
"Mungkin ini karma untuk kamu, karena sudah membuatku dan kedua orangtua ku malu karena ulahmu dulu!" tuduh Edo.
Kedatangannya ke Singapura menemui desainer kondang itu adalah atas permintaan Emir untuk membantu mengurus keperluan pernikahan atasannya bulan depan.
Sandrina memicing tak suka mendengar perkataan lelaki itu. Sosok yang dia kenal sebagai asisten Emir itu membuat Sandrina meradang atas ucapannya yang dia yakin dituduhkan padanya. "Karma?"Sandrina berdecih tak suka. "Aku bahkan baru mengenalmu sebagai asisten si Emir! Kalau mau mengarang lebih baik kamu jadi penulis fiksi saja! Mau kukekanlkan dengan Penerbit? " tantangnya dengan raut wajah remeh.
Seandainya kaki wanita itu baik-baik saja. Mungkin Sandrina akan menghajarnya dengan tendangan salto andalannya yang dia pelajari saat ikut kelas muay thai.
Lelaki yang datang-datang sudah mengibarkan bendera permusuhan itu melangkah lebih dekat. Tepat dipinggir ranjang rumah sakit yang Edo yakin hanya berada di kelas VVIP saja.
"Ya! Harusnya aku menuliskan kisah kaburnya seorang wanita judes dari acara pertunangan yang membuat kami sekeluarga menelan malu!" ungkap Edo. Sandrina membeliak tak percaya. Ternyata lelaki didepannya ini adalah ...
"Al ... Fredo Lubis? Itu ...," Sandrina terbata-bata. Hanya ada satu nama Alfredo yang pernah jadi calon tunangannya. Walau saat itu Sandrina tidak tau sama sekali rupa calonnya.
"Ternyata masih ingat!" dengus Edo.
"Sejak kapan Kamu mengetahui bahwa Aku ..."
"Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki dirumah mu!" sela Edo memotong ucapan Sandrina.
Sandrina kembali diingatkan tentang pertemuan pertama dirinya dengan Emir, sesaat wanita itu berhasil membawa kabur Amara dari acara reuni sekolah mereka. Sandrina saat itu melihat sosok lelaki yang selalu ikut pergi kemanapun Emir berada. Dan ternyata dia adalah Alfredo--lelaki yang digadang-gadang sebagai calon tunangannya.
"Aku minta maaf" Perkataan Sandrina dibarengi kepala yang tertunduk membuat Edo tak percaya. Dia tak menyangka sosok perempuan judes dengan keangkuhan tak terkira itu bisa mengucap kata Maaf. Edo jadi salah tingkah dibuatnya.
"Ya sudahlah. Lagipula itu sudah berlalu. Kami sekeluarga sudah baik-baik saja. Lagi pula Ayahmu pun sudah mendatangi kami untuk memohon maaf" kata Edo yang tak jadi marah. Cepat sekali pria itu luluh.
Sebenarnya Edo sudah lama ingin mengungkapkan ini. Tapi dia berharap wanita didepannya menyadari lebih dulu bahwa Edo adalah calon tunangannya. Namun, sepertinya wanita bernama Sandrina itu tak ingat, atau mungkin malah tak tau bahwa Edo adalah lelaki yang menjadi calon tunangannya beberapa tahun lalu.
"Sungguh, Alfredo. Aku melarikan diri dari rumah saat tau Papi mau menjodohkanku dengan anak dari kenalan bisnisnya. Aku hanya tidak mau cita-cita yang sedang kurajut pupus karena perjodohan itu. Sebab yang ku tau, tipe lelaki di Indonesia tidak suka dengan wanita yang punya karir cemerlang" Sandrina menatap manik lelaki disebelahnya dengan tatapan menyesal.
Mendengar pernyataan Sandrina, Edo mengangguk. Benar sih, Edo juga lebih suka sosok perempuan yang mengantarnya bekerja dan menungguinya pulang setelah seharian disibukkan dengan setumpuk pekerjaan. Tapi dia juga bukan tipe Pengekang. Bahkan Edo terbilang lelaki yang menghargai pasangannya.
"Bagaimana kondisi kaki mu?" Tak ingin memperpanjang kisah masa lalu. Edo kini mengalihkan pembicaraan.
"Dokter bilang Aku masih beruntung. Karena tulangku tidak remuk. Jadi memudahkan untuk penyambungan" jelas Sandrina menunjuk bagian mata kaki kirinya.
"Aku meminta setelah acara pernikahan sahabatku selesai digelar," beritahu Sandrina.
"Kamu memang sahabat yang sangat baik," puji Edo atas sikap setia kawan Sandrina yang sudah sangat jarang terjadi dimasa kini.
Sandrian tersenyum jumawa. "Aku memang yang terbaik," pujinya pada diri sendiri.
Edo yang melihat tingkah Sandrina ikut tersenyum. Ada debaran aneh pada jantungnya saat dia melihat sosok yang ternyata tak se-judes perkiraannya.
"Aku akan menemanimu sampai luka mu sembuh" Sandirna terpaku atas ucapan lelaki itu. Namun, dia pun mengangguk menyetujui. Kali ini Sandrian tak akan lari lagi. Dia akan mencoba memulai kisahnya. Semoga lelaki bernama Alfredo itu tulus memaafkannya dan mau memberinya kesempatan. Tapi ...
"Apa tidak ada yang marah kalau kamu bersikap begini?" Sandrina bertanya impulsif. Dia tak mau ge-er sendiri.
Edo yang mendengar pertanyaan Sandrina merasa bahwa wanita didepannya sungguh blak-blakan.
"Aku masih free" ujar Edo. "Mungkin sebentar lagi akan taken. Tinggal menunggu persetujuan kamu untuk menjadi Nyonya Lubis. Aku harap kali ini kamu tak bisa kabur lagi. Dan tak akan bisa kabur pastinya!" sindiran Edo itu tentulah tertuju pada kondisi kaki Sandrina yang cedera.
Alih-alih tersinggung, Sandrina malah mengiyakan. "Benar. Bagaimana aku bisa lari lagi. Untuk berjalan saja aku butuh tongkat," katanya sambil melirik tajam ke arah Edo. Tak terlihat wajah sedih saat wanita itu mengatai dirinya sendiri. Edo sungguh salut.
"Sekalipun nanti kakimu sudah normal. Aku pastikan akan merantainya," perkataan Edo membuat Sandrina mengerling tajam.
"Memangnya Aku Chito?!" ketus Sandrina.
Edo hanya mengernyit. "Chito?"tanyanya penasaran.
"Kucing peliharaanku yang suka kabur menggoda Kucing kampung," Sandrina terkekeh saat mengingat kucing miliknya yang mirip anak macan tutul itu lebih suka mengekori kucing kampung yang dia beri nama Mae.
Seketika Edo tertawa renyah. Lelaki itu pikir Chito adalah jenis anjing penjaga rumah. Ternyata....
Benar-benar unik wanita didepannya ini, pikir Edo. Judes diluar, konyol didalam.
Melihat bagaimana pria itu tertawa, Sandrina hanya berpikir hidupnya mulai saat ini akan jauh lebih baik. Tuhan benar-benar menyayanginya. Lelaki yang sudah dia buat malu beberapa tahun lalu itu kini malah membuka lebar kedua tangannya dengan menawarkan 'kursi' Nyonya Lubis padanya.
Kalau sudah jodoh. Mau lari kemanapun dan sejauh apapun kita menghindar, garis muara akan balik ke titik awal dimana kita pernah memulai.