
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan ku ulangi
Maafkan jika kau ku sayangi
Dan bila ku menanti
Pernahkah engkau coba mengerti
Lihatlah ku disini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
...
ALUNAN lagu dari band yang kala itu masih bernama Peterpan, mengisi kesunyian dua orang dewasa didalam mobil sedan hitam yang baru pertama kali Emir kendarai sejak beberapa bulan lalu dia membelinya.
Mobil yang sengaja dia beli dikhususkan untuk Amara saja, bukan untuk wanita lain. Semua itu ada alasannya. Diawali dari kisah Emir yang pernah memberi tumpangan pada Helma di atas motor pemberian ayah wanita disebelahnya saat mereka SMA dulu.
Hah... jika Emir mengingat momen itu, rasa bersalah dalam dirinya semakin menghantam.
Semoga saja Amara tak mengingat lagi kejadian dulu. Walau mustahil sih. Sebab jenis manusia bernama wanita adalah pengingat 'sejarah' terbaik di muka Bumi ini.
Sudah hampir sepuluh menit keduanya terdiam sejak keluar dari kediaman Amara. Selama perjalanan itu Emir sesekali melirik Amara yang tengah duduk disebelahnya sambil memandang ke arah luar jendela kaca mobil. Sedangkan Aidan yang duduk sendiri di kursi belakang sudah tertidur pulas karena lelah bermain dengannya seharian ini.
Potongan bait lagu Terdalam yang sedang mengalun itu menyentak perasaan Emir. Lelaki itu sadar, bahwa perempuan yang duduk disebelahnya tidak atau mungkin belum memiliki perasaan yang sama dengannya. Emir merasakan hanya dia yang merasa jatuh cinta sendirian.
Bukan karena Emir yang bucin atau budak cinta kalau kata anak jaman sekarang. Tapi memang dari dulu Emir tak pernah memandang perempuan lain disekitarnya untuk menjadi bagian dari masa depannya. Hanya Amara yang ada dalam rencana masa depannya itu.
Dari awal Emir menyadari perasaannya pada Amara mulai tumbuh berbeda saat mereka masih duduk di bangku SMP. Entah mengapa saat itu Amara belia terlihat sangat cantik dari biasanya dimata Emir. Perasaan jengah yang pernah dia rasakan kala dulu Amara bersikap bossy dan manja, menjadi begitu terlihat menggemaskan di mata Emir saat dia menyadari ada perasaan yang lebih dari sekedar teman.
Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan kukenang di hati saja
...
Apa itu 'kan kukenang di hati saja'?!
Sudah menanti bertahun-tahun kemudian harus rela tak dimiliki saat 'sang ratu hati tak kembali'?
Konyol!
Emir terlihat gusar sendirian. Padahal Amara tenang-tenang saja duduk disebelahnya. Walaupun tak tau sih apa yang sedang wanita itu lamunkan.
Disaat lampu lalu lintas menampakkan warna merah. Pria itu langsung menoleh ke arah Amara yang sedari tadi diam saja.
"Are You okay?" Seharusnya pertanyaan ini ditanyakan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk wanita disampingnya.
Amara tersentak kaget karena tangannya tiba-tiba terasa dielus oleh telapak tangan yang terasa hangat yang kini sedang menangkupnya, Amara pun menoleh ke arah Emir yang kini tengah menatapnya. Perempuan itu menarik nafas halus lalu mengembuskan pelan.
"Apa ada perkataan Ayah yang membuat kamu merasa tidak nyaman?" tanya Emir lagi saat wanita bersurai hitam itu melenguh.
Sebelum kepergian mereka dari rumah Amara. Ahmad--Ayah kandung Emir itu mengajak Amara untuk berbicara empat mata.
"Mara ..., Ayah juga ingin sekali mendengar alasan kenapa Helma berbuat nekat pada Kamu, Aidan dan juga teman kamu yang bernama Sandrina.Tapi Ayah juga tidak mau kamu akan semakin terbebani oleh ucapan Helma yang mungkin saja bisa mengusikmu kedepannya."
Perkataan Ahmad beberapa waktu lalu menyadarkan Amara bahwa mulut Helma memang sering kali tak terkendali. Dan Amara sempat berpikir ulang untuk rencananya menemui wanita yang pernah menuduhnya sebagai perempuan jalangg. Bahkan jauh sebelum Helma mengatai Aidan anak haram, perempuan yang pernah satu sekolah di bangku SMA dengannya dulu itu mengatainya anak manja. Padahal mereka tidak bisa dikatakan dekat seperti layaknya Sandrina yang mengenal Amara luar dalam. Amara sungguh tak terima saat itu.
"Apa dia melakukan semua itu karena aku rebut kamu dari dia?" Bukannya menjawab pertanyaan Emir, Amara malah melantur tak jelas.
"Kamu bicara apa?" Emir melepaskan tangan Amara yang sedari tadi dia genggam, lalu berpindah mengusap dahi Amara yang mengerut agar wanita yang disayanginya itu jangan sampai terbebani oleh hal tak penting. "Tidak ada yang merebutku dari Kamu! Dari awal aku yang MEMILIH kamu!" Emir menegaskan kalimat akhir. Lelaki itu ingin wanita yang sebentar lagi akan dipinangnya tau seberapa dalam perasaannya selama ini.
Amara menunduk. Dia menggeleng lemah, "Aku gak secantik dan sepintar Helma. Kenapa kamu maksa buat nikahin aku?!" Amara menjeda, "Bahkan aku memiliki anak dari seorang bajingan yang nggak Aku kenal!" Kalimat itu terdengar menyayat hati Emir. Luka Amara adalah lukanya.
"Tweety ..."
TIIIN!!
Saat Emir akan berbicara, bunyi nyaring klakson mobil menyadarkan lelaki itu bahwa kini lampu lalu lintas sudah berubah menjadi warna hijau. Dia menghela nafas kasar. Kesal karena ucapannya terpotong oleh klakson mobil sialan dibelakangnya.
"Kita tunda dulu ke rumah Om Fahri," kata Emir sambil melajukan mobilnya kembali.
"Kita mau kemana?" tanya Amara yang sedikit panik saat Emir mengambil jalur lain yang semakin menjauh dari kediaman Paman wanita itu.
...Bersambung...