Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Amara dan Emir di pagi hari



KEESOKAN paginya Emir terlihat sedang sibuk membantu Ibunya di dapur. Pria itu sibuk mengupas kulit jeruk untuk membuat jus. Minuman kesukaan Amara yang mana Emir jadi ikutan suka juga meminumnya.


"Mir ...," panggil Fatma yang kini beralih menatap Emir setelah mematikan kompor.


"Ya, Bun" Emir juga menghentikan kegiatannya dan menatap wajah sang Ibu yang berjarak hanya satu meter di sebelahnya.


Fatma terlihat menimbang sesuatu, wanita itu terdiam sejenak. Emir masih sabar menunggu Ibunya sampai akhirnya Fatma berkata, "Lebih baik kamu tinggal di rumahmu saja." Emir mengerutkan keningnya tak mengerti. "Maksud Bunda ... Apartemen Kamu," jelasnya lagi. "Kalian sebentar lagi akan menikah. Biar saat acara Ijab nanti, kalian bisa pangling gitu, Mir, saat ketemu," ujar Fatma yang buru-buru menjelaskan.


Bukan tanpa alasan Fatma menyuruh putranya untuk tinggal di Apartemen miliknya sendiri. Semalam sebenarnya Fatma tak sengaja memergoki Emir tengah mencium Amara di Kamar Aidan. Dan bisa dibilang itu bukan ciuman biasa. Fatma mengerti perasaan putranya, akan tetapi membayangkan hal itu, wanita yang sudah melahirkan Emir jadi malu sendiri. Dan tentu saja Fatma takut anak lelakinya tak bisa menahan diri.


Lain halnya dengan Emir. Lelaki itu tak terlintas sebuah pemikiran jika sang Ibu sudah memergokinya saat semalam dia mencium bibir Amara dengan sangat intens. Emir tak ada curiga ke arah sana. Dia malah setuju dan membenarkan ucapan sang Ibu. Memikirkan tak bertemu Amara selama masa persiapan pernikahan dan bertemu saat sudah ijab qobul tentu saja akan lebih mendebarkan pikir Emir.


"Baik Bun," sahut Emir mengiyakan. "Tapi Emir berniat ingin menemani Amara untuk kontrol terakhir, dan setelah menemui--"


"Papa!" Seruan riang terdengar begitu melengking. Aidan berlari ke arah dimana Emir berdiri dan sedang mengulurkan tangan untuk menyambut anak itu. "Papa, kapan datang?" kata Aidan setelah ada digendongan Emir.


"Semalam. Kamu sudah tidur saat Papa datang" Emir mencium gemas pipi Aidan, anak itu mengeluarkan aroma sabun yang membuat Emir semakin betah menciumnya. "Kamu habis mandi?" tanya Emir yang di jawab anggukan oleh Aidan. "Pantas wangi sekali."


Emir yang mendengar ucapan Amara hanya tersenyum jahil. Kemudian dia berkata, "Dulu waktu Mama kamu masih seusia kamu, Almarhum Kakek Andar juga masih suka gendong Mama. Mama kamu dulu lebih berat," Emir melirik Amara yang mencebik.


"Terus ... terus ...," ujar Aidan yang penasaran dengan kisah Ibunya dimasa kecil.


"Kalau lagi ngambek, mulutnya begini" Emir memajukan bibirnya untuk meniru tingkah Amara yang belakangan kembali ditunjukkan wanita itu saat Emir menjahilinya. Aidan semakin terbahak melihat tingkah pria yang masih menggendongnya. Fatma hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan Emir. Menurut Fatma sosok Emir yang sekarang terlihat lebih agresif.


"Sudah, ayo turun. Duduk disana, nanti Mama buatkan susu," tunjuk Amara pada kursi dibelakang meja bar dapur. Aidan pun lekas menuruti dan segera turun dari gendongan lelaki yang dia anggap sebagai Papanya.


Sekarang tatapan Amara beralih ke arah Emir. Wanita itu kesal karena sekarang Emir sering menggodanya. Dan jangan lupakan bibir Amara yang mencebik. "Bisanya ngungkit masalalu," bisik Amara sambil menyedokan bubuk susu lalu menuangkannya kedalam gelas.


Emir sedikit menundukan kepalanya ke arah Amara, lalu dia berbisik, "Bilang aja kalau mau di gendong jug-- aduh!" Emir meringis sakit saat Amara tiba-tiba mencubit bokong Emir. Lelaki itu tak menyangka Amara akan memilih bagian itu untuk dicubit. "Nanti aku bales dibagian yang sama," bisik Emir sambil tersenyum jahil. Amara menganga tak percaya bahwa Emir kini berani mengancamnya


Fatma yang melihat tingkah antara Emir dan Amara, hanya geleng-geleng kepala sambil mengembuskan nafas berat. Sepertinya sehabis sarapan anak lelakinya itu harus segera angkat kaki dari rumah ini, dan biar dia saja nanti yang menemani Amara serta Aidan untuk kontrol. Begitulah rencana Fatma.


...Bersambung...