
...The Bride Of Izekai...
SUARA pertengkaran terdengar di ruang kantor salah satu pendiri IZEKAI MEGATECH. Yaitu Perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi--Software dan Hardware.
"Gila! Kau memang gak punya otak, Ndre!" suara menggelegar bak Komandan perang terdengar kesal.
"Sory! Aku enggak niat gitu, Mir! Sumpah" ucap si pembuat onar. "Tapi Aku sudah tanggung jawab kok. Lagi dibersihin" ungkapnya takut setengah mati.
Sontak Pria yang marah tadi melirik ke jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. Dengan wajah memberengut--dia mengambil tas kerja, ponsel, kunci mobil serta jas kerjanya yang teronggok di kursi--lalu berjalan keluar sambil membanting pintu dengan kerasnya.
Jarak antara Kantor dan tempat ia tinggal tak terlalu jauh, tapi berhubung hati dan pikirannya sedang meradang akhirnya dia membanting setir dengan mengarah ke tempat lain.
"Udah Aku bilang kan, pindah ke sini" suara lembut seorang wanita terdengar memanjakan telinga.
Wanita itu berjalan sambil meletakkan sebuah jus jeruk yang baru dituang dari kemasan. "Aku udah beresin kamar kamu kok, tinggal lah disini, Mir" bujuknya.
Pria itu adalah Emir Hamzah. Ya! Pria yang marahnya bak Komandan perang dengan hunusan kemurkaannya itu kini sedang berada di kediaman seorang wanita.
Wanita dengan keanggunan dan kelembutan bak seorang Dewi, dan terkenal karena otak encernya--yang sebelas duabelas dengan Emir, siapa lagi jika bukan Helma.
Keduanya membangun perusahaan itu dari titik 'Nol' hingga dalam enam tahun bisa mendapat pencapaian luar biasa, sampai bisa membuka cabang di Indonesia dalam kurun waktu setengB tahun.
Oleh karenanya, dikalangan pebisnis mereka dijuluki sebagai 'The Bride Of Izekai'. Itulah yang di tulis di sampul halam depan majalah Bisnis-TIME beberapa minggu lalu.
"Aku akan pikirkan tawaranmu" sahut Emir yang sudah mulai redam dari marahnya setelag menengguk jus jeruk yang di berikan Helma.
Dimalam yang sama, ada seorang wanita yang seolah sedang membersihkan serpihan-serpihan dosa bekas pemilik tempat ini.
Kekacauan yang sebelumnya terjadi, kini seolah lenyap tersapu bersih oleh kelihaiannya dalam bekerja.
Ruangan itu kini sudah rapih, bersih, bersinar dan juga harum--mirip Apartemen baru, memang itulah kehebatan Amara. Kecepatan dan kecekatannya tak usah diragukan lagi. Wanita itu selalu bekerja bersungguh-sungguh.
Seandainya saja tidak ada CCTV, dia pasti akan mencoba menikmati tidur dikasur King Size yang tadi ia bersihkan.
Dan seandainya bisa, ia juga ingin mencoba minuman dan makanan dari mini bar yang ada di Apartemen mewah ini.
Akhirnya dia hanya bisa duduk lesehan di lantai, sambil menjulurkan kakinya yang terasa mau copot. Dan dia hanya bisa minum air mineral yang selalu dia bawa.
Dibukanya masker pada wajahnya, lalu dia lap wajah lusuh danetihnya, kemudia dia tenggak air mineral yang sudah tidak dingin itu--saking lamanya membersihkan tempat ini.
Bayangkan saja, hampir empat jam wanita itu membersihkan seluruh ruangan disana tanpa cela, mungkin sidik jari pun terhapus bersih tanpa jejak.
Ngomong-ngomong masalah waktu, Amara jadi teringat bahwa ini sudah pukul 9 malam. Akhirnya dia berdiri, meregangkan semua ototnya, merapihkan semua alat tempurnya dan mengucapkan selamat tinggal pada Apartemen yang membuatnya lembur menggila.
Seandainya seniornya yang mengerjakan, sudah pasti akan berakhir di meja hijau, karena suaminya minta cerai akibat sang Istri terus menerus lembur.
...Bersambung...