
PAGI ini Emir terlihat sudah siap untuk kembali ke kantor. Rencana perilisan produk baru memang menguras pikiran dan waktu. Jika saja bukan karena ambisinya, dia akan sedikit lebih santai dalam pengerjaan. Terutama ini menyangkut kredibilitasnya sebagai salah satu pendiri sekaligus petinggi di Izekai.
Semalam bahkan Emir masih berkirim pesan pada Edo untuk mengawasi bagian produksi yang ada di Jepang.
Ya, Asisten handalnya itu bertolak ke Tokyo kemarin sore untuk menggantikan Emir yang akan melakukan meeting pagi ini untuk perencanaan perluasan anak cabang Izekai di Australia.
Emir bergegas memasukkan semua berkas kedalam clutch dokumen berbahan kulit terbaik miliknya. Lalu pria itu keluar dari kamar.
"Papa, kok bobo disini?"
Suara Aidan membuat Emir terperanjat. Seketika pria itu menghela nafas untuk mengurai keterkejutannya.
Pikir Emir -- Aidan belum bangun. Mengingat pagi itu jam masih menunjukkan pukul 7. Dan dengan santainya Emir pun keluar dari kamar yang dulu ditempati Amara. Dan kebetulan kamar Aidan bersebelahan dengan kamar yang ditempati Emir saat ini.
Dan tak terduga, ternyata Aidan sudah menodongkan sebuah pertanyaan yang tidak terpikirkan olehnya.
"Wah, anak Mama bangunnya pagi banget," kata Amara berjalan ke arah Emir dan Aidan yang tengah berdiri didepan pintu kamar.
Kedatangan Amara itu tepat sekali pikir Emir. Karena pria itu masih belum tau akan menjawab apa atas pertanyaan bocah lelaki yang masih mengenakan piyama bergambar pesawat alien.
"Aidan, kan mau antar Papa kerja, Ma. Seperti Ossie yang selalu mengantar Papi Beryl tiap pagi" ungkap Aidan.
Sudah kebiasaan Aidan saat anak itu tinggal di Sydney bersama Melani -- Rossie selalu mengantar papanya sampai mobil untuk bekerja. Dan ketika papanya pulang, Rossie selalu menyambutnya dengan girang.
Aidan juga selalu memimpikan hal serupa. Bisa mengantar dan menyambut Papanya saat datang kerumah. Dan Tuhan baru memberikan kesempatan itu sekarang, maka Aidan tak mau menyia-nyiakan.
Mendengar ucapan Aidan, Emir langsung membawa bocah itu kedalam gendongannya. Amara dengan sigap mengambil alih tas kulit dokumen Emir agar memudahkan pria itu.
"Thank you tweety," ucap Emir menatap wajah Amara yang pagi itu sudah terlihat segar.
Kemudian mereka turun ke lantai satu dengan Emir yang berjalan didepan. Sesampainya di bawah terlihat Lastri berjalan ke arah Emir.
"Den Emir, nggak sarapan dulu?" tanya Bi Lastri saat melihat pria itu berjalan berlawanan arah dengan ruang makan.
"Takut nggak keburu, Bik," sahut Emir yang langsung melanjutkan berjalan ke arah pintu utama.
Miinggu-minggu ini, Emir memang merasa dikejar oleh waktu. Pria yang memakai kemeja berlengan panjang biru tua itu masih belum bisa tenang, sebab persiapan masih di tahap awal.
Setelah sampai di teras, Emir sedikit melirik ke arah Sukardi yang berlari dari pos jaga ke arah mobil yang terparkir tepat di didepan pintu utama.
"Nggak bawa mobil sendiri?" tanya Amara.
Amara hanya mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban pria itu.
Emir kembali melirik Sukardi yang kini sudah berdiri didepan mobil sedan hitam itu.
"Boy, Papa kerja dulu, oke? Papa janji setelah urusan hari ini selesai, Papa akan berkunjung ke markas kamu," kata Emir yang dalam setiap perkataannya terlalu banyak membubuhkan kata 'Papa', dan diucapkan dengan keras pula.
"Yeeay! Aidan akan tunggu Papa," sahut bocah itu kegirangan -- sampai membuat Emir gemas lalu mengecup pipi gembul Aidan di kanan dan kirinya.
Setelah itu Emir menurunkan Aidan dari gendongannya. Pria itu lagi-lagi melirik ke arah Sukardi dari sudut matanya -- tipis sekali.
"Sayang, aku titip anak kita ya. Oh ... nanti sepulang aku kerja mau aku bawain apa?" tanya Emir yang baru kali ini menyebut 'Sayang' dengan lantang pada Amara.
Dan apa dia bilang?
Titip anak kita?
Sayangnya pertanyaan itu hanya bisa sampai tenggorokan Amara. Kini ia terbengong sebab mendengar kalimat yg tak biasa dari pria didepannya ini.
Sungguh, Emir terlihat menggelikan dimata Amara.
Amara masih terdiam. Bahkan saat Emir mengambil tas dokumennya yang ada di dekapan Amara saja -- perempuan itu tak sadar.
"Ya udah, nanti telpon aku kalau udah kepikiran mau dibeliin apa," lanjut Emir sambil mengelus pipi Amara dengan tangan kanannya.
Dan sedetik kemudian ...
CUP!
Emir mengecup kening Amara cukup lama. Seolah terhipnotis, Amara hanya diam saja dengan tingkah aneh Emir pagi ini. Andai Amara sadar, sudah berapa lama dia menjadi patung, karena tingkah Emir yang gak biasa.
Setelah itu Emir menuju pintu mobil yang sudah dibuka Sukardi. Dan tak lupa, sebuah tatapan tajam kini terang-terangan Emir arahkan ke mata pria itu.
Ya. Emir rasa tontonan barusan bisa membuat Sukardi paham semarah apa dirinya.
Tak perlu ditegur dengan lisan. Langsung dengan perbuatan saja agar pria itu paham. Begitulah cara kerja Emir.
...Bersambung...