
DARI arah kursi dimana Amara duduk. Sosok Emir dan Helma memang terlihat paling bersinar didepan sana. Dikelilingi oleh para kerabat bisnis yang melakukan kerjasama -- sambil tertawa ringan dengan pembicaraan yang sudah dipastikan tidak Amara pahami. Ya, kelas mereka memang berbeda.
Amara tak iri. Tidak akan pernah. Karena Amara sadari bahwa dia tidak pernah tertarik dengan hal semacam itu. Bukan bidangnya, pikir Amara.
"Ya. Kami pernah satu sekolah." Amara kembali menatap Andre setelah beberapa saat mengalihkan sebentar pandangannya ke arah Emir dan Helma.
Andre menggeser tubuhnya untuk menghadap ke arah Amara. "Ini mengejutkan!" seru Andre terlihat bersemangat dan semakin memajukan tubuhnya ke arah Amara. "Mengapa Emir tak pernah bilang," gumam pria itu.
Amara kembali mengalihkan tatapannya ke arah depan -- dan tak disangka Emir kini tengah menatapnya dengan tajam, sedetik kemudian pria itu melemparkan senyumnya.
Andre melihat tatapan Emir begitu berbeda dengan perempuan disebelahnya.
'Aku tidak bisa membiarkan hal yang sudah kutanam dan kurawat dipetik orang lain. Aku tidak rela!'
Pria itu kembali teringat ucapan Helma beberapa hari lalu. Dia mencoba berspekulasi -- Jangan-jangan yang dimaksudkan Helma itu adalah Amara -- perempuan yang kini duduk disebelahnya, pikir Andre.
Tapi saat tatapan Andre mengarah pada bocah lelaki yang tengah duduk di sebelah Amara sambil memakan pudingnya -- Andre kembali mengernyit.
"Papa ya?" gumam Andre pada dirinya sendiri saat bocah itu memanggil Emir dengan sebutan 'Papa'.
Andre sebenarnya tidak pernah merasa sepenasaran ini terhadap hubungan orang lain. Bahkan saat dia tinggal di Amerika, lelaki dan wanita yang memiliki anak tanpa pernikahan sudah biasa menurut Andre.
Tapi ini Emir?
Bagaimana bisa pria itu memiliki anak sebesar ini?
Andre tak pernah melihat ketertarikan Emir dengan lawan jenis. Bahkan Andre pernah mengira bahwa Emir adalah penyuka sesama atau memiliki impoten.
Lalu Helma?
Mengapa perempuan itu bersikukuh mengejar Emir yang ternyata sudah memiliki anak?
Padahal kata perempuan bernama Amara, mereka sudah kenal lama dan bahkan pernah sekolah di tempat yang sama pula.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Ah! Ingin rasanya Andre menanyakan semua itu. Tapi dia bukan tipe lelaki penggosip. Jadi dia tak akan ambil pusing.
"Hadirin ...,"
Saat Andre masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba sebuah suara dari mikrofon terdengar menginterupsi.
"Seperti yang kita ketahui, bahwa Tuan Emir dan Nona Helma ini memiliki julukan The Bride Of Izekai" Pernyataan dari Pria berusia sekitar Empat puluh tahun yang berdiri diantara petinggi Izekai itu membuat ruangan yang gaduh -- seketika hening.
"Dan julukan itu memang benar adanya. Berkat tangan dingin dari keduanya, Izekai selalu berhasil melahirkan produk yang dapat bersaing di kancah Asia yang dapat diperhitungkan" Pujian pria itu mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah dari seluruh orang yang hadir -- termasuk Amara.
"Dia adalah Pemegang saham ke tiga yang memiliki nilai investasi besar di Izekai, namanya Sakamoto," beritahu Andre pada Amara, ditengah tepuk tangan yang bergemuruh.
Amara menoleh pada Andre dengan ekspresi datar. Seolah apa yang disampaikan pria itu tak merubah reaksi apa pun dari Amara.
"Yang Kutahu ... Sakamoto adalah Paman dari Helma," tandas Andre lagi.
Seketika Amara menarik tatapannya dari Andre lalu mengalihkannya pada sosok pria yang bernama Sakamoto.
"Saya berharap, keduanya tidak hanya serasi dalam membangun Izekai saja, tetapi juga bisa menjadi pasangan serasi dalam menjalani hidup bersama untuk selamanya," ujar Sakamoto yang memiliki harapan besar pada setiap ucapannya. Dan lagi-lagi sorakan dukungan diteriakan untuk kedua orang yang tadi pria itu sebutkan -- Emir dan Helma.
"Ck! Dia seperti pendeta yang sedang mendoakan pengantin setelah pemberkatan," desis Andre menatap sebal pada pria bernama Sakamoto.
...Bersambung...