
MEREKA berpelukan cukup lama. Amara yang masih terisak hanya bisa Emir tenangkan dengan usapan lembut dari rambut sampai ke pundak wanita itu.
"Kamu mau membantuku?" bisik Emir setelah isakan Amara terhenti.
Amara langsung melepaskan pelukan itu, lalu dia mengusap air matanya. Dengan suara tercekat Amara bertanya, "Bantu, Kamu?," tanyanya. Dan Emir mengangguk sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipi tirus Amara.
"Bantu Apa?" tanya Amara yang sudah mulai tenang.
Emir menyampirkan helaian rambut Amara yang menjuntai menempel di wajah akibat basahnya air mata.
"Mewujudkan Impianku yang terakhir," tukas Emir, memandang lekat manik mata Amara yang kecoklatan.
"Caranya?" tanya Amara lagi dengan mimik wajah polos.
Emir tampak diam sejenak, menghirup napas dalam, lalu meraih kedua telapak tangan Amara dan membawanya kedepan dada bidang pria itu. "Jadilah Istriku," pinta Emir. Kemudian sebuah kecupan dia layangkan pada kedua telapak tangan Amara.
Amara tak merespon. Dia terlihat masih mengolah perkataan Emir barusan.
"A-apa?" tanya Amara yang baru menyadari ucapan Emir. Dia tak percaya bahwa Emir meminta hal yang sudah lama dia kubur.
Pernikahan.
Hal itu sudah dia buang jauh-jauh dari kamus hidupnya.
Semenjak tragedi pemerkosa*n yang dialaminya. Amara sudah bertekad untuk hidup sendiri dan fokus membesarkan putranya saja.
Wanita itu masih trauma. Dia masih takut.
Tapi dia juga tak menyangka. Saat mendengar ucapan Emir barusan, dirinya tak merasakan ketakutan yang selama bertahun-tahun ini membayanginya.
"Hei. Semua akan berjalan dengan baik,"
"Aku percaya pada, Emir!"
Amara terngiang ucapan Melani sebelumnya. Jika Melani sepercaya itu, harusnya Amara bisa lebih percaya melebihi keyakinan Melani. Bahwa Emir akan membahagiakannya.
Amara menatap mata Emir. Dia mencoba menelusuri rasa percaya dirinya yang sudah lama menurun melalui kedua mata pria itu.
Bisa, kah?
"Bantu aku mewujudkan harapanku untuk menjadi pendamping hidupmu, dan juga keinginan Aidan agar aku menjadi Papanya!" tegas Emir yang semakin dalam menatap Amara.
"Kamu yakin, Mir?" tanya Amara untuk memastikan bahwa Emir sadar akan ucapannya barusan.
Amara hanya takut. Dia takut jika perkataan Emir ini hanyalah bentuk rasa kasihan padanya saja.
"Kamu lagi nggak mengasihaniku atas kondisi--"
Emir menggeleng cepat. " Mana ada yang seperti itu?" sergah Emir. "Sudah lama sekali aku ingin memintamu menungguku. Tapi ... aku tidak punya kepercayaan diri yang tinggi untuk meminta hal seperti itu darimu," ungkapnya dengan sesal.
"Kenapa?"
"Karena kamu Putri yang berharga bagi orang-orang yang sangat aku hormati," jelas Emir.
Orang tua Amara adalah sosok sempurna yang begitu menyayangi putri semata wayang mereka.
Semasa orangtua wanita itu masih hidup, tak pernah sekalipun Amara mendapat perlakuan buruk. Namun, meski demikian, perbuatan orangtuanya yang sangat memanjakan Amara, tak membuat wanita itu besar kepala dan arogan.
Kasih sayang yang berlimpah juga dirasakan Emir saat pria itu menginjakkan kakinya di rumah Amara sejak dia berusia 6 tahun. Bahkan fasilitas yang diberikan pada Amara--juga dapat Emir rasakan sepenuhnya.
Padahal Emir hanyalah anak dari teman Ayah Amara yang dipekerjakan dirumah mereka.
Itulah alasan mengapa dia tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk meminta Amara menunggunya sampai pria itu sukses meraih impiannya.
Impian untuk menjemput Amara dengan persiapan materi yang mumpuni.
Dia hanya ingin membuat Amara tetap pada posisinya. Sebagai Putri yang berkelimpahan harta serta kasih sayang seperti almarhum kedua orangtuanya mengasihi wanita itu.
"Aku percaya diri sepenuhnya untuk bisa membuat kamu dan Aidan hidup tenang dan nyaman bersamaku!" tegas Emir lagi, dengan keyakinan yang tak terbantahkan.
"Aku mohon ...," pinta Emir dengan memelas. "Percaya padaku ...," rayunya lagi dengan merengkuh jemari Amara yang dingin menuju embusan nafas hangat yang keluar dari bibir Emir lalu mengecupnya.
Perlahan Amara mendekatkan bibirnya ke arah jemari-jemarinya yang tengah digenggam Emir tepat didepan bibir pria itu. Amara menghirup kulit jemari Emir yang putih bersih dengan aroma maskulin yang hangat.
"Iya, Mir! Aku mau!" sahut Amara yang membuat Emir terperanjat dan segera membawa tubuh wanita itu dalam pelukannya.
...Bersambung...