
...Bunda Peri...
SETELAH membersihkan diri, Amara meminum rebusan air kunyit asam yang dibuatkan oleh Ibu Emir.
"Gimana? Apa sudah lebih baik?" tanya wanita itu dengan cemas.
Amara menatap dengan sayu wajah dari wanita yang seusia mamanya. "Makasih ya, Bun?" ucapnya.
Kehadiran keluarga Emir dirumah itu membuat Amara tidak pernah kesepian. Terutama keberadaan Fatma yang senantiasa hadir dan menemani Amara kapanpun, terutama disaat sang Mama ada keperluan untuk kunjungan sosial.
Maklum saja, berhubung sang Papa adalah anggota dewan, maka Mama Amara pun juga harus turut serta dalam pertemuan yang bertujuan untuk kebutuhan sosial bermasyarakat.
Terlepas dari keluarga Emir yang bekerja untuk keluarga Amara. Tidak serta merta membuat Orangtua Amara memperlakukan mereka layaknya pekerja, tapi lebih seperti keluarga.
Ahmad hanya menemani Andar untuk berkendara dalam perjalanan didalam maupun luar kota. Sedangkan Fatma hanya membantu urusan dapur dan menemani Amara saat Liana tak ada dirumah. Selebihnya ada pekerja lain yang pulang pergi guna mengurusi semua hal diluar itu.
Fatma memandangi gadis dihadapannya, Amara yang sudah dikenalnya sejak masih berusia lima tahun, membuat Fatma menganggap Amara seperti anaknya sendiri.
Dan kini gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi remaja yang mempesona.
"Lain kali ... kamu harus selalu menyiapkan pembalut di tas. Selipkan saja satu buah" pesan Fatma. "Dan kalau perut sudah terasa melilit pegal, itu tandanya sudah mendekati hari M" ucapnya lagi diiringi tawa kecil.
"Bunda periku memang yang terbaik" puji Amara sambil memeluk Fatma dengan manjanya. "Bunda selalu sama Amara, kan?" tanya gadis itu sambil melepaskan pelukan.
Fatma yang ditanyai hal itu, terdiam sejenak. Kemudian dia membelai rambut Amara sambil berkata, "Walaupun suatu saat Bunda tidak disisi Amara, tapi Insyaallah ... Bunda akan selalu ada kapanpun Amara benar-benar butuh. Paham kan, sayang?".
Amara sadar betul, bahwa dia tidak boleh egois, senyaman-nyamannya gadis itu bersama Fatma, tapi tak terelakkan, bahwa wanita itu memiliki prioritas lain yang harus diutamakan. Suaminya dan juga anaknya. Emir.
Dari balik kamar pintu Amara yang tertutup, ada Liana, sang Mama yang baru saja pulang dari kunjungan sosialnya, dan wanita itu mendengar semua ucapan keduanya.
Aku merasa beruntung ada Fatma disisi Amara. Tapi aku juga tidak bisa menahan mereka untuk bersama kami selamanya. Batin Liana bergejolak.
Setelah membantu Amara tidur, Fatma keluar dari kamar itu. Perlahan dia menuruni anak tangga, dan dia melihat Liana duduk sambil melamun.
"Sudah pulang dari tadi?" Tanya Fatma pada Ibu kandung dari Amara.
"Eh ... Baru saja kok. Apa Amara sakit?" sahut Liana agak terkejut.
Pertanyaan Liana barusan meyakinkan Fatma bahwa wanita itu mendengar perbincangannya bersama Amara.
"Sumbilangeun," sahut Fatma. "Tapi sudah minum kunyit asem, anaknya baru saja tidur" Jelas Fatma. Kemudian dia duduk disamping Liana.
"Makasih ya, Fat" ucap Liana sambil meraih tangan wanita itu.
"Tidak perlu. Amara sudah seperti anak gadisku" ucapnya dengan senyum. "Minuman herbal lagi?" tanya Fatma saat dia melihat gelas beraroma ramuan herbal.
"Iya ... aku sedang ingin minuman seperti ini " sahut Liana.
"Kamu terlihat pucat, Na, apa kegiatan itu melelahkan?" tanya Fatma menyelidik.
Liana seketika pucat pasi, sekujur tubuhnya bergetar, keringat dingin seolah menyelimuti tubuhnya yang mulai kurus.
"Lumayan," sahut Liana sambil menunduk.
...Bersambung...
Fyi :
Sumbilangeun itu seperti kondisi kram perut