
...Inang...
AMARA masih duduk terpaku di kursi mini bar dapur, wanita itu kini hanya fokus memandangi Emir yang sedang mencuci piring bekas mereka makan.
Setelah perdebatan kecil mengenai perebutan tugas mencuci piring, akhirnya Amara mengalah dan membiarkan pria itu melakukannya, itu pun dengan dalih dari Emir yang mengatakan; Amara yang memasak, dan kini pria itu yang membersihkan.
Amara menatap ke arah Emir yang memunggunginya. Pria yang memakai kemeja putih yang pas ditubuhnya itu sedang mempertontonkan cetakan otot pada bahu lebarnya saat ia sedang membasuh piring-piring kotor itu.
Sepuluh tahun tak bertemu, begitu banyak perubahan yang terjadi pada sosok Emir. Dan Amara sempat tertegun saat Edo--Asisten pribadi Emir menjelaskan bahwa teman masa kecilnya itulah yang sudah mengambil alih kepemilikan rumah ini dari sitaan Bank yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.
"Lagi mikirin apa?" tegur Emir yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Amara.
Sejenak Amara berpikir. Tentang semua ucapan Edo tadi yang mengungkapkan niat Emir. Sejak kedatangan dua pria itu, Emir memang tak banyak bicara, semuanya dijelaskan secara terperinci oleh Edo yang dikenal sebagai orang kepercayaan Emir.
"Apa setelah ini ... saya tidak bekerja lagi untuk membersihkan rumah ini?" ucap Amara ragu sebenarnya. Tapi ucapan Edo siang tadi membuat wanita itu tak bisa untuk diam saja.
Pertanyaan Amara ini memang cukup realistis sih. Kalau dia tidak lagi membersihkan rumah ini, lantas dari mana dia akan mendapatkan uang? Sementara gaji pertamanya saja baru akan turun beberapa hari lagi. Bahkan Amara sempat berpikir untuk kembali ke pekerjaan lamanya saja sebagai Housekeeping di Apartemen Le Park City.
Emir yang sedari tadi tak lepas menatap wajah Amara, kini semakin mengunci tatapannya pada wanita itu. Kemudian Emir mengubah duduknya menghadap ke arah Amara yang sedang menampakkan raut wajah cemas.
Emir menarik nafas terlebih dulu, lalu mengembuskan perlahan, dan berkata, "Kamu nggak perlu melakukan hal itu. Ada Aku yang akan bekerja keras untuk mu" tukas Emir lembut, namun terdengar tegas.
Melihat respon Amara yang seperti itu, Emir pun bangkit berdiri dan langsung mencengkram pergelangan tangan wanita itu.
"Apa kamu nggak bisa bergantung pada ku?"
Amara menoleh ke arah Emir yang berada di balik punggungnya, melirik ke arah tangannya yang direngkuh Emir--untuk dia lepaskan. "Selama Saya masih punya kaki, tangan, dan otak. Saya pantang mengemis! Apalagi menggantungkan hidup Saya pada orang lain!" balas Amara. Dia tidak habis pikir bahwa Emir akan merendahkannya.
Jangankan Emir yang baru muncul setelah lama pergi. Sandrina--sahabatnya itu malah seringkali ditolak mentah-mentah saat akan mengulurkan bantuan. Alasan Amara yang terlihat naif bukan tanpa sebab. Dia hanya tidak ingin berhutang budi. Itu saja.
"Tapi Aku bukan orang lain," tandas Emir yang secara perlahan memangkas jaraknya dari Amara. "Aku--"
"Saya tau! Kamu udah jadi orang sukses sekarang. Orang hebat. Orang terpandang. Tapi terimakasih atas niat baik kamu. Selama ini Saya bisa hidup dengan baik walau kamu nggak ada!" Amara mencoba menekan emosinya saat berbicara itu.
Emir hanya terdiam saat melihat respon tak terduga yang diperlihatkan Amara. Pria itu sadar. Amara masih memendam benci padanya, sehingga keberadaan Emir masih belum bisa diterima wanita itu.
Namun seolah mengabaikan respon Amara. Emir justru semakin berani mendekati wanita itu, ditambah kini kedua tangannya mengelus pipi Amara yang tirus.
"Gimana kalau ternyata Aku yang sangat membutuhkanmu, Amara?"
...Bersambung...