
MENDENGAR pernyataan Emir tadi--saat mereka masih di Apartemen lelaki itu, membuat Amara tercenung sampai malam.
Tentang rasa cinta. Entahlah, Amara pernah merasa menyesal saat lelaki itu memutuskan pergi ke Jepang saat dirinya tak mengemukakan perasaanya.
Perasaan kehilangan dan kesepian. Amara merasa sudah terbiasa melakukan semuanya bersama Emir. Namun, saat mengetahui Emir memilih melanjutkan sekolah ke luar negeri tanpa dirinya dan lebih memilih bersama Helma. Amara merasa ditinggalkan dan tidak ada artinya bagi Emir.
Dari situlah Amara merasa tersisih. Bolehkah hal itu disebut cemburu? Cemburu tandanya suka 'kan? Dan suka adalah bibit dimana cinta akan tumbuh seiring pertemuan. Tapi sayang, intensitas pertemuan itu terhenti dengan kepergian Emir. Dan rasa itu lenyap perlahan.
Hampir 10 tahun dia tak bertemu dengan sosok lelaki yang sudah lengket bagai perangko. Dan dalam rentang waktu itulah, berbagai kejadian pelik menimpa Amara sampai wanita itu lupa bahwa ada sebuah perasaan di relung terdalamnya yang sudah terkubur Dan terlupakan.
Drrt! Drrt!
Getaran ponsel Amara menyadarkan lamunanya. Kini wanita itu sudah berada di rumah Pamannya setelah diantar Emir beberapa waktu lalu. Sedangkan Aidan masih bersama Emir. Pria itu berjanji akan mengantar putranya untuk kontrol terakhir kalinya.
Melihat sebuah panggilan video yang menampilkan wajah sahabatnya, Amara dengan antusias mengangkat.
"Hai, calon Pengantin!" pekikan antusias memenuhi kamar dimana Amara berada.
Melihat wajah Sandrina yang sudah tak pucat, Amara pun ikut lega. "Gimana kondisimu, Na?" tanya Amara.
Terakhir kali mereka berbincang dan lebih tepatnya berargumen mengenai gaun pengantin--wajah sang desainer itu terlihat pucat. Namun, masih kuat adu argumen. Padahal saat itu sahabat terbaiknya masih dalam pemulihan.
"Aku sehat, Sayang. Lusa aku pulang. Kita akan bertemu untuk memastikan tahap akhir". Sandrina berkata antusias.
"Jangan bekerja terlalu keras, Na. Perhatikan juga kondisi kamu," Amara benar-benar tak habis pikir pada temannya satu itu. Kecelakaan yang mereka alami termasuk fatal. Terutama pada Sandrina yang mengalami kaki dan tangan kirinya terluka parah.
Amara jadi berpikir, apa karir sahabatnya akan berakhir?!
Disebrang video, Sandrina terkekeh. "Kamu gak perlu khawatir sama kondisi Aku, itu urusan dokter. Disini Aku hanya duduk manis sambil minum coklat panas dan tinggal tunjuk sana-sini. Semua dilakukan oleh asistenku dan ... Alfredo!" beritahunya dengan angkuh.
"Alfredo?" Amara membeo. Nama itu rasanya tak asing. Tapi diucapkan oleh Sandrina rasa-rasanya jadi terpikir seseorang, tapi tak mungkin. Apa itu nama asisten keduanya.
"Iya. Alfredo, aku mengenalnya dengan nama itu. Asisten Emir, Ra. Edo! Lelaki kaku itu yang membantuku mengurusi semuanya, bolak balik Singapur - Jakarta" sahut Sandrina yang tanpa beban seolah menjawab rasa penasaran Amara.
"Mengenalnya dengan nama itu?" Amara kembali membeo dengan kernyitan di dahinya. Ternyata benar 'Edo' yang sama.
Sejak kapan Sandrina menjadi akrab dengan Edo? Bukankah terakhir kali Sandrina dengan ketusnya menunjuk-nunjuk dengan angkuh ke arah asisten Emir itu?
