
...It's You?...
SUDAH satu minggu berlalu sejak terakhir dirinya di ajak ke salon oleh Sandrina. Kini Amara tengah bersiap-bersiap bertemu Kiki--yang mengajaknya untuk kerja Part time sabtu ini.
Dalam perjalanan menuju Hotel Hilton, Amara masih memikirkan tentang kejadian dimana jus jeruk buatannya yang ludes tak bersisa. Padahal Amara ingat betul bahwa masih ada sisa jus itu didalam botol saat ia akan pulang. Bahkan sisa jeruk yang dia beli dipasar pun raib.
Apa jangan-jangan Pria yang selalu Edo sebut dengan panggilan Bos itu yang membuangnya? Mengingat Si Bos itu berada disana akhir pekan lalu.
Bisa jadi Bos dari Edo yang sampai kini tak diketahui namanya itu, tak suka dengan jeruk yang Amara beli dari pasar becek? Memang terlihat buruk sih penampilan jeruk-jeruk itu, tapi tidak busuk.
Dan yang membuat Amara tercengang, sekarang kulkas di rumah itu terisi oleh bahan-bahan makanan segar dengan kualitas tinggi yang sepertinya dibeli dari Pasar Swalayan--terlihat dari barcode harga yang masih tertera pada setiap kemasannya.
Amara sih tidak keberatan saat Edo bilang--bahwa Amara boleh mengolah bahan makanan yang disediakan di rumah itu untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Justru Itu sangat menguntungkan bagi Amara. Dia jadi tak perlu makan mie instan dan telur tiap hari selama tinggal disana.
Tak terasa Bus yang di tumpangi Amara telah sampai di halte seberang Hotel Hilton berada. Ternyata Kiki sudah menunggunya.
Pria gemulai itu bejalan riang menghampiri Amara yang baru saja turun dari Bus.
"Kiki seneng deh, Kak Amara mau terima kerjaan ini" ujar Pemuda itu dengan seringai lebar.
Tumben. Kali ini Kiki memanggil nama Amara dengan benar--biasanya 'Amarah'. Apa karena pengaruh mereka jarang bertemu sehingga Kiki terlihat begitu sopan padanya, ya walaupun memang selalu sopan sih sejak Amara masih bekerja di Apartemen Le Park City.
"Aku yang makasih, Ki. Kamu masih mau ajak Aku buat kerja sambilan" ujar Amara membalas senyuman Kiki yang berjalan disebelahnya. "Lagian mana ada sih orang yang nolak uang" kata Amara dengan senyum merekah.
Setelah mendapat arahan dari penanggung jawab, mereka pun membubarkan diri dan bersiap menuju Ballroom Hotel. Kemeja putih dan celana panjang hitam menjadi seragam mereka hari ini, tak lupa sebuah name tag bertuliskan 'Servant' tergantung di leher mereka sebagai penanda.
Sudah mulai terdengar riuh dari dalam Ballroom--menandakan para tamu sudah mulai berdatangan.
"Kak! Sini deh!" seru Kiki yang berlari ke arah Amara yang sedang sibuk menata makanan untuk di sajikan di meja prasmanan.
"Apa sih!" ketus Amara yang enggan beranjak saat Kiki menarik tangannya. "Ki! Lagi tanggung loh!" Amara benar-benar jengkel jika diganggu seperti ini, bahkan spatula yang dia pakai untuk menuang makanan belum sempat dia lepas.
Kiki tak menggubris, pemuda itu masih tetap menarik lengan Amara untuk mengikutinya.
"Kak Amara inget, gak? Aku pernah dikasih tips gede sama penghuni Apartemen di lantai 10?" ungkap Kiki yang masih mengajak Amara menuju ruang pertemuan.
Saat itu Kiki mendapat tugas mengantarkan tumpukan paket untuk dibawa ke lantai Sepuluh, dan kemudian dia mendapat tips sebesar Seratus Ribu rupiah dari pemilik Apartemen itu.
Dan kebetulan, Amara pernah menggantikan Beby untuk membersihkan Apartemen yang seperti habis mengadakan pesta segs dilantai itu juga--lantai yang Kiki datangi. Bagaimana Amara bisa lupa! Mengingatnya saja sudah membuat Amara mau muntah.
"Nah! Itu dia Lelaki Tampan yang udah kasih Kiki tips," tunjuk Kiki pada sosok Pria bertubuh atletis dengan setelan kemeja Hitam yang tengah berbincang disana.
"Em-mir" gumam Amara. Dan disaat yang bersamaan spatula yang sedari tadi dia genggam terjatuh ke lantai mamer sampai menimbulkan denting suara.
...Bersambung...