Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
25| Berita Pembatalan Pesta



...Berita Pembatalan Pesta...


SUDAH hampir 2 jam, Emir menunggu Amara didepan gerbang rumah Sandrina.


Sampai sebuah suara pria paruh baya menghampiri pria itu dari dalam gerbang.


"Den Emir." Emir terperanjat kaget dan segera menoleh. "Lebih baik pulang saja. Pasti nanti Non Sandrina yang akan mengantar Non Amara pulang. Ini sudah malam" ucapnya.


Emir tampak berpikir sejenak. Jika dia pulang tak bersama Amara, maka akan terjadi kepanikan, dan pria itu tampak bingung akan menjelaskan apa perihal kejadian ini.


Tapi jika dia tetap menunggu Amara sampai gadis itu keluar, Emir tak bisa menjamin akan selama apa, nanti. Dan bisa jadi ketidakpulangan keduanya kerumah, malah akan membuat khawatir bagi kedua Orangtua mereka, terutama Orangtua Amara.


"Baik, kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, Pak Karyo" ujar Emir pada Satpam yang usianya tak jauh berbeda dengan Ayahnya.


Sebenarnya Emir merasa khawatir jika harus meninggalkan Amara dalam kondisi seperti ini. Rasa khawatir akan takut kehilangan gadis itu selalu membayang-bayanginya sedari tadi.


Akhirnya dengan langkah berat Emir pulang dengan membawa sebuah kaos kaki Amara yang bersimbah darah.


Pria itu menaiki motor ninjanya dan mulai mengendarainya. Dan sepanjang jalan, Emir hanya menatap kosong dengan pikiranya yang dipenuhi rasa penyesalan.


Jarak rumah Sandrina yang terbilang dekat, membuat Emir tiba di rumah Amara lebih cepat.


Saat tiba dirumah yang tak kalah mewah dari rumah Sandrina, Emir melihat Orangtuanya dan juga Orangtua yang Amara sedang makan malam bersama.


"Mir, kamu baru pulang?" panggil Andar dari meja makan saat melihat anak itu datang dari arah dapur.


Emir hampir terperanjak, jantungnya kembali berdetak cepat, bahkan kini keringat dingin sudah menyelimuti tubuhnya yang setengah basah karena gerimis.


Saat Emir akan menyahut, tiba-tiba Liana--Ibu Amara menimpali, "Besok Amara berangkat dari rumah Sandrina, kamu nggak usah jemput Amara".


Pernyataan Liana barusan membuat Emir sedikit lega. Setidaknya Amara sudah mengabari keberadaanya pada Orangtua gadis itu. Dan Emir tidak perlu bohong untuk menutupi kejadian hari ini.


Keesokan harinya Emir berangkat sendiri menuju Sekolah. Namun dia tak melihat Amara dikelas.


Bahkan saat mata pelajaran olahraga pun gadis itu tak nampak batang hidungnya.


Saat istirahat tiba, Emir bergegas menuju kelas Sandrina. Namun saat dia berjalan dilorong, Emir mendengar bisik-bisik tentang pembatalan perayaan ulang tahun Amara yang tempo hari undangannya disebar melalui jejaring grup sekolah.


Karena penasaran, Emir mendekati salah satu dari anak perempuan yang tengah berbisik sambil memegang ponsel.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Emir tanpa basa-basi.


Karena terkejut dua gadis itu langsung diam terpaku. Jarang-jarang seorang Emir mau bicara dengan perempuan.


"Masa kamu nggak tau?" Bukannya menjawab, gadis dihadapan Emir malah balik bertanya.


Kemudian Emir melirik bet nama yang berada didekat dada gadis itu. "Hanin! Kamu bisa kasih tau saya kan?" desis Emir.


Seketika gadis bernama Hanin itu memperlihatkan sebuah pengumuman grup di BBM (BlackBerry Messenger) di ponsel miliknya.


Setelah membaca pesan itu, Emir segera berlari dan melanjutkan niatnya yang tadi ingin menemui Sandrina dikelasnya.


Saat sampai didepan kelas 2-E, Emir melihat gadis itu tengah berbincang tentang hal yang sama; pembatalan pesta.


Dengan langkah lebar, Emir memberanikan diri mendekat ke arah kursi dimana Sandrina duduk.


"Sandrina. Bisa kita bicara?!" ucapan Emir penuh penekanan seiring dengan tatapannya yang menajam.


Sandrina bangkit dari duduknya, dengan dagu terangkat gadis itu berjalan melewati Emir sambil berkata, "Di Atap!" ucapnya ketus.


...Bersambung...