
SEJAK kedatangan Emir yang terbilang mengejutkan itu, Amara tak banyak bicara. Wanita itu hanya menunduk dan tak berani menatap. Bahkan untuk menanyakan 'bagaimana Emir tau keberadaan Amara' saja--Amara tak berani berucap.
Emir yang duduk bersebrangan dengan Amara--berdiri. Lelaki itu berjalan mendekati Amara dan duduk tepat disebelahnya.
Tanpa ragu, Emir meraih jemari Amara yang rapuh yang ada dipangkuan wanita itu. Dia genggam dengan lembut, mencoba menyalurkan kerinduannya, agar Amara tau bahwa Emir tak bisa kehilangan dirinya lagi.
"Aku menyesal meninggalkan kamu sendiri," ujar Emir mengawali perbincangan. "Harusnya aku membawamu saja. Agar tak ada yang mengganggumu dengan kalimat-kalimat yang dapat melukai perasaanmu," imbuh Emir.
Amara tentu paham arah pembicaraan Emir adalah prihal Helma yang melabrak dan menguak tentang anak yang disembunyikan dirinya.
Berarti Emir sudah tau kenyataan yang sebenarnya, itu terbukti dari Emir yang datang bersama Melani. Pasti mereka sudah berbicara panjang lebar, bukan? Dan rasa-rasanya tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi.
"Semua benar adanya, Mir. Aku ... tak masalah" ucap Amara masih menunduk pasrah.
Benar kata, Amara. Apa yang dikatakan, Helma, adalah fakta--dirinya memang memiliki seorang putra. Tapi kasus yang dialami, Amara, berbeda, dia korban ... Ah! Itu bukan poin utamanya. Yang Emir sayangkan adalah sikap Helma yang sudah kelewat batas turut campur dengan masalah orang lain.
"Amara ...," desis Emir begitu lirih. Amara menoleh, tapi hanya sedikit gerakan kepala saja kearah Emir yang duduk disampingnya. "Boleh ... Aku ...," Emir tampak ragu. Dan itu membuat Amara menoleh sepenuhnya. "Memelukmu?" pintanya.
Amara hanya menggigit bibir bawahnya, ia berusaha menahan air matanya agar tak tumpah. Lalu Amara mengangguk kecil--nyaris tak terlihat gerakan itu. Tapi Emir tau bahwa Amara mengijinkannya.
Emir segera menurunkan tubuhnya dan menjadikan kedua dengkulnya sebagai penyangga, sehingga dia terlihat bersimpuh didepan Amara. Dengan perlahan Emir menjulurkan kedua lengannya ke arah punggung Amara, dan setelahnya dia lekas memeluk wanita itu--erat sekali tapi berusaha tak membuat wanita yang dipeluknya sesak.
Emir mengusap lembut punggung Amara sambil mencium aroma wanita itu dengan dalam. Lalu ia berbisik "I Love You ...," ungkap Emir yang membuat Amara ingin melepaskan pelukan itu. Namun, Emir segera mengeratkan pelukannya. "Please ... Biarkan seperti ini, jangan lepas." mohon Emir dengan lembut.
Perlahan tapi pasti--Amara menggerakkan kedua lengannya untuk membalas pelukan Emir. Dia pun menghirup Aroma tubuh Emir yang maskulin dan terasa mahal. Lalu ia berbisik, "Pantas 'kah aku yang seperti ini menerima pernyataan kamu, Mir?" Amara membisikannya tepat dibawah garis rahang kekar Emir.
Mendengar kalimat yang diutarakan Amara, perlahan Emir memberi sedikit jarak pada dekapannya. Dia mencoba melihat kedalam mata Amara. Emir ingin mengungkapkan bahwa Apapun yang terjadi pada Amara--perempuan itu tetaplah sosok istimewa sejak pertama kali mereka bertemu. Sejak 23 tahun yang lalu, hingga kini dan setelahnya.
"Can I kiss you?" Emir ingin memastikan perasaan tulusnya tersampaikan melalui sentuhan yang lebih intim pada wanita itu.
Permintaan Emir membuat Amara membelalak, dia belum pernah melakukan itu. Dan pria yang memintanya adalah Emir--teman masa kecilnya yang rasa-rasanya tak mungkin berkata seperti itu.
Dan Kiss
Dibagian mana Emir akan menciumnya
Jantung Amara berdegup kencang memikirkan itu, dan tanpa sadar dia memejamkan kedua matanya--bulu matanya yang tebal dan lentik terlihat jelas dan hal itu membuat Emir tersenyum senang.
Saat Amara sedang berpikir tentang ciuman, tiba-tiba rasa; basah, kenyal, lembut, dan deruan nafas hangat begitu terasa menempel di bibirnya. Dan, ya! Emir sedang mencium dan sedikit mel*mat dibagian bibir ranum Amara.
Dan percayalah, itu adalah ciuman pertama bagi keduanya.
...Bersambung...