Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
141| Tautan Jemari yang merenggang



EMIR tengah terduduk disamping ranjang rumah sakit, dimana Amara masih belum sadarkan diri. Pria itu menggenggam jemari Amara yang terbebas dari jarum dan selang infus yang tertancap dibeberapa bagian tubuh.


'Gue keluar sampe tiga kali! Pasti dia bunting, kan?! Dia bener-bener enak!'


Racauan Bajingan bernama Deny beberapa hari lalu masih begitu lekat dan menjijikan dipendengaran Emir. Bagaimana bisa nasib perempuan didepannya begitu nelangsa.


Amara adalah seorang anak yang dibesarkan dengan kelembutan dan penuh kasih sayang. Mendiang kedua orangtua dari wanita itu pun sangat menjaga dengan baik agar putri semata wayangnya tak terluka sedikitpun.


Amara yang dikenal Emir sangat manja, ceria, penuh ambisi, kini berubah berbalik menjadi sosok yang tak percaya diri dan begitu tertutup. Masih begitu jelas diingatan Emir saat beberapa bulan lalu dia bertemu Amara setelah sepuluh tahun tak pernah berkabar. Amara bahkan memilih lari darinya dengan tatapan seolah tak mengenalnya.


Emir berpikir, bahwa satu-satunya orang yang mungkin harus disalahkan atas nasib yang menimpa Amara adalah dirinya sendiri.


Andai saja dia tidak ngotot mengambil beasiswa itu, mungkin Amara tak akan seperti ini.


Lelaki yang kini terlihat semakin kusut itu tiba-tiba meneteskan buliran air matanya. Lagi-lagi dia menyesali perjalanan hidupnya selama sepuluh tahun terakhir ini yang dia rasa sia-sia.


Obsesinya untuk mendirikan Izekai Megatech sampai berada dipuncak, akhirnya dia runtuhkan dengan pengunduran dirinya dari perusahaan yang dia bangun dengan segala pengorbanan.


Amara. Seolah pujaan hatinya itu menjadi tumbal atas ambisinya untuk meraih semua impiannya.


Niat hati ingin membahagiakan Amara dengan semua pencapaiannya, ternyata malah membuat wanita yang dicintainya hidup penuh derita setelah Emir meninggalkannya.


"Maafkan Aku ... Maafkan Aku, Amara," sesal Emir penuh kepiluan. Untuk menangis saja dia malu, rasanya tidak pantas.


Disaat bersamaan, sebuah jemari bergerak dalam genggaman Emir. Sontak wajah Emir yang tertelungkup diatas jemari Amara itu mendongak ketika sebuah suara lirih terdengar samar.


"Eumh...,"


Emir terkejut sampai membolakan matanya saat mendengar sebuah suara yang berasal dari Kekasihnya. Kemudian Emir mencari tombol untuk memanggil petugas rumah sakit karena Amara telah sadar.


Tak berapa lama beberapa perawat datang bersama seorang dokter yang menangani kondisi Amara.


Beberapa saat kemudian ...


"Bagaimana, dokter?" tanya Emir sambil melangkah ke arah pria paruh baya yang juga sedang berjalan ke arah Emir berdiri.


"Alhamdulillah. Semua bagus dan stabil. Hanya perlu melakukan terapi agar retakan pada tulang tangan dan kakinya bisa segera membaik," jelas dokter itu.


Emir mengangguk, lalu berkata, "Terimakasih, dokter, terimakasih." Dia mengatakan itu dengan penuh antusias.


Setelah para suster melepaskan beberapa alat monitor dari tubuh Amara, mereka pun langsung pamit keluar.


Emir segera berjalan mendekat ke arah Amara yang masih terbaring lemah. Namun, kali ini matanya terbuka sepenuhnya.


"Hai, Tweety ...," desis Emir sambil duduk di kursi sebelah ranjang Amara. Raut lelahnya beganti senyum kelegaan.


Perlahan Emir mengelus punggung tangan wanita itu, lalu dia genggam dan dia dekatkan ke arah bibirnya. Emir mengecupnya lama.


"Maaf. Aku minta maaf," lirih Emir menahan suaranya dari isak tangis sampai tercekat.


Amara menatap sayu ke arah Emir yang tengah menciumi tangannya. Lalu jemarinya mencoba meraih jari-jari Emir yang panjang. Mengetahui maksud dari kekasihnya, Emir langsung menyatukan jemarinya disela-sela jemari kecil Amara yang lentik untuk saling menggenggam.


"Kamu siapa?"


Emir yang tengah menggenggam jemari wanita itu, seketika langsung mengendurkan genggamannya.


Disaat yang bersamaan, kening Emir pun mengerut. Wanita yang masih terbaring lemah itu terlihat memandang aneh ke arahnya.


...Bersambung...