Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
16| Existence



...Existence...


SUARA mesin motor yang sangat dikenal membuat Amara berlari kedepan balkon kamarnya. Dan benar saja, Emir baru memasuki gerbang rumah dengan menaiki motor ninjanya.


"Magrib gini baru pulang, kemana aja tuh anak!" gumam Amara.


Kemudian gadis itu kembali lagi kedalam kamarnya untuk melanjutkan memoles kuku-kunya agar terlihat berwarna dan berkilau.


Seusai mandi dan sholat maghrib yang hampir mendekati waktu Isya itu, Emir menyempatkan membaca Alquran sampai waktu Isya tiba.


Sejak kecil, Emir sudah dididik oleh orangtuanya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bukan hanya sekedar Muslim KTP.


Setelah menjalankan ibadah wajib, Emir membuka baju takwa-nya, lalu ia menggantung baju putih itu dibalik pintu. Namun tanpa dia duga, ternyata pintu kamarnya terbuka dengan keras sampai membentur pelipis Emir.


"Emir!" pekik Amara. Sang pelaku pendobrakkan pintu.


Emir masih mengaduh sakit, benturan itu benar-benar keras. Dan yakinlah, sebentar lagi akan berubah menjadi benjolan manis yang menghiasi wajah simetris pria itu.


"Kebiasaan!" tegas Emir gemas melirik ke arah gadis itu.


"A-astagfirullah! Aurat, Mir! Aurat!" desis gadis itu dengan masih menatap tubuh Emir tanpa berkedip.


Emir yang melihat tingkah Amara tentu saja makin geram. Bukannya minta maaf atas insiden pendobrakan, gadis itu malah menatapnya seperti melihat setan.


"Aurat, eh?" tanya Emir sambil terkekeh.


"Iyalah! Laki-laki juga punya aurat. Pake bajunya, Mir!" perintah Amara. Sebuah kalimat yang tak asing ditelinga Emir.


Emir yang mendengar ucapan gadis itu malah makin terkekeh geli, dan malah mendekatkan tubuh polosnya kehadapan Amara. "Kalo punya otot ... baru dibilang aurat? Gitu?" sindir Emir.


Dia teringat masa lalu saat Amara pernah nyelonong begitu saja ke kamarnya, saat Emir sedang tak pakai baju dan kemudian mentertawai tubuh kurusnya.


"Itu sih otak kamu yang kotor" ujar Emir santai. "Berkali-kali ya aku bilang ... kalo masuk kamar orang, ketuk pintu dulu. Apa gunanya itu pintu kalo nggak buat menjaga privasi?" imbuh Emir pada gadis yang sedang menekuk wajahnya. Kemudian Emir membuka sarungnya.


"Heh! Kamu mau apa? Emir!" pekik Amara saat melihat pria didepannya akan menurunkan sarungnya.


Tanpa menggubris teriakkan dan protes yang dilayangkan gadis berisik itu, dengan santainya Emir melepas sarungnya. Dan hal itu membuat Amara berbalik keluar kamar dan lari terbirit-birit.


"Emangnya aku udah gila apa telanjang didepan kamu!" gerutu Emir, dan ternyata lelaki itu memakai celana pendek dibalik sarungnya.


Makan malam telah tiba, tepat pukul delapan malam semua hidangan sudah tersaji, begitupun para penghuni rumah yang sudah berkumpul semua.


Sesi makan malam sudah menjadi sebuah rutinitas yang dijalankan oleh para penghuni dirumah itu. Selain untuk mengisi perut yang lapar setelah melakukan aktivitas seharian, makan malam pun menjadi momen untuk berbincang-bincang.


Namun ada yang berbeda pada malam itu, Amara yang biasanya paling banyak bicara dan berisik, ternyata kali ini gadis itu bungkam seribu bahasa.


Sejak kapan Emir badannya jadi berotot, kapan dia olahraga? pikiran Amara berkelana.


"Jangan mikir jorok, Non ...," bisik Emir yang membuat gadis itu sadar dari lamunanya.


Dan yang lebih membuat Amara kaget, ternyata manusia yang sedang dia pikirkan itu, kini duduk disebelahnya.


Seketika wajah Amara merona, area pipinya terasa memanas, dan napasnya sedikit tercekat, sehingga membuatnya meraih gelas berisi air putih dan langsung meneguknya.


Emir terkekeh melihat sikap Amara yang salah tingkah, dia hanya geleng-geleng kepala atas sikap gadis yang baru pertama dia lihat.


Dan tanpa disadari, ternyata tepat dihadapan mereka ada seseorang yang menatap tingkah laku dari kedua remaja itu sedari tadi.


...Bersambung...