
...Sebuah Harapan...
EMIR membawa mobilnya untuk memasuki rumah besar yang sudah sepuluh tahun ia tinggalkan.
Sore tadi, Edo mengabarkan bahwa pekerja dirumah ini sudah pulang. Dan Emir bisa leluasa datang ketempat itu tanpa orang asing, sekaligus dia ingin melihat perubahan dari rumah itu yang sudah satu bulan ini di renovasi--atas perintahnya.
Emir membuka pintu rumah. Aroma segar langsung menyeruak ke penciumannya. Jeruk.
Sepertinya pekerja yang dikatakan Edo sangat teliti. Lantai marmer rumah ini terlihat mengkilap, pajangan keramik milik Liana--Ibu Amara pun terlihat bersih dan bersinar.
Kini Emir berjalan menaiki lantai dua, menuju ke arah sebuah kamar yang menjadi tempat ternyaman bagi seorang gadis yang ia cintai sampai kini.
Berdiri didepan pintu kamar yang dicat warna putih itu membuat Emir seolah tertarik ke masa lalu. Ia berharap bahwa saat pintu itu dibuka--muncul sosok manja Amara didalamnya, yang selalu ramah untuk membiarkan pria itu tidur satu ranjang bersamanya.
Sebenarnya Amara tak pernah tau, bahwa Emir selalu menahan hasrat jika sedang bersama Amara. Ah! Wajah Emir jadi me-merah kan, saat mengingatnya.
Namun sayang, setelah pintu terbuka lebar hanya ada perlengkapan milik Amara yang terpajang rapi tanpa bergeser satu senti pun.
Terkhusus kamar ini, Emir memang tak mengizinkan siapapun untuk masuk, jadi Emir yang akan membersihkan kamar ini sampai Amara menempatinya.
"Aku harap kita akan bertemu di acara reuni, Amara" desis Emir terdengar putus asa.
Saat dalam pengharapan kosongnya, tiba-tiba Emir merasa haus. Dia pun segera mengunci kamar itu dan turun menuju dapur.
Dia melihat kulkas dua pintu yang dia pesan secara langsung dua minggu lalu. Ya, Emir berinisiatif mengganti keseluruhan barang-barang yang sudah berkarat dengan model terbaru. Agar kelak Amara datang, gadis itu tak perlu repot-repot membeli lagi.
Saat ia buka kulkas itu, ternyata kosong. Hanya ada es batu di bagian freezer dan satu botol air mineral kemasan yang tersegel, dan ... jus jeruk?.
...▪︎▪︎▪︎...
Saat Ini Amara berada di kediaman Sandrina. Setelah sebelumnya mereka janji temu di hari minggu, kini Sandrina mengirim seorang Supir untuk menjemput Amara di depan gang rumahnya pagi tadi.
Amara tak menggubris celetukan temannya itu. Dia hanya sibuk menatap awan dilangit yang biru siang ini.
Kini mereka berdua berada di halaman balkon kamar Sandrina yang memiliki pemandangan luas yang dihadapannya di berjejer rumah-rumah besar nan mewah.
"Minggu lusa aku akan kembali ke New York .... Ikutlah denganku"
Ucapan Sandrina itu membuat Amara menatapnya dengan tatapan tak suka.
Sandrina tau betul bagaimana kehidupan sahabatnya itu beberapa tahun belakangan ini. Sudah berulang kali dia menawarkan Amara untuk tinggal dan hidup bersamanya di Paris. Namun Amara selalu menolak dengan dalih tak ingin ada hutang budi.
Saat melihat tatapan Amara yang mulai tak suka pada arah pembicaraannya, Sandrina berdeham untuk lekas mengganti topik.
"Emm ... apa belakangan ini ada kabar buruk?" tanya Sandrina.
"Enggak ada"
Sahutan singkat dari Amara membuat Sandrina mengerutkan keningnya. Itu artinya Emir tak berhasil menemukan Amara. Dan secercah senyum mengembang dari wajah Sandrina sampai menutupi raut judesnya.
Oh. Apa jangan-jangan Amara juga tak mendengar prihal reuni Akbar yang diadakan sekolahnya dulu?
Padahal berita reuni itu disebar dimana-mana, bahkan Stasiun Televisi milik keluarga Sandrina juga mendapatkan berita itu untuk di tayangkan.
"Minggu depan, kamu ada acara?" tanya Sandrina, sekali lagi ingin memastikan bahwa sahabatnya itu tak menghadiri acara reuni sekolah yang diadakan minggu depan.
Saat ingin menjawab, tiba-tiba ponsel jadul Amara bergetar. Dan sebuah pesan teks dari temannya yang bekerja di Apartemen Le Park City menghubunginya.
"Kiky?" gumam Amara saat melihat nama si lelaki gemulai itu terpampang di layar ponsel miliknya.
...Bersambung...