
JANTUNG Emir berdegup kencang saat berada diruangan tunggu bagi orangtua yang akan menjemput anak-anak mereka dari aktivitas belajar.
"Hey, Mir. Rileks," tegur Melani saat melihat Emir yang duduk dengan tegap sambil memasang wajah kaku.
Setelah percakapan keduanya tadi siang, kini Melani mengajak Emir untuk menjemput Putrinya yang juga satu sekolah dengan anak dari Amara, di sebuah sekolah untuk anak-anak yang berusia kurang dari Lima tahun.
Pasca Amara melahirkan--Melani menawarkan diri untuk mengadopsi bayi itu agar anak dari sahabatnya memiliki surat-surat lengkap. Mengingat status Amara di Negara ini hanya sementara. Hal itu pun dilakukan Melani karena melihat kondisi mental Amara yang belum sepenuhnya pulih. Kendati demikian, Amara tetap memberikan ASI ekslusif bagi bayi tak berdosa itu. Dan satu tahun setelahnya, Melani pun melahirkan putri-nya dari pernihakannya dengan Beryl--yang membantu menangani kasus Amara.
"Mommy!" suara nyaring seperti klakson mobil membuat Melani terkaget-kaget. Dan dia segera berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut anak perempuan itu.
"Hei, Putri manis, sudah Aku bilang jangan berteriak seperti itu" tegur Melani sambil mencubit hidung mancung putrinya.
"Maaf, aku lupa ...," ujar anak perempuan itu sambil cengengesan, menampilkan dua giginya yang tanggal dibagian depan.
Tak jauh dari balik punggung Putrinya, seorang anak lelaki berjalan dengan senyum ceria. Melani kembali membuka sebelah tangannya untuk memeluk anak lelaki itu.
"Hei, Jagoan. Apa kau senang?" tanya Melani saat anak lelaki yang bernama Aidan itu sudah ada dipelukannya.
"Iya. Karena ada yang lucu" sahut Aidan. Membuat Melani mengendurkan pelukannya--penasaran. "Ossy disuruh bernyanyi, tapi dia malah berteriak, sampai semua teman dikelas menutup kupingnya," ujarnya meringis.
"Aku bernyanyi, Yeden," sela Rossie menyebut sapaan akrabnya pada anak lelaki itu. "Mereka yang tak paham apa itu tehnik bernyanyi" kata Rossie, membela diri.
Melani hanya tertawa melihat kedua anaknya berdebat menggunkan bahasa Nasional di negara itu--Australia.
"Ekhm!" Emir berdeham untuk menginterupsi ketiga orang yang tengah asik bercengkrama.
"Ah! Ya Tuhan. Aku sampai lupa" ujar Melani melepaskan pelukan dari anak-anaknya dan segera berdiri menghadap Emir yang sudah berdiri disampingnya.
Melani yang tadinya ingin memperkenalkan Emir sebagai teman lama yang baru bertemu, tiba-tiba bungkam.
Dan sesaat hening.
"Bagaimana Kau bisa langsung mengenaliku?" tanya Emir yang sudah berjongkok didepan bocah lelaki itu.
Melani yang melihat interaksi pertama antara, Emir dan Aidan--terkejut. Keduanya begitu terlihat natural.
Saat dalam perjalanan menuju sekolah ini, Melani memang sempat memberitahukan Emir, sekilas tentang informasi dari putra Amara. Dan setelah melihat anak lelaki itu secara langsung, ternyata benar--mirip Amara sewaktu kecil. Emir sangat bersyukur.
Tanpa menjawab, bocah lelaki itu langsung memeluk Emir. "I miss you, Papa!" ujarnya dengan suara tercekat.
Emir membalas pelukan itu yang tak kalah erat sambil mengusap punggung kecil Aiden.
Didalam mobil saat perjalanan pulang menuju tempat tinggal Melani--Aidan selalu menempel pada Emir. Dan Melani yang melihat keduanya dari kaca spion mobil hanya tersenyum samar.
"Mom," panggil Rossie yang duduk didepan mendampingi sang Ibu yang tengah menyetir. Melani menoleh sekilas pada putrinya. "Apakah, Yeden akan pindah?" tanya Rossie penasaran.
"Itu sudah pasti, Ossy." Antusias Aidan dari kursi belakang. "Karena kedatangan Papa kesini untuk menjemputku dan Mama" sambungnya lagi yang diangguki Rossie.
Sedangkan Melani yang mendengar kedua anak kecil itu berbicara--hanya pasrah saja tanpa bisa menyela.
Berbeda dengan Emir yang sepertinya setuju dengan pernyataan Aidan. Hal itu terpancar dari senyum Pria itu yang tak pernah lepas memandangi anak Amara, dan juga rangkulannya pada pundak Aidan yang terus menempel pada 'Papa' nya.
...Bersambung...