
EMIR berjalan perlahan ke arah baju yang digantung pada sebuah paku yang tertancap di dinding.
"Ini seragam sekolah milikku, kan?" tanya Emir yang kini sedang memegang sebuah kemeja putih dengan sebuah lambang almamater sekolah mereka dulu.
Kemeja putih itu masih tampak bersih dan rapi. Sebuah nama yang bertuliskan 'Emir Hamzah' terpampang jelas di bagian depan kanan sebelah kantung kemeja sekolahnya itu.
"Wah ... Aku nggak nyangka kamu simpan seragam ini," ujar Emir ternganga. Lalu dia menoleh ke arah Amara yang duduk mematung sambil mendongak menatap Emir. "Pantes aja, saat musim dingin di Jepang aku selalu merasa hangat. Ternyata ada yang meluk Aku dari jauh" Guyonan Emir membuat Amara melipat bibirnya, menahan senyum.
"Apaan sih. Aku cuma bawa yang penting-penting aja saat pindah. Tadinya seragam itu mau aku sumbangin," kilah Amara yang kembali melanjutkan kegiatannya memasukkan barang-barang pribadinya kedalam tas.
Emir berjalan mendekat ke arah Amara lalu dia ikut duduk tepat dibelakang wanita itu. "Jadi ... kemeja sekolahku, penting, nih. Sampe nggak rela buat disumbangin, " goda Emir sambil memeluk Amara dari balik punggung wanita itu.
Saat dulu memutuskan menjual rumah peninggalan sang papa, Amara hanya membawa barang seadanya yang dirasa penting saja. Dan kemeja sekolah milik Emir yang tergantung sendirian didalam lemari kosong dikamar pria itu tak sengaja dia temukan.
Aroma khas Emir dengan parfum maskulin yang biasa dipakai lelaki itu saat di SMA masih menguarkan harumnya, seolah jiwa Emir masih tertinggal di kemejanya itu.
Begitu banyak kenangan yang Amara lalui bersama Emir dan juga kemeja sekolah milik lelaki itu. Terlebih perpisahan keduanya saat Emir memutuskan belajar di luar negri tidaklah baik. Dan hal itu membuat Amara terlambat menyadari bahwa perasaan yang dimilikinya pada Emir lebih dari kata sayang.
"Iya. Penting buat aku saat itu," ungkap Amara.
Emir tidak bisa melihat raut wajah Amara saat perempuan itu mengatakannya.
"Saat itu? Sekarang udah nggak penting lagi?" bisik Emir yang masih merengkuh tubuh wanita itu.
"Aku membawa kemeja sekolah itu, karena aku sebenarnya masih belum bisa ditinggal kamu sejauh itu, Mir" pengakuan Amara membuat Emir membalikkan tubuh wanita itu menghadapnya.
"Kenapa kamu nggak sampaikan keberatan kamu saat aku sedang ambil jalur beasiswa itu?" tanya Emir.
"Kamu nggak ada cerita apapun, Mir, tentang beasiswa ke Jepang itu ke Aku. Bahkan aku baru tahu dari Sandrina, alasan kamu nggak menemuiku hari itu karena kamu sedang bersama Helma. Dan kalian sedang merencenakan melanjutkan kuliah di sana. Dan kamu baru memberitahuku saat kamu sudah diterima. Apa menurutmu Aku sejahat itu untuk melarangmu pergi? Sedangkan raut wajah kamu saat itu terlihat bahagia" ungkap Amara.
Emir tidak bilang, ya?
Dan dia melewatkan janjinya menemui Amara untuk membantu wanita itu mempersiapkan hari ulangtahunnya yang ke-17 juga terlupa.
Terakhir, kalimat Amara yang bilang 'kalian sedang merencanakan kuliah bersama' seolah membuat kesalahan Emir tak pantas untuk di maafkan.
Emir benar-benar tidak ingat semua itu. Apa karena dia sibuk mengejar impiannya. Dan juga perasaan rindu yang meluap membuat pria itu lupa untuk meminta maaf dengan benar.
Disaat Emir bekerja keras untuk membangun impiannya, disaat itu pula dia lupa bahwa ada wanita yang harus dia jaga jiwa dan raganya. Terlebih perempuan itu adalah satu-satunya yang menjadi alasan untuk Emir bisa menjadi seperti sekarang ini.
Padahal sedari mereka kecil, Amara selalu ingin bersama Emir. Bahkan Emir pernah membatalkan keinginanya untuk bersekolah di Pesantren khusus pria, karena menimbang keinginan Amara yang selalu ingin bersekolah yang sama dengannya. Dan kenapa Emir tak berpikiran mengajak Amara untuk kuliah bersama juga?
Emir benar-benar baru menyadari kebodohannya.
Melihat Emir yang diam membatu dengan raut wajah pias, Amara kembali berucap, "Tapi sekarang Aku bersyukur ... melihat Kamu se-sukses ini Aku benar-benar bangga, Mir. Dan yang kamu bilang bahwa kamu mencari keberadaanku, membuat Aku merasa dibutuhkan"
Perkataan Amara sontak membuat Emir semakin dalam menatap wanita itu, bahkan kini kedua tangannya membelai lembut wajah perempuan yang masih menatapnya.
"Kamu adalah satu-satunya alasan buat Aku bisa mencapai titik ini, Amara," tegas Emir. "Dan cuma Kamu yang bisa membuatku se-gila ini untuk melewati semua batasanku. Dan aku sangat membutuhkanmu untuk bisa bertahan"
...Bersambung...