
EMIR menyimak dengan nafas menderu saat Melani menceritakan kisah pilu yang di alami Amara beberapa tahun silam. Kedua siku lengannya menekan meja dan saling menangkup dengan mengepal kuat--didepan bibir dan hampir menutupi hidungnya yang lancip.
Sikap Emir tak luput dari penglihatan Melani. Terlihat begitu kentara dari tatapan Emir yang nyalang dengan mata kemerahan seperti menahan air matanya agar tak tumpah. Gelagat Emir yang seperti ini cukup membuat Melani terkejut, sebab selama tiga belas tahun Melani mengenal pria itu, tak sekalipun Emir menunjukkan emosinya.
"Malam itu aku baru tiba di Jakarta, aku berniat memberi kejutan padanya besok pagi, tapi ...," ucap Melani tertahan.
Pukul sepuluh malam, sebelum kejadian nahas yang dialami Amara--Melani sebenarnya baru saja tiba di Soekarno Hatta. Dia berniat memberi kejutan kedatangannya ke Indonesia pada sahabatnya itu. Namun, karena lelah, Melani pun langsung tertidur di rumah Orangtuanya.
Pukul empat pagi, Melani dibangunkan oleh sebuah panggilan telpon. Saat dia melihat nama pemanggil adalah nama Amara, Melani buru-buru mengangkatnya. Akan tetapi suara disambungan telpon itu bukanlah suara yang dia kenal. Suara berat dengan logat khas Bali terdengar panik dalam bicara.
Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Ageng itu meminta Melani untuk datang kesebuah Rumah sakit TNI, dan tanpa pikir panjang, Melani pun langsung mendatangi Rumah sakit yang dituju bersama dengan Supir yang bekerja di rumah Orangtuanya.
Saat memasuki ruangan yang dituju, Melani terkejut bukan main saat melihat Amara tergeletak dengan selang infus dipergelangan tangan sahabatnya itu.
Bukan hanya itu saja. Wajah Amara pun babak belur, bahkan pakaian yang dikenakan Amara sudah compang-camping.
Kedatangan beberapa Polisi ke ruangan itu membuat Melani syok. Terlebih pernyataan dari pria yang tadi menelponnya membuat dirinya hampir terjatuh. Sahabat malangnya itu telah mengalami kejahatan seksual.
"Saat itu aku langsung menghubungi Mas Beryl untuk membereskan kasus ini," lanjut Melani dengan emosi yang kembali muncul saat mengingat kejadian itu.
Beryl--yang sekarang menjadi Suami Melani adalah seorang Pengacara yang juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Saat menangani kasus Amara, Melani dan sang Suami yang saat itu masih berstatus Tunangan Melani lah yang membantu menyelesaikan kasus yang dialami Amara sampai tuntas.
Tentu saja Sandrina harus melakukan ini--saat itu. Mengingat Ayah Amara adalah mantan Pejabat Negara. Jika ada pencari berita yang menyadari hal itu, tentu saja kejadian nahas ini akan menjadi topik hangat yang akan membuat Amara semakin tertekan.
"Kami tidak ingin berita ini tersiar di Media manapun. Dan setelah itu, aku membawa Amara pindah bersamaku ke sini," sambung Melani.
Emir masih menyimak dengan seksama apa yang diungkapkan Melani. Dia membayangkan saat-saat kejadian tragis yang menimpa Amara--wanita pertama yang disayanginya hingga kini.
"Amara ...." Melani mengulum bibirnya. "Dia sempat mengalami depresi berat, terlebih saat mengetahui dirinya hamil." ujarnya sambil menghela nafas berat.
Tepat setelah Amara pulih dari fisiknya, Melani langsung memboyong Amara untuk tinggal di Australia.
Melani pun harus bekerja keras menangani trauma psikis yang dialami sahabatnya itu. Terlebih saat mereka mengetahui ada janin dari hasil kejadian itu.
Beryl sempat menggagaskan pada kliennya yang juga sahabat dari tunangannya itu untuk melakukan aborsi. Ya, tindakan itu diperbolehkan oleh Negara dan juga kesehatan. Hal itu tertera dalam pasal 76 UU Kesehatan untuk kasus yang dialami Amara--demi menjaga kesehatan mental korban.
"Bagaiman dengan pelakunya?" Ingin sekali Emir bertanya demikian. Tapi Emir urungkan. Dia sadar bahwa itu tak ada gunanya dia tanyakan sekarang.
Yang terpenting bagi Emir untuk sekarang ini adalah kondisi Amara, dan juga anak itu.
...Bersambung...