
MASIH dengan membawa koper kecil miliknya, Emir bergegas menuju rumah sakit Siloam dengan menggunakan Taksi. Raut wajahnya terlihat cemas, dan itu terlihat dari raut wajah Emir yang kini pucat pasi.
Dering telpon yang berasal dari ponsel Emir itu tak henti-hentinya berbunyi. Bahkan yang diawalnya Emir tak berniat untuk mengangkatnya, kini dengan terpaksa mengalihkan perhatian otaknya yang sedari tadi dipenuhi bayangan Amara. Segera dia menggeser tombol hijau untuk menerima deringan telpon yang ternyata dari orang yang berjasa terhadap kehidupan Amara.
"Halo, Mel?"
ujar Emir sesaat dia mengangkat panggilan itu.
[ ... ]
"Aku sedang mencari kebenaran kabar itu. Nanti aku hubungi lagi," sahut Emir.
[ ... ]
"Baiklah, Aku tunggu kedatangan kalian,"
Dan setelah itu, Emir menutup pembicaraan mereka di telpon.
Sebenarnya Emir masih belum yakin bahwa Amara-nya adalah salah satu korban yang diberitakan. Pasalnya beberapa jam lalu mereka masih berkomunikasi, saling memberi kabar dan berjanji akan bertemu malam nanti.
"Jika ini mimpi, maka bangunlah, Emir!" gumam Emir berseru pada dirinya sendiri.
Pria itu benar-benar berharap bahwa apa yang dia dengar dan apa yang dia baca dari surat kabar elektronik hari ini hanyalah sebuah mimpi belaka yang terjadi di alam bawah sadarnya karena terlalu lelah. Namun, sialnya kali ini Emir sedang sepenuhnya sadar.
Saat taksi yang dinaikinya memasuki kawasan rumah sakit itu, Emir mulai menghenyakan segala pikirannya. Dia butuh memastikan segala hal yang membuat kerja otaknya tak karuan.
Saat kendaraan yang Emir naiki sudah memasuki lobi utama rumah sakit, Emir disajikan pemandangan riuh dengan banyaknya kamera dan juga orang-orang yang sepertinya sedang mencari berita. Mereka tampak berdiri berjajar di teras depan rumah sakit.
Berita kecelakaan yang mengaitkan nama Sandrina yang dikenal sebagai Desainer ternama tentu saja membuat para pemburu berita berbondong-bondong datang. Namun, yang membuat nama Sandrina menjadi topik hangat dari kejadian ini lebih di karenakan wanita itu adalah anak dari konglomerat yang dijuluki Raja Media. Siapa yang tak mengenal Panca Tanuwijaya, Pria Kaya Raya yang memiliki perusahaan yang bergerak dalam dunia media masa, baik itu elektronik maupun cetak.
Dengan langkah lebar, Emir langsung membelah kerumunan orang-orang itu, dia segera menuju meja informasi di lobi utama.
Perempuan di depan Emir langsung mengangguk mengiyakan. Bagaimana tidak, nama perempuan yang Emir sebutkan adalah salah satu korban yang satu mobil dengan nama anak konglomerat yang membuat suasana rumah sakit hari ini menjadi riuh dan gaduh.
"Apa hubungan anda dengan pasien?"
Pertanyaan dari wanita dihadapan Emir itu membuat Emir kembali meratap. Harusnya mereka sudah menikah, kan?
"Walinya," jawab Emir singkat.
Perempuan yang berdiri dibelakang meja informasi itu terlihat meminta Emir untuk menunggu. Tak lama kemudian wanita tadi menelpon seseorang melalui alat interkom.
Emir yang berdiri dengan wajah panik masih menunggu dengan sabar. Dia menatap lekat ke arah wajah perempuan yang sedang berbicara disambungan telepon itu.
Setelah hampir satu menit, perempuan yang sedari tadi tak lepas dari pandangan Emir pun menutup teleponnya. Perempuan itu sempat salah tingkah saat mendapat tatapan lekat dari pria yang rambutnya terlihat acak-acakan. Namun, tak mengurangi pesonanya.
Segera menghenyakan perasaan terpananya, perempuan yang bekerja menjadi resepsionis itu segera berkata, "Harap tunggu sebentar, Pak. Akan ada yang mengantar Anda ke kamar pasien."
Setelah hampir lima menit menunggu, seorang pria yang mengenakan kemeja hitam di tubuh tegapnya menghampiri Emir.
"Anda wali dari Nona Amara?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
Emir tanpa ragu mengangguk.
"Mari ikut saya," ajak pria yang terlihat lebih tua dari Emir.
Emir berjalan mengikuti langkah lebar pria yang berjalan didepannya ke arah pintu besi yang terasa dingin dan sunyi untuk membawa keduanya menuju lantai tujuan.
Ting!
...Bersambung...