Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
84| Malaikat Pelindung



SAAT Melani keluar dari kamar Amara, dia dikejutkan dengan keberadaan Emir yang berdiri tak jauh dari pintu kamar yang baru saja ditutup Melani.


"Thanks, Mel ...," ujar Emir tulus. Saat Melani menatapnya dengan senyum.


"Sekarang waktunya buat kamu meyakinkan dia," kata Melani sambil menepuk bahu Emir, lalu beranjak pergi.


Saat melihat punggung Melani yang semakin menjauh, Emir mulai menarik nafas dalam. Lalu dia memberanikan diri untuk mengetuk kamar yang ditempati wanita itu.


"Amara," panggil Emir lirih sambil mengetuk pelan pintu itu. "Kamu sudah tid--,"


Belum Emir menyelesaikan bicaranya, Amara sudah membuka pintu itu.


Keduanya terdiam sejenak dengan pandangan mata yang saling menatap.


"Aidan sudah tidur?" tanya Emir masih menatap Amara. Dan Amara mengangguk.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Emir lagi. Dan Amara membuka lebar pintu kamar. Lalu Emir segera masuk.


Melihat Emir berjalan ke arah ranjang dimana Aidan tertidur pulas, Amara segera menyusul setelah pintu itu dirapatkan sedikit sehingga hanya terlihat sedikit celah--tanpa menguncinya.


"Bermain seharian, pasti lelah" ucap Emir yang kini sudah duduk di atas ranjang tepat dekat kaki Aidan.


"Maaf kalo Aidan bikin kamu repot," kata Amara yang ikut duduk di ranjang sambil mengelus kepala putranya.


"Aku nggak pernah merasa direpotkan," ucap Emir menatap Amara. "Dia anak yang tangguh" ungkapnya lagi sambil memandang wajah Aidan yang kepalanya masih di belai Amara.


Amara mengangguk setuju dengan ucapan Emir. Aidan--putranya itu adalah anak yang tangguh. Aidan yang sudah dia tinggalkan sejak usia anak itu baru 2 tahun, tidak membuat bocah itu mengeluh.


Amara terhitung hanya dua bulan sekali mengunjungi putranya di Australia. Tapi Aidan tak pernah protes. Amara bersyukur, bahwa Melani dan suaminya begitu menyayangi Aidan seperti anak kandung mereka. Dan itulah yang membuat Aidan tak pernah merasa kekurangan kasih sayang.


Pernah suatu ketika, Aidan bertanya pada Amara prihal kemana Ayahnya. Amara yang mendadak ditodong pertanyaan itu pun hanya sekenanya saja menjawab bahwa Ayahnya sedang kerja di tempat yang jauh sekali.


"Mir ...," pangil Amara lirih. Dan Emir mengalihkan tatapannya pada Amara. "Tentang sebutan Aidan ke kamu .... Aku akan memberi pengertian pada Aidan, nanti."


Amara merasa tak enak hati saat sang putra menyebut 'Papa' pada Emir. Dan Amara pun tak ingin kesalahpahaman ini berlanjut. Dia tak ingin putranya terluka saat mengetahui yang sebenarnya jika tidak segera di beritahukan.


"Apa kamu keberatan dengan itu?" selidik Emir penasaran.


"Statusmu akan dirugikan dengan sebutan itu, Mir," jelas Amara dengan tawa sumbang.


Lain halnya dengan Amara yang memaksa tawa sumbangnya. Emir malah menampakkan wajah datar dengan ekspresi serius.


"Tidak boleh, kah, Aku menjadi sosok yang Aidan sebutkan?" Perkataan Emir seketika membuat Amara terpaku.


"Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu bilang?" selidik Amara.


Emir menganggukan kepalanya dengan matap. Lalu dia berkata, "Seperti yang Melani katakan--"


"Mir!" sergah Amara yang membuat Emir menutup mulutnya. "Aku bukan lagi Amara yang dulu kamu kenal. Aku nggak mau kamu terlibat dengan kehidupanku yang rumit. Kami hanya akan menjadi beban untukmu" ujarnya lagi.


Emir paham kekhawatiran Amara. Tapi pria itu juga ingin Amara mengerti bahwa dia serius dengan semua ucapan dan perbuatannya.


"Semua yang aku lakukan hanya buat kamu, Amara!" tukas Emir. "Kepergianku ke Jepang juga untuk mempersiapkan diri agar lebih pantas menjadi pasangan kamu. Pelindungmu!" tegas Emir.


Kemudian dia menoleh ke arah Aidan yang masih tertidur pulas. "Dan, Aidan ... Aku tulus menyayanginya. Aku ingin menjadi sosok Ayah yang dia impikan. Apa ada yang salah dengan keinginanku?" tanya Emir mengalihkan tatapannya pada Amara.


Dilihatnya air mata Amara yang menggenang. Membuat Emir beranjak untuk memeluk wanita itu.


"Tapi aku nggak pantas, Mir. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih layak dariku," lirih Amara terisak dalam pelukan Emir.


...Bersambung ...