
...My Period...
"Emir ...," lirih Amara.
"Kamu sakit?" Sekarang raut wajah Emir tak kalah pucat dari wajah Amara.
"Perutku melilit, Mir. Ugh!" rintih Amara sambil memegang perutnya.
"Aku anter ke UKS, yuk" ajak Emir. Namun Amara menolak. "Kenapa?" tanyanya lagi.
Kemudian Amara menarik kepala Emir yang sedari tadi berjongkok disebelah kursi yang Amara duduki.
Dengan perlahan Amara mendekatkan bibirnya didaun telinga Emir, lalu berbisik, "Aku tembus, Mir. Rok milikku ada banyak bercak darah"
Sontak Emir melihat ke arah rok Amara. "Kok bisa?" tanya Emir dengan berbisik.
"Aku nggak inget hari ini jadwal mens. Lupa bawa pembalut." bisik Amara dengan wajah memucat.
Setelah mendengar perkataan Amara, Emir berdiri lalu pergi bersama Panca dan meninggalkan Amara sendirian dikelas.
Jam istirahat sudah selesai, semua murid pun memasuki ruang kelas. Emir datang membawa satu kantung kanvas berwarna merah, lalu pria itu mendekat ke arah Amara.
"Bisa jalan nggak?" lirih Emir. "Ganti sama ini dulu, abis itu aku anter kamu pulang" ujarnya kemudian sambil menyodorkan kantung itu.
Amara melihat kedalam kantung yang diberikan Emir, ada satu pack pembalut dan pakaian dalam wanita.
Apa Emir beli pakaian dalam buat aku? batin Amara.
"Tapi rok nya banyak darah" lirih gadis itu.
Kemudian Emir meraih jaketnya dan memberikan itu pada Amara. "Tutupin pake ini" ucap Emir, dan Amara menuruti.
Sesaat Amara berdiri, ternyata dikursi yang gadis itu duduki juga terdapat bekas darah yang menempel, dengan segera Amara mengambil tisu basah dari dalam tasnya, lalu membersihkan bercak darah itu.
Gerak-gerik kedua remaja itu tak luput dari perhatian teman-teman satu kelas mereka. Tanpa menggubris pandangan penuh tanda tanya. Emir langsung menggandeng Amara berjalan keluar kelas.
Emir menunggu Amara didepan toilet. Tak lama berselang, gadis itu keluar dengan wajah lega. Tak sepucat tadi.
"Kamu beli celana dalem, Mir?" tanya Amara tanpa ragu. Dan Emir mengangguk. "Kamu udah ijin sama guru?" tanya gadis itu lagi. Emir pun kembali mengangguk.
Kemudian keduanya menuju parkiran sekolah.
"Perut kamu nyaman nggak, buat naik motor?" tanya Emir yang masih terdengar khawatir. Dan Amara mengangguk.
Akhirnya Emir pun mengantar pulang gadis itu dengan menggunakan motor pemberian dari orangtua Amara.
Andar menghadiahkan sebuah motor ninja untuk Emir. Ketekunan anak lelaki itu dalam belajar membuat orangtua Amara bangga. Terlebih selama sekolah, Emir selalu menjaga Amara.
"Kok kamu nggak turun?" tanya gadis itu saat mereka sudah sampai dirumah.
"Kan yang sakit kamu. Aku harus balik lagi ke sekolah" ungkap Emir.
Dari dalam rumah, tiba-tiba muncul Ibu Emir. "Loh, kok udah pulang jam segini?" tanya Fatma yang bingung.
"Amara sakit Bun, Emir harus balik ke sekolah"
Saat mendengar itu, Fatma langsung merangkul Amara yang terlihat pucat dan bersikap tak seperti biasanya. Kemudian mengajaknya masuk.
Sebelum beranjak pergi, Emir melihat Amara dari jauh sampai gadis itu dibawa masuk kedalam rumah oleh Ibu Emir.
Sesampainya disekolah, Emir disoraki oleh teman-temannya, mereka bersiul-siul seperti sedang menarik perhatian seekor burung.
"Amara udah aman, Mir?" tanya Panca saat Emir duduk dikursinya. Emir mengangguk tanpa melihat ke arah temannya itu.
Dari arah lain didalam ruang kelas itu, terlihat seorang gadis yang menatap Emir dengan raut wajah sayu.
...Bersambung...