
...Sudah Dua Kali, Masih Kupantau...
Deringan ponsel terdengar begitu nyaring dari dalam saku celana bahan yang dikenakan Amara.
"Sandrina?" gumamnya saat melihat siapa nama pemanggil itu.
Seolah malas menerima panggilan sahabatnya itu, Amara habya mendesah kemudian berdecak.
"Yes Ma'am this is Amara's speaking," ceketuknya malas.
Sedangkan orang yang ada disebrang telpon sana hanya tertawa cekikikan.
[Coba tebak, aku lagi dimana?!] ujar Sandrina dari seberang telpon yang membuat Amara menatap layar ponselnya.
"Surga?" celetuk Amara dengan nada sarkas.
Terakhir Amara bertemu dengan sahabatnya adalah tahun lalu, saat Sandrina diundang oleh sejumlah Media Indonesia untuk mewawancarai wanita itu prihal karirnya sebagai seorang Desaigner yang sukses di NewYork.
Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
Saat mendengar Sandrina sedang berada di Indonesia, bibir Amara langsung mengembang.
[Ketemuan, Yuk. Kangeeennn!] ujar Sandrina yang terdengar menggebu-gebu.
Amara berpikir sejenak. Pekerjaan kali ini cukup terjadwal, dan bagusnya sabtu-minggu ini dia libur dan bisa pulang ke Rumahnya. Jadi sudah dipastikan akhir minggu ini dia akan bertemu dengan temannya yang judes itu.
Hari ini adalah hari ke lima wanita itu bekerja. Sendirian mengurus rumah sebesar itu tidak lah mudah, Amara pun berinisiatif membuat jadwal untuk membersihkan.
Tidak mungkin Amara membersihkan rumah itu dalam sekali libas di satu hari--bisa-bisa tulangnya remuk, lagi pula pria yang mempekerjakannya tidak menyuruh seperti itu.
Ah, mengingat tentang pria bernama Edo, Amara segera meraih ponselnya, dia berniat mengirim pesan untuk pamit pulang dan kembali lagi nanti di hari Senin.
Amara membuka kulkas dua pintu yang terlihat masih baru, lalu dia ambil empat buah jeruk di dalam dur, buah itu sudah nampak matang--terlihat dari kandungan bulir jeruknya yang mengembung.
Dia mulai mengupas buah tersebut lalu memasukannya ke dalam blender yang masih nampak baru juga. Sepertinya pemilik rumah ini mengganti semua barang-barang elektronik terbaru yang jelas terlihat mahal.
Kemudian dia mengambil satu gelas sedang yang juga berada di dalam kabinet, dia tambahkan beberapa es batu lalu menuangkan cairan jeruk tadi kedalamnya.
Amara terlihat lebih segar setelah meminumnya.
Kemudian wanita itu melihat jam yang tersemat di dinding dapur. Ternyata sudah hampir magrib, saatnya dia pulang.
Sebelum bergegas, dia menaruh sisa jeruk yang dia blender tadi kedalam kulkas, lalu mencuci perlengkapan blender dan gelas yang dia pakai tadi.
Amara kembali memastikan semua rapi, sebab Pria bernama Edo itu berkata, pemilik rumah ini yang juga adalah Bos dari pria itu akan datang di akhir pekan.
Bahkan Amara diberi kepercayaan untuk menyimpan kunci cadangan pintu utama, agar memudahkan wanita itu kelaur masuk.
Di depan sudah ada Pria paruh baya yang pertama kali mengantar Amara ke rumah ini, dan kini pria bernama Sukardi itu kembali ditugaskan oleh Edo untuk mengantar jemput Amara pulang ke rumah wanita itu.
Saat mobil sudah mendekati gerbang, Amara membuka jendela kaca mobil itu.
"Pak Mahdi, saya pamit pulang dulu" ujar Amara pada pria yang ditugaskan menjaga rumah itu.
"Iya Non, hati-hati" sahut Pak Mahdi sambil melambaikan tangannya.
Setelah Amara menutup kembali kaca jendela mobil itu, tiba-tiba Supir itu berkata, "Wah enak ya, kerja dianter jemput, gaji besar, tinggal dengan bebas lagi dirumah ini, seperti milik pribadi" celetuk Sukardi dengan nada sinisnya.
...Bersambung...