerja itu adalah Amara. Hah! Emir benar-benar merasa buruk bagi wanita itu.
"Iya. Boleh, kalo kamu nggak keberatan," sahut Emir. Dia terpaksa mengiyakan, menurutnnya tak apa makan mie goreng sesekali, apalagi yang membuat adalah wanita itu. Wanita yang Emir sayang.
Emir duduk di kursi pada meja mini bar marmer yang berada dibelakang Amara, sehingga hal itu membuat Emir dapat leluasa melihat wanita itu yang tengah sibuk memasak. Walau pun hanya mie instan, tapi jika yang memasak adalah orang yang dirindukan, tentu saja terasa istimewa, terutama bagi pria itu.
Tak berapa lama Amara membawa dua piring mie goreng ke hadapan Emir. Amara mengambil kursi disebelah pria itu--menyisakan satu kursi kosong sebagai jarak diantara keduanya.
Emir terbengong saat melihat piring itu. Telor mata sapi. Batinnya menyeruak bahagia saat kembali melihat kehadiran sebuah telur yang sempurna. Pria itu jadi kangen masa mereka di-SMA. Itu adalah masakan pertama Amara saat wanita itu masih remaja.
"Nggak suka ya?" tanya Amara saa melihat Emir tak memakannya, padahal Amara sudah hampir memakan setengah porsi mie goreng miliknya.
"Makasih ya ...," ujar Emir menatap Amara.
Cuma mie goreng, apa istimewanya. Cebik Amara saat melihat sikap Emir yang berlebihan.
"Nanti malam aku yang gantian masak, ya?"
Ucapan Emir barusan sontak membuat Amara terpaku, hampir saja dia tersedak.
Apa kata pria itu? gantian masak untuk nanti malam?
Artinya Emir akan menginap malam ini bukan? Dan mereka akan tinggal di satu rumah malam ini? Seperti dulu?
Ah! Amara sebenarnya sungguh lelah bersikap biasa saja sepanjang hari ini. Padahal dia sudah menahan setengah mati untuk pura-pura tegar.
...Bersambung...