Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
24| Luka



...Luka...


EMIR mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Saat dia menyadari telah lalai pada janjinya untuk bertemu Amara siang itu, Emir langsung pamit pulang dari kediaman Helma dengan tergesa-gesa.


Jalan beraspal yang dilewati Emir dan sang Ninja masih terlihat basah, bahkan ada banyak genangan air yang hampir melahap jalanan itu sampai menyamai ketinggian trotoar.


Mata tajam Emir menatap restauran makanan siap saji dengan warna merah yang mendominasi dari arah pria itu berkendara. Saat memasuki area parkiran jantungnya mulai tak karuan.


Dia raih ponselnya, sambil berjalan dengan langkah setengah berlari pria itu masuk dan menelusuri setiap sudut kursi. Namun gadis itu tak ada, bersamaan dengan ponsel yang menjawab bahwa nomor Amara tak dapat dihubungi. Lututnya lemas. Nafasnya hampir sedikit tercekat akibat jantung yang berdetak terlalu kencang dan cepat.


Apa Amara sudah pulang kerumah?. Pikir Emir.


Lalu dia kembali melihat jam ditangannya. Waktu sudah hampir mengarah ke angka 5, itu artinya dia sudah melewatkan hampir 4 jam dari janjinya dengan Amara.


Pasti Amara sudah dirumah, kan?!. Batin Emir sedikit ragu.


Saat Emir akan memakai helm miliknya, tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nama yang tak asing tertera dilayar itu.


Sandrina?. Ucap Emir dengan mata memicing.


Tanpa ragu dia mengangkat panggilan itu.


^^^(Datang ke rumahku sekarang! Amara ada disini.)^^^


Tanpa basa-basi, Sandrina dengan nada ketus mengatakannya dalam panggilan itu.


Seketika Emir mulai tersenyum. Gurat khawatir pada wajahnya yang simetris itu sudah pudar, namun perasaannya masih tak tenang. Pastinya rasa bersalah itu semakin tumbuh karena Amara, karena gadis itu tak pulang kerumah--melainkan dirumah sahabatnya yang terkenal suka berbicara ceplas ceplos.


Cukup lima belas menit saja untuk sampai ke rumah Sandrina dengan kecepatan sang Ninja yang diatas rata-rata.


Satpam tak langsung membuka gerbang itu, padahal Emir adalah salah satu teman yang sering datang ke rumah Sandrina untuk mendampingi Amara.


Tak lama seorang gadis keluar dari istananya dengan wajah tak bersahabat.


"Amara mana?" tanya Emir dengan raut wajah khawatir.


Gadis dibalik gerbang itu tak menjawab, tak juga memberikan ekspresi bersahabat. Bahkan gerbang itu tak juga dibuka.


"Dasar! Kacung nggak tau diri!" maki Sandrina yang memang sudah terbiasa berucap kasar. Namun kali ini gadis itu menambahkan penekanan pada kata 'Kacung' untuk status pria dihadapannya.


Emir tak pernah menggubris ucapan Sandrina yang selalu memakinya. Dari dulu saat mereka duduk di bangku SMP pun gadis itu memang selalu begitu. Jadi Emir sudah terbiasa dan mencoba menutup telinga.


"Wah! Wah! Jadi ini toh cara kamu bantu Amara??!" ucap Sandrina terdengar sarkas.


"Tolong, Sandrina. Biarkan aku menemui Amara" lirih Emir tanpa menyahuti ucapan gadis dihadapannya yang masih meradang.


"Dasar Batu!" rutuk Sandrina. "Tuh! Ngomong aja sama kaos kakinya," ucap Sandrina setelah dia melempar sebuah kaos kaki milik Amara tepat kewajah Emir.


Emir langsung menghalau dengan tangannya saat benda putih berbahan kain dengan kondisi basah itu dilempar Sandrina.


Saat ada noda darah yang sudah luntur oleh air itu tercetak disana, Emir terkejut.


"Darah apa ini, Na?" nada bicara Emir begitu panik.


Namun kini seolah berbalik, Sandrina tidak menggubris pertanyaan Emir. Gadis itu langsung berbalik dan berjalan menuju rumahnya untuk masuk.


"Sandrina! Kumohon! San--" Pekik Emir, saat Sandrina semakin menjauh dari gerbang itu.


...Bersambung...