
...Hujan Badai...
TAK terasa bagi Amara bahwa perayaan hari ulang tahunnya hanya tinggal menghitung hari.
Siang ini--sepulang sekolah gadis itu sedang duduk di restoran siap saji yang terkenal dengan olahan ayam tepung yang berasal dari Kentucky.
Dengan masih memakai seragam sekolah, gadis itu menikmati makan siangnya seorang diri sambil menunggu kedatangan Emir.
Ya! Sejak Amara berbaikan dengan Emir di kantin waktu lalu, akhirnya dengan terpaksa gadis itu menerima bantuan Emir untuk menyelesaikan tahap akhir untuk persiapan ulang tahunnya.
Dilihatnya jam tangan berwarna kuning yang melingkar manis di tangan kiri gadis itu. "Kok belum dateng?!" keluhnya, cemas.
Kemudian Amara mengambil ponselnya yang senada dengan warna jam tangannya.
Gadis itu mencoba menelpon Emir, namun hanya suara nada sambung saja yang terdengar berkali-kali sampai panggilan itu terputus dengan sendirinya.
Amara bangkit dari duduknya, lalu sambil berjalan, gadis itu kembali menelpon Emir.
"Kok nggak diangkat?!" Wajah Amara tampak kesal saat mengatakan itu.
Pasalnya Amara sudah menunggu hingga berjam-jam lamanya, namun sosok Emir belum terlihat batang hidungnya.
Cuaca semakin terlihat mendung. Angin bertiup begitu kencang hingga menyibakkan rambut panjang Amara sampai menutupi wajah muramnya.
"Sialan!" rutuk gadis itu sambil berjalan ke arah trotoar.
Petir yang menggelar seolah memberi tanda bahwa hujan akan turun. Namun Amara terlihat tak peduli, dia masih berjalan dengan raut wajah kesal sambil memaki Emir dalam hati nya.
Kalo emang nggak bisa dateng, bilang kek! Nyebelin banget sih!.
Air mata gadis itu sudah menggenang didalam pelupuk matanya yang besar, seolah masih tertahan dan enggan mau turun.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, membuat sekujur tubuh gadis itu basah kuyup.
Seketika Amara berlari dengan kencangnya di atas trotoar, langkah larinya seolah berkejaran dengan laju kendaraan yang ada dijalan raya tepat disebelahnya.
Air hujan begitu menusuk mata, tanpa diduga gadis itu tersandung oleh bagian trotoar yang bolong sehingga membuat gadis itu jatuh tersungkur. Dia terlihat diam membeku pada posisinya yang sedang bersujud.
Tiba-tiba saja air mata mengalir deras diiringi isakan tangis pilu. Tak ada yang membantu gadis itu, mungkin karena kondisi hujan yang begitu deras, sehingga membuat orang-orang disekitar tak melihat keberadaan gadis itu.
"Semua gara-gara Emir!" maki Amara sambil menangis sejadi-jadinya.
Perlahan Amara bangun, mencoba berdiri. Walau dengan langkah setengah pincang, gadis itu mencoba terus berjalan semampu yang ia bisa.
Seiring hujan yang mulai reda, tanpa terasa Amara telah sampai didepan rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi, dari kejauhan seorang satpam langsung mengenalinya dan membuka gerbang tersebut.
"Amara!" seru seorang gadis yang begitu dikenal.
"Ya Allah. Kamu kenapa?" Gadis itu panik saat melihat kondisi Amara yang sudah basah kuyup dengan tetesan darah yang tercetak di kaos kakinya yang putih.
"Na ...," panggil Amara dengan suara lirih pada gadis yang tengah merangkulnya. Dan setelah itu, Amara tak sadarkan diri.
...•••...
"Jadi seperti itu simulasinya, Mir. Saya yakin kamu bisa mendapatkan beasiswa itu" ucap seorang lelaki yang usianya lebih tua sekitar 13 tahunan dari Emir.
"Terimakasih, Om. Emir akan berusaha dengan lebih giat" sahut Emir.
Ya! Kini Emir berada di rumah Helma--teman satu kelasnya. Keberadaanya disana untuk persiapan beasiswa sekolah di Jepang yang akan dibantu oleh Om dari gadis itu.
Setelah urusan dengan Helma dan Om-nya selesai, Emir hendak pamit pulang. Namun saat lelaki itu merogoh ponselnya yang ada didalam tas, dia terkejut ketika melihat ada puluhan notifikasi yang terpampang pada layar ponselnya.
Astagfirullah. Amara. Panik Emir menyerang batinnya.
...Bersambung...