
...Rencana Menemukanmu...
"Kondisi Kediaman Salim sudah mulai terlihat lebih hidup, Tuan" ujar Edo mengakhiri laporannya prihal pengurusan Rumah milik Amara.
Emir terlihat puas dengan cara kerja Asistennya itu. Edo bekerja pada Emir sudah hampir empat tahun, tepatnya sejak Izekai--Perusahaan yang di bangun bersama dengan Helma mulai berkembang pesat saat di Jepang--Kantor Pusat Izekai berada.
Kenyataan bahwa Emir dan Edo hampir seumuran, hal itu tak membuat keduanya berkuliah dalam tahun yang sama.
Itu dikarenakan Emir yang lulus jauh lebih cepat dari pada Edo.
Namun kemahiran Edo dalam bersosialisi membuat Emir berani menjadikannya sebagai Asisten Pribadi, selain karena mereka sama-sama Orang Indonesia tentunya.
"Satu lagi, Do. Jangan sampai semua ini terdengar ditelinga yang lain. Terutama Helma" desis Emir.
Kemudian ponsel Emir berdering, ternyata Panca--teman lamanya yang melakukan panggilan tersebut.
"Oke, Do. Kita lanjutkan nanti" ujar Emir yang langsung dipahami Edo. Dia pun segera pamit undur diri.
"Halo, Ca. Giamana?!" sapa Emir saat panggilan itu ia angkat. "Oke, saya kesana sekarang".
Setelah melakukan panggilan singkat, akhirnya Emir bergegas menemui Panca di tempat yang sudah disepakati.
Dan disinilah mereka, di Restauran Padang yang letaknya lumayan jauh dari kawasan tempat kerja Emir.
Pertemuannya dengan Panca siang ini adalah yang kedua kalinya sejak Emir pulang ke Indonesia.
Pertemuan kali ini juga untuk membahas rencana Reuni yang diusulkan Panca untuk membatu Emir--menemukan Amara.
REUNI SATU DEKADE hanyalah salah satu alasan saja bagi Emir dalam rencana pencariannya selama ini.
Selain untuk mengukuhkan silaturahmi antar Alumni, acara reuni itu juga bertujuan untuk membangun kesejahteraan dalam bidang ekonomi.
Dan Panca selaku perwakilan yang bertanggung jawab untuk mengurus acara itu bersama beberapa Alumni lainnya--tidak termasuk Emir.
Dalam hal ini, Emir hanya ada dibelakang layar, atau lebih tepatnya sebagai orang yang hanya akan mendanai acara tersebut.
Undangan pun sudah di sebar seminggu lalu melalui media elektronik; Radio, Televisi bahkan sampai Banner iklan yang biasa dipasang di jalan utama atau jalan-jalan besar.
"Semoga renca ini bisa membuat 'Dewi' mu turun dari Khayangan ya, Mir?" ujar Panca sambil menepuk bahu Emir.
Panca adalah orang pertama yang menyadari perlakuan istimewa dari Emir untuk Amara bukanlah sekedar tanggung jawab semata--karena pria itu yang masih tinggal bersama Amara sejak masih kanak-kanak.
Namun, Panca dapat melihat kilatan posesif dari sahabatnya itu yang tidak bisa dia lakukan seenaknya, karena Emir merasa tak pantas untuk Amara saat itu.
Dan hari ini Panca melihat sosok Emir yang lebih dari kata 'posesif' saat mereka sedang membahas perihal 'Reuni' untuk memunculkan sosok Amara yang sudah bertahun-tahun Emir cari.
Di sisi lain, sosok wanita yang sedang di bicarakan Emir dan Panca, kini terlihat sedang melakukan pekerjaanya dengan teliti, sudah hampir satu minggu Amara tinggal di Rumah itu.
Kalau dulu dia adalah pemiliknya, sekarang dia adalah tukang bersih-bersihnya. Tak ada rasa canggung yang dia rasakan, mungkin karena sebagian besar kenangannya tercipta di rumah ini.
Bohong jika wanita itu tidak merasa sedih. Tapi kenyataan bahwa dia bukanlah lagi sebagai pemilik rumah itu harus dia terima bukan?
"Kapan Pemiliknya datang?" gumam Amara sambil menggosok keramik pajangan dengan kain.
Pasalnya selama dia mulai bekerja di Rumah itu, dirinya sama sekali belum melihat batang hidung si Pemilik.
Yang ada hanya tukang kebun yang hanya sekali muncul beberapa hari lalu, itu pun hanya di pagi hari.
Saat sedang berkelana dalam kebingungan nya, tiba-tiba ponsel Amara berdering. Saat dia melihat nama pemanggil yang tersemat disana, Amara melebarkan matanya disertai helaan nafas kasar.
...Bersambung...