
"Emiiiiir" pekik Amara yang menuruni tangga sambil berlari. "Tunggu!" Perintahnya pada seorang anak lelaki yang tengah bersiap menunggangi motor ninjanya.
Tepat dibelakang Amara, ada sang Mama yang mengejar gadis itu dengan langkah cepat sambil membawa segelas susu ditangannya.
"Amara!" panggil Liana. "Minum dulu susunya" pintanya lagi dengan membawa gelas itu berhati-hati.
Amara tak menggubrisnya, bahkan gadis itu lupa berciuman tangan dengan sang Mama.
"Maaf Mama cantik! Amara jalan dulu. Assalamualaikum!" pekik gadis itu sambil memakai helm.
Saat Amara sudah diatas motor, Emir tak kunjung menyalakan mesinnya.
"Ayo Jalan!" perintah Amara.
"Salaman dulu lah sama Mama kamu," ucap Emir dengan santainya.
Amara berdecak. "Nanti telat!".
"Nanti ngebut" kata Emir cepat.
Dengan terpaksa Amara kembali turun dengan kondisi helm yang masih terpasang, kemudian dia mendekati sang Mama yang juga sedang berjalan kearah gadis itu.
"Minum dulu, sayang" paksa sang Mama. Amara mematuhinya.
Setalah menyesap setegukan susu itu, Amara pun langsung mencium tangan sang Ibu. "Makasih, Mama tersayang. Amara jalan dulu. Assalamualaikum," ucapnya.
Sedetik kemudian gadis itu langsung berlari ke arah Emir yang sudah menyalakan mesin motornya. Dengan sigap gadis itu naik dibelakang.
"Cepet Mir, gerbangnya sebentar lagi tutup!" seru Amara menepuk bahu Emir.
"Pegangan!" tukas Emir.
Saat kedua tangan Amara sudah memegang jaket berbahan jeans milik Emir, pria itupun langsung tancap gas yang membuat Amara berteriak histeris.
Begitulah rutinitas dipagi hari saat dua remaja yang kini sudah memasuki bangku SMA itu bersiap ke Sekolah.
"Mir, cepet!" pekik Amara dari belakang punggung Emir saat jarak gerbang sekolah mereka mulai terlihat. "Ya ampun, Mir, itu Pak Sapto!" Amara memekik keras sambil memukul-mukul punggung Emir. Disana sudah terlihat Penjaga gerbang sekolah yang berdiri didepan gerbang.
Emir yang membayangkan dihukum ditengah lapang langsung tancap gas sambil berteriak. "Peluk lebih erat, Ra!" Amara yang sudah tau apa yang akan terjadi pun langsung memeluk perut lelaki itu dengan erat. Dan seketika si Ninja melaju secepat kilat menuju arah gerbang fan melewati Pak Sapto si Penjaga sekolah.
"Hufff ... hampir aja, Mir." Amara menghela nafas panjang saat mereka sudah diparkiran sekolah.
Pria itu meraih helm berwarna kuning dengan gambar burung tweety dalam pelukannya.
"Rambut aku berantakan nggak?" tanya Amara sambil mendongak ke arah Emir.
Menatap rambut Amara yang acak-acakkan, Emir menjadikan jemarinya yang panjang untuk merapikan rambut gadis itu.
"Makanya ... kalo dandan jangan kelamaan" ucapnya sambil menyibakkan rambut hitam sebahu gadis itu ke sisi telinga kanan.
Amara memperhatikan Emir lekat-lekat. Gadis itu memandangi wajah Emir yang baru disadarinya.
Apa dia si Emir yang itu?. Begitulah pikir Amara.
Emir yang melihat Amara melongo dengan kondisi mulut menganga sambil menatap kearahnya, langsung meniup wajah gadis itu.
"Bengong!" desis Emir yang membuat gadis itu tersadar. "Ayo!" Dan setelah itu Emir menggandeng tangan Amara menuju lorong kelas.
Ya. Emir dan Amara kini sudah menjelma menjadi remaja, keduanya kembali bersekolah ditempat yang sama. Bahkan mereka pun menempati kelas yang sama, hal itu tak lepas dari campur tangan Andar-Papah Amara. Dan Amara akan semakin bergantung pada lelaki itu.
...▪︎▪︎▪︎...
Derap langkah anak lelaki berseragam putih abu melintasi lorong kelas dengan tergesa-gesa. "Mir!" pekik suara lelaki dari arah pintu ruang Osis membuat penguhuni diruangan itu menatap ke arahnya.
"Apa?" liri Emir dengan kening berkerut. Kemudian dia pamit keluar untuk menemui teman sekelasnya -- Panca.
"A-Amara, Mir. D-dia pingsan" beritahu Panca sambil terengah-engah. Karena habis berlari.
Setelah mendengar apa yang dikatakan teman sebangkunya itu, Emir langsung beranjak lari. Kabar pingsannya Amara juga didengar oleh sebagian anggota Osis yang sedang mengikuti rapat diruangan itu.
Emir lari secepat kilat, wajah pria itu memucat. Suara derap langkah kakinya yang lebar terdengar seperti sebuah sirine ambulan. Sehingga setiap murid yang berada dilorong kelas menyingkir dengan cepat.
"Amara!" panggil Emir dengan nafas terengah saat dia sudah sampai di depan kelas.
Namun apa yang dikatakan Panca tak sepenuhnya benar. Kenyataan bahwa Amara yang tidak pingsan membuat Emir bernafas lega.
"Emir?" ucap Amara saat melihat wajah lelaki itu yang pucat pasi.
...Bersambung...