
...Mawar Putih...
"Saya akan tinggalkan kamu disini,"
Ucapan supir itu membuat Amara yang sedang memperhatikan sekeliling menjadi menoleh ke sumber suara. "Tuan Edo sebentar lagi akan datang, tunggu saja" sambungnya lagi.
Amara yang masih memproses keadaan sekitar langsung menyadari apa yang diucapkan pria di sampingnya.
"B-baik, Pak. Terimakasih" sahut Amara.
Sebelum pria paruh baya itu benar-benar keluar dari Pintu utama dia kembali berkata, "Kalau haus, kamu bisa ke dapur, tempatnya tidak jauh dari tangga" setelah mengucapkan itu, dia pun pergi dan menutup pintu besar itu.
Setelah Pria itu pergi. Amara benar-benar sendiri. Lalu arah pandangannya kembali memperhatikan isi rumah itu, dia mulai berjalan perlahan mengitari ruangan demi ruangan, warna cat temboknya, furniturnya, bahkan pajangan keramiknya pun masih sama seperti saat terakhir dia meninggalkan rumah itu.
Perasaan aneh mulai melingkupi pikirannya. Berbagai pertanyaan pun bermunculan di benaknya, sampai membuat kepalanya sakit.
Saat sampai di tangga menuju lantai dua, Amara tersenyum pilu. Bahkan tangga itu pun masih sama--berbahan kayu kuat serta akrilik yang menjadi pembatasnya.
Dulu disanalah tempatnya.
Terbesit rasa penasaran untuk melihat bekas kamarnya yang dulu--apa masih sama?!.
Saat dia akan melangkah tiba-tiba sebuah suara berat menghalaunya. "Kecuali lantai itu!" seru Edo yang sudah berdiri tak jauh dari Amara.
Kapan pria itu datang?
Sontak Amara menoleh. Dia tersadar, bahwa tempat ini bukan lagi miliknya. "Maaf" lirihnya menunduk malu.
Kemudian Edo menyuruh Amara untuk mengikutinya.
Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan yang dulu menjadi ruang kerja Andar--Almarhum Papa nya.
Disana Edo menjelaskan apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan wanita itu.
"Jadi ... kamar itu bukan tanggung jawab saya untuk membersihkannya? Begitu?" tanya Amara memastikan.
"Betul! Kamar itu adalah hal yang paling PRIVASI di Rumah ini" jelas Edo dengan penekanan.
Kenapa harus kamar itu? Kamar milik Amara--dulu.
Saat melihat raut wajah wanita yang juga seumuran dengannya itu kebingungan, Edo kembali mempertegas, "Kamar itu hanya boleh disentuh 'Pemiliknya' dan Orang yang mempekerjakan kamu!" ungkap Edo yang makin membuat Amara mengerutkan keningnya.
"Jadi, Pak Ed--, maaf ... maksud saya Tuan Edo bukan pemilik tempat ini?" ucap Amara yang meralat panggilan untuk Pria kaku didepannya. Tampaknya Edo tak peduli dengan panggilan baru yang disematkan padanya dari wanita dihadapannya.
Sebenarnya Amara sendiri merasa jengah dengan panggilan; Tuan, Nyonya dan sejenisnya. Dia berpikir seperti sedang berada di Negara asing.
Edo mengangguk menanggapi pertanyaan wanita itu. "Saya hanya Asisten yang dipercaya saja. Untuk urusan lainnya kamu tak perlu repot-repot tau. Tugas kamu hanya membersihkan rumah ini setiap hari, seperti yang terlampir pada KONTRAK" Edo mengingatkan kembali prihal perjanjian yang sempat tak di baca wanita itu.
Dari ucapan pria itu, artinya Amara memang harus membaca secara detail kan surat kontrak yang bertumpuk-tumpuk itu?
"Baik, Tuan Edo, saya akan membaca isi kontrak itu dengan teliti," tukas Amara.
Setelah urusan mereka selesai, Edo berjalan lebih dulu untuk selanjutnya memberi tau kamar yang akan di tempati Amara.
Ternyata kamar bekas Mang Juned--mantan tukang kebun yang pernah lama mengabdi padanya. Dia akan tidur disana selama tinggal di rumah itu untuk bekerja.
Oh ... bicara hal tentang kebun, Amara tadi sempat melihat taman depan yang sudah rapih dengan rumput hijau serta macam-macam bunga, dan juga ada mawar putih yang hampir mendominasi.
Mawar putih? Itukan bunga kesukaanya.
Huh ... bagaimana bisa semua begitu sama. Dia jadi penasaran pada pemilik asli yang dulu pernah Edo jelaskan. Namun sekarang terlalu rumit untuk dia cerna.
...Bersambung...