"Sejak kapan kalian jadi akrab?" tak bisa menahan keingintahuannya, Amara pun berani menanyakan.
"Ah! Lain kali aku ceritakan. Aku janji. Sekarang fokus saja pada acaramu dua minggu lagi. Aku sudah booking pihak salon langganan ku. Ah! satu lagi, aku minta sampai acara akad nikah, Kamu tidak boleh bertemu dengan si Emir itu!" Sikap dan cara bicara Sandrina lebih cocok dipanggil 'mertua' dibanding sebagai sahabat 'kan? Galaknya!
"walau aku masih tak suka pada Emir. Tapi aku ingin kamu tampil lebih cantik dan pangling. Biar dia bersyukur karena kamu mau menerimanya!" Lagi-lagi Sandrina berkata arogan. Entah kenapa sahabat satunya ini tidak bisa berdamai dengan Emir yang sudah baik mau menikahinya pikir Amara.
Setelah berbincang cukup lama akhirnya panggilan video itu pun terputus. Menyisakan Amara yang kembali tercenung.
Emir. Si bocah kampung tapi tampang kota.
Anak lelaki yang pertama kali menyebut Amara dengan panggilan 'Princes'.
Anak lelaki yang selalu mengekori Amara kemana saja dia pergi.
Anak lelaki yang pendiam tapi otaknya encer dan selalu membantu Amara mengerjakan PR sampai nilai gadis itu dulu diurutan 5 teratas.
Tanpa Emir, bisakah Amara setegar ini?
Tanpa Emir, bisakah dia berdamai dan menerima Aidan--putra kandungnya untuk hidup bersama?
Amara hanya menghela nafas kasar saat mengingat semua tentang Emir.
Tuhan sangat baik mengirimkan Emir dihidupnya. Kehilangan kedua orangtua yang sangat menyayangi Amara tergantikan dengan perhatian lelaki itu yang melimpah. Kehidupan pahit yang pernah dirasakannya kini semakin memudar dan digantikan dengan rasa manis yang menyebar perlahan.
"Cintai Aku walau sedikit saja"
Permohonan yang dikatakan Emir saat itu membuat Amara berpikir. Bagaimana dia bisa tak mencintai Emir disaat pria itu memberikan segalanya.
Mengambil sikap egois dan mulai menikmati perasaan ini adalah hal terbaik. Pikir Amara.
Lupakan saja perkataan Helma yang bilang bahwa Amara adalah benalu, Parasit sesungguhnya!
"Kamu itu perempuan licik! Memanfaatkan kemurnian dari perasaan Emir untuk bertanggung jawab sama kehidupan kamu yang tidak jelas! Aku yang mendampingi Emir sampai dia di titik tertinggi. Tapi malah kamu yang menikmati hasilnya. Dasar pencuri!"
Rentetan Kalimat Helma itulah yang membuat Amara terpenjara dalam rasa bersalah.
"Kalau memang memanfaatkanku adalah cara terbaik agar kamu bisa bersamaku, Aku rela, Amara. Manfaatkan aku sampai kita menua dan kembali pada Pencipta. Aku ikhlas. Asal kita tetap bersama."
Entah terbuat dari apa hati Emir. Perkata lelaki itu membuat Amara tak bisa lagi berkata-kata.
Mulai detik ini Amara akan belajar menjadi dirinya sendiri. Dia berharap dengan mencintai dan menghargai dirinya sendiri dia dapat memberikan yang terbaik untuk orang yang dia sayangi, yaitu putranya dan juga Emir--calon suaminya.
Amara hanya terkikik geli saat kembali membayangkan teman masa kecilnya akan menjadi teman hidupnya.
Haruskah dia mulai mengucapkan kalimat sakral itu. Kalimat yang akan membentuk kisah mereka ini.
Ya. Amara akan mengucapkannya langsung. Tepatnya dua minggu lagi.
"Tunggu Aku, Mir!"
...Bersambung...