Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Coklat Di Hari Pertama



BAGI Amara, waktu begitu cepat berganti.


Kehidupan sekolah yang penuh suka cita akhirnya datang. Gadis yang kini menginjak awal usia pubertas itu begitu bangga dengan seragamnya. Putih biru.


Aura positif dari gadis yang sedang duduk dikursi mobil belakang, tentu saja sudah menular pada Emir. Bocah lelaki yang sudah berjuang sekuat tenaga mencapai nilai demi untuk menyetarakan keinginan Amara itu akhirnya tercapai.


Bahkan nilai ujian Emir adalah nilai tertinggi dari seluruh siswa siswi se-Ibu Kota.


Antrian mobil pribadi ber-plat B yang mengantar para siswa ke sekolah populer itu pun terlihat mengular. Emir sudah biasa melihat pemandangan ini sejak dia disekolahkan di Taman kanak-kanak dulu bersama Amara.


Namun kini sedikit tampak berbeda, kehadiran para murid yang keluar dari mobil pribadi itu memperlihatkan dengan jelas status sosial mereka yang tinggi.


Tapi jangan salah, Emir tak pernah iri, dia bukan tipe anak minder, apalagi dengan hasil nilai ujiannya yang menjadi nilai tertinggi seantero kota Metropolitan itu, membuat Emir cukup merasa percaya diri untuk berdiri di atas kakinya sendiri berkat otak encernya.


"Aku deg-degan, Pah" ucap Amara menahan bahagia. "Aku udah rapi kan, Pah?" tanya Amara pada Andar yang duduk disampingnya.


"Kamu ini, sudah seperti mau pidato saja merasa deg-degan segala," ujar Andar sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Putrinya.


"Ini deg-degannya lebih dari pidato, Pah. Soalnya mau ketemu temen-temen baru," ujar Amara sambil membenarkan kemejanya. Lalu gadis itu mencium tangan Andar. "Papah semangat ya kerjanya," pesan Amara kemudian mencium pipi sang papah.


"Om Ahmad, makasih ya ... hati-hati ya Om nyetirnya" kata Amara pada Ayah Emir. Lalu ia juga mencium tangan pria itu.


Emir sudah turun terlebih dulu dari kursi depan setelah dia bersalaman dengan Ayahnya. lalu anak itu membuka pintu mobil belakang untuk membantu Amara yang terlihat kerepotan membawa banyak bingkisan. Entah apa yang akan gadis itu lakukan. Tidak mungkin berjualan kan disekolah barunya?


"Makasih ya, Mir" bisik Amara sesaat Emir membantunya membukakan pintu.dia


Sebelum menutup pintu mobil dimana Amara keluar, Emir sedikit melongok ke dalam lalu membungkuk untuk bersalaman dengan Ayah Amara. "Pak, terimakasih banyak," ujar Emir setelah mencium punggung tangan pria itu.


Setelah acara berpamitan, akhirnya mobil yang mengantarkan mereka, melaju meninggalkan dua anak yang kini telah sah menjadi murid putih biru.


Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Andar tiba-tiba terkekeh.


"Ada yang lucu?" tanya Ahmad yang masih fokus mengemudi.


"Emir ... Anak mu itu benar-benar kaku Mad" ungkap Andar yang membuat Ahmad menautkan alisnya. "Susah sekali untuk panggil aku 'Om', aku jadi ikut-ikutan kaku dibuatnya," jelas Andar sambil tersenyum lebar.


Ahmad yang mendengar itu hanya tersenyum saja sambil memperhatikan lalu lintas yang kian padat merayap. Ahmad tahu betul mengapa putranya masih saja sulit memanggil 'Om' pada Andar.


...▪︎▪︎▪︎...


Suasana ingar bingar di luar kelas membuat Amara bangga, pasalnya para murid disana sedang mengintip kedalam ruang kelas yang ditempati Amara. Pujian dan rasa penasaran pada sosok anak lelaki yang kini sedang duduk disampingnya begitu terdengar riuh.


"Tuh kan ... mereka penasaran sama murid yang diberitakan di televisi," bisik Amara pada anak lelaki itu. "Belum apa-apa kamu udah terkenal, Mir," lanjutnya dengan bangga.


Sedangkan Emir yang masih duduk sambil membaca buku yang entah apa judulnya hanya diam saja saat Amara berbisik ditelinganya.


Melihat Emir yang tak menggubrisnya, Amara mulai mengeluarkan beberapa kotak coklat yang sudah dia siapkan.


"Siapa yang mau?" pekik Amara sambil mengacungkan kotak coklat menyerupai bentuk segitiga memanjang pada teman-teman sekelasnya. Dan seketika meja Amara dan Emir, dikerumuni banyak siswa yang mengantri pembagian coklat gratis itu.


Emir yang melihat tingkah Amara, hanya bisa melongo saja. Ternyata coklat itu untuk menarik perhatian teman baru, pikir Emir.


...Bersambung...