
AMARA masih duduk terpaku di lantai yang beralaskan karpet bulu dengan gambar ruang angkasa. Setelah menemani Aidan menggambar dan bermain, wanita itu meninabobokan sang putra hingga tertidur dengan lelap.
Amara termasuk seorang Ibu yang jarang bercengkrama dengan putranya. Menitipkan Aidan selama bertahun-tahun pada sahabatnya--Melani di Australia bukanlah tanpa alasan. Wanita itu terkadang masih suka bersikap frontal saat tak sengaja menatap lekat Aidan yang membuatnya terlempar pada ingatan kejadian naas beberapa tahun silam.
"Maafin Mama, Yeden," bisik Amara menyebut nama kesayangan dari anak itu. Jemarinya mengelus wajah Aidan yang pipinya mulai menggembung.
Dalam remang cahaya lampu tidur, wanita itu menatap lamat-lamat wajah seorang anak lelaki yang dia lahirkan dalam kondisi ketidakberdayaan dengan tingkat depresi tinggi yang menyebabkan anak itu lahir secara prematur.
Masih terpatri jelas bagaimana saat dulu dia diberitahu bahwa ada janin didalam rahimnya. Janin yang tidak dia inginkan. Janin yang membuat siklus kehidupannya berubah drastis. Namun, janin itu juga yang telah menyelamatkan hidupnya dari kesendirian.
Ditinggal kedua orangtuanya disaat baru memasuki usia dua puluhan membuat dunia Amara runtuh. Terlebih kemandirian yang mau tidak mau harus dia lakukan setelah hidup bak seorang putri raja--yang apa-apa terbiasa dilayani. Dia merasa terseok di awal. Kendati banyak keluarga dari kedua orangtuanya yang bersedia mengurusnya, akan tetapi Amara menolak, dia tidak mau memiliki hutang budi.
Tapi ketika dia menyadari bahwa hutang budi yang dia miliki begitu besar, terutama pada Melani yang bersedia mengurus Aidan, Amara hanya bisa menghela nafas pasrah.
Sejenak Amara mengalihkan tatapannya dari sang anak yang tengah tertidur pulas, kini ke arah sekeliling kamar Aidan.
Emir ...
Tiba-tiba terbesit wajah rupawan pria itu yang dirasanya tak pernah lepas menatap lembut padanya sejak dulu.
Emir adalah sosok lelaki yang paling ingin Amara hindari setelah kejadian pemerkosaan itu terjadi. Kini malah menjadi landasan terakhir yang menanggung seluruh kehidupan dirinya dan sang anak.
Amara baru mengetahui sebuah fakta bawa Emir sudah dipecat dari Izekai Megatech. Dan yang membuat Amara merasa bersalah adalah kenyataan itu ternyata ada sangkut pautnya dengan keberadaan dirinya.
Apakah Helma yang melakukannya? Setidaknya itulah yang terbesit dalam benaknya.
Amara sangat tau jika Izekai adalah perusahaan yang dirintis Emir saat masih berada di Jepang. Dan semua itu adalah impian lelaki itu. Tapi kini gara-gara kehadirannya, Emir harus mengalami pemecatan yang berujung harus melepaskan hasil kerja kerasnya selama ini.
"Aku memang banalu ..." Amara masih bermonolog, dia merutuki dirinya sendiri. Kini dia membenarkan semua ucapan Helma yang mengatakan bahwa dirinya adalah benalu bagi Emir--sejak dulu bahkan hingga saat ini.
Saat Amara sedang terisak, tiba-tiba punggung wanita itu merasa hanga, Amara begitu tersentak. Dan tak lama sepasang tangan memeluknya erat dari arah punggung. Lalu suara berat yang begitu dia kenali berbisik ditelinganya, "Kamu bukan benalu, Tweety ...," embusan nafasnya yang hangat menyapu leher wanita itu, membuat gelanyar aneh.
Tweety. Hanya Emir yang memberi sebutan itu bagi dirinya. Suara rendahnya, tatapan lembutnya bahkan perlakuan hangat pria itu tak pernah berubah sedari dulu.
"Kamu tujuan aku sedari awal," bisik Emir sambil mengecup pipi Amara. "Aku melakukan semua ini cuma buat kamu," tandasnya lagi, sambil mengeratkan pelukannya pada wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Amara hanya diam mematung. Sejak kapan Emir berada di kamar Aidan?
...Bersambung...