
"Bagaimana bisa, Anda melakukan hal ini pada saya, Mister Tadaki?" Emir berkata dengan penuh penekanan. Pria itu mencoba menahan geram karena masih menghargai pria tua didepannya.
Satu hari setelah kedatangan Emir dan para petinggi Izekai Megatech ke Tokyo. Pertemuan pemegang saham dilakukan secara tertutup dan alot.
Keputusan Mister Tadaki yang juga memiliki andil dalam membangun Izekai membuat pertemuan dengan para investor tadi pagi -- terpecah menjadi dua kubu.
Emir seperti dikhianati. Bagaimana tidak, dia adalah otak dimana nama Izekai bisa berdiri kokoh sampai saat ini, walaupun tak dipungkiri, ada andil Helma yang melengkapi sebagian kerjakerasnya.
"Ini adalah dunia Bisnis, Mir. Dimana yang kuat adalah yang berkuasa. Kau memang otak dari perusahaan ini ... tapi jangan lupakan, aku adalah jantungnya," tukas Tadaki dengan seringai tipis disudut bibirnya. Seolah dia tau apa yang ada dalam benak Emir.
Pria tua itu selalu menunjukan sikap superior dan arogansi yang tak terbatas hanya karena memiliki pengalaman lebih dalam berbisnis.
Benar apa yang dikatakan pria tua yang tengah duduk di kursi kebanggaanya. Di dunia bisnis terkadang idealis tak terpakai. Emir terlalu naif jika menganggap Tadaki layaknya Ahmad -- Ayah kandung Emir. Pria tua didepannya hanyalah memanfaatkan kecerdasan dan kepiawaian Emir dalam merancang strategi untuk kemudia dia pengaruhi sebagai jalan menuju ambisinya. Emir benar-benar muak sekarang.
"Tapi ... Aku tidak sekejam itu padamu," ujar Tadaki yang membuat Emir kembali memusatkan pendengarannya. "Helma adalah satu-satunya solusi agar kau bisa bertahan di Izekai ... diperusahaan yang kau banggakan" kalimat terkahir tentu saja terdengar seperti sebuah ejekan. Emir sadar itu.
"Nikahi dia!" Perkataan Tadaki selanjutnya membuat membuat Emir mengerti maksud dari semua yang menimpanya.
Gila! Jadi ini solusi yang pria tua itu tawarkan. Menjadikan Helma istrinya? Apa pria itu sedang bermain drama. Emir tak habis pikir dengan pikiran kolot yang Tadaki sampaikan. Benar-benar kekanak-kanakan.
"Helma adalah satu-satunya jalan agar semua kembali pada tempatnya, Emir," ujar Tadaki. Pria tua itu masih memasang wajah wibawanya. Dan percayalah, ingin sekali Emir merobek mulut tua bangka itu.
Emir benar-benar terlihat muak sekarang. Wajah murkanya tak lagi dia sembunyikan. Terlebih ucapan Tadaki yang seolah Emir tanpa Helma bukanlah apa-apa.
Emir sadar bahwa selama ini Helma menaruh harap perasaanya pada Emir, akan tetapi apa yang dirasakan Helma padanya hanyalah sebatas rasa untuk perlindungan, tidak lebih. Dan Emir tidak menyangka bahwa Tadaki memakai Helma menggunakan cara ini untuk menariknya ke dasar jurang.
'Jadi ini tentang ambisi Ayah untuk Anak perempuanya!'
Sayangnya perkataan itu hanya sebatas tenggorokannya saja. Dan setelah itu Emir kembali menetralkan raut wajahnya. Pria itu tak ingin lepas kendali yang berakibat fatal menyerang secara verbal pada Tadaki.
Setelah kepergian Emir dari ruang kerjanya. Tadaki langsung menelpon seseorang.
"Sekarang bagianmu. Ayah sudah membuka jalan!" tukas Tadaki pada sebuah sambungan telpon. Dan setelah itu dia menutupnya.
"Ternyata kau tidak sesulit itu, Mir. Ya ... benar, latar belakang sangat penting. Kau tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan harga dirimu. Benar kata Helma, kau hanyalah benalu yang butuh inang, cih!" gumam Tadaki dengan seringai mengejek.
▪︎
Emir kini sudah kembali ke Hotel dimana dia menginap. Dia butuh menenangkan dirinya setelah apa yang terjadi. Ingin rasanya dia pulang ke Indonesia. Memeluk Amara dan mendengarkan celotehan Aidan adalah hal yang Emir butuhkan sekarang sebagai solusi dari kepenatannya.
Pria itu benar-benar lelah. Ingin rasanya menyerah. Percuma pikirnya, kerja kerasnya bertahun-tahun hanya dianggap sebagai pelengkap.
Sakamoto brengsek! Begitu mungkin cacian yang ingin Emir muntahkan.
Emir jadi teringat ucapan ayahnya, Ahmad. Pria yang menuruni kejeniusannya pada Emir pernah mengatakan bahwa hidup dengan pencapaian tinggi dibarengi dengan resiko yang tinggi pula. Dan itulah yang membuat Ahmad tak mau berspekulasi tinggi dalam menjalani hidup.
Ahmad hanya ingin hidup tenang bersama Fatma -- istri tercintanya yang juga Ibu kandung Emir. Pria yang usianya mungkin sebaya dengan Tadaki itu tidak memiliki ambisi tinggi. Terlalu banyak ketakutan yang mungkin tidak akan sanggup dia hadapi kedepannya. Bahkan dulu Emir mengatai ayahnya dengan sebutan pengecut. Tapi Emir sadar, bahwa pilihan ayahnya saat itu untuk hidup seadanya, hanyalah demi ketenangan.
"Ya. Jika Ayah nggak seperti itu, Aku nggak akan mengenal Amara," aku Emir dengan senyum pasrah.
Tiba-tiba sebuah nada panggilan yang dikhususkan hanya untuk nomor seseorang terdengar nyaring. Dan itu membuat Emir langsung bangkit duduk dari posisi tidurnya untuk meraih ponsel yang terletak di nakas sebelah ranjangnya.
Oh. Itu panggilan video. Tanpa menunggu lama, Emir pun langsung menekan untuk menerima panggilan ajaib itu.
"Hai, Papa ...," sapa Aidan dengan begitu ceria dari layar ponsel milik Emir.
...Bersambung...