Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
147| Lawan Tangguh Emir



EMIR sepertinya memang tidak handal dalam hal-hal romantis. Lihat saja bagaimana cara lelaki itu mengajak wanitanya menikah. Padahal Amara adalah sosok yang sudah dinantinya hampir seumur hidup pria itu. Meminta menikah dengannya saat dia sedang di cukur jenggot. Dan di kamar mandi pula. Ya, itulah kenyataan baru tentang Emir.


Beruntung Amara bukan lagi gadis dengan sifat manja seperti dulu yang memimpikkan dilamar seperti ala kisah dongeng kerajaan. Bagi wanita itu sekarang, apa yang diutarakan Emir lebih penting, dibandingkan sebuah lamaran atau pernikahan dengan konsep mewah. Emir memang sangat langka pikirnya.


...----------------...


[ Kalian jahat ya! Enggak. Bukan kamu Ra! Tapi Emir yang jahat!] suara Sandrina pada panggilan telpon sore itu begitu memekakkan telinga.


Setelah Amara memberitahukan prihal rencana Emir yang akan menikahinya lewat kantor urusan agama saja. Tanpa pesta dan sebar-sebar undangan. Sandrina langsung murka.


Bukan tanpa alasan Sandrina semarah itu. Wanita itu sangat ingin pernikahan Amara dilakukan seperti rencana sebelumnya. Bahkan Emir juga turut andil dalam merancang rencana mereka. Dan kini seolah ingkar, Emir hanya ingin menikahi Amara seadanya. Apakah lelaki itu benar-benar pelit, pikir Sandrina.


Emir hanya meringis saat dia juga turut dengar apa yang dibicarakan Sandrina. Karena Sandrina meminta panggilan itu dilakukan dengan loud speaker agar Emir pun dapat mendengarnya.


"Na, akhir bulan ini aku akan memboyong Amara dan Aidan ke kampung halamanku. Orang-orang disana pasti akan mempertanyakan status Amara yang akan tinggal dirumah orangtua ku, aku tidak mau Amara menjadi perbincangan yang aneh-aneh. Sedangkan aku masih ada urusan yang membuatku tak bisa bersama mereka, dan--"


[Sejak kapan kamu peduli dengan apa yang dikatakan orang, Mir?!] Sandrina langsung menyela ucapan Emir dengan nada yang terkesan sinis.


Benar apa yang diutarakan Sandrina. Bahkan bertahun-tahun makian Sandrina pada Emir yang selalu mengatakan lelaki itu dengan sebutan "kacung... Orang tak tau malu... Benalu..." Emir tak pernah menggubrisnya.


Masih banyak urusan yang harus Emir selesaikan sebenarnya, hal itu termasuk pengaturan perusahaan kecil miliknya yang didirikan bersama Edo--mantan asisten pribadnya. Belum lagi kasus sabotase kecelakaan yang membuat Emir harus menempuh jalur hukum agar membuat orang-orang itu jera.


Ya. Helma dan mantan supir pribadi Emir--Sukardi, harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka. Terlebih kali ini ada kaitannya dengan putri satu-satunya dari pebisnis ternama, Panca Tanuwijaya--ayah dari Sandrina. Sudah dipastikan Helma dan Sukardi tak bisa lari dari jerat hukum.


Sampai sekarang, baik Amara maupun Sandrina tak mengetahui jika dibalik kecelakaan ini didalangi oleh Helma--teman mereka semasa di sekolah menengah. Panca dan Emir sepakat untuk tak mempublikasikan masalah ini kepermukaan. Pria paruh baya itu begitu hapal watak putrinya yang tak ada kata ampun. Bisa-bisa Sandrina membuat karirnya sendiri sebagai Desainer hancur gara-gara emosinya yang meletup-letup.


"Kalau begitu biarkan Amara dan Aidan kembali ke Australia. Biarkan Melani yang menjaga mereka sampai urusanmu selesai," tukas Sandrina.


Seketika Emir menoleh ke arah Amara, begitupun Amara yang melempar pandangannya ke arah Emir.


Sejujurnya apa yang diutarakan Sandrina ada benarnya. Melani adalah jalan satu-satunya untuk permasalahan ini. Tapi bukan ini mau Emir.


Dalam keterdiaman itu, tiba-tiba...


"Aku dan Mama mau dipulangin ke rumah Mommy?"


...Bersambung...