Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Kenalan Lama



SEDAN hitam yang dikendarai Emir berhenti di Basemen kawasan Apartemen elite dibilangan Jakarta Selatan.


Amara tau betul lokasi perhentian mereka saat ini. Walaupun bukan tempat yang sama dimana dulu dia bekerja sebagai Cleaning service di kawasan Apartemen mewah lainnya, akan tetapi dia pernah mendengar bahwa bangunan yang memiliki 23 lantai itu, setiap unitnya dibandrol dengan harga selangit.


Amara hanya berdecak kagum memuji teman kecilnya itu yang sekarang begitu sukses. Seandainya sang Papa masih hidup, pastilah akan ikut bangga pada pencapaian Emir sampai saat ini pikir Amara.


Dunia Amara seolah berputar bagai roda. Dulu dia dan keluarganya berada di atas, sampai bisa menghidupi Emir dan kedua orangtua lelaki itu. Namun, kini seolah berbalik telak dan cepat, Amara yang kini ditanggung keseluruhan biaya hidupnya oleh lelaki itu. Bahkan tak tanggung-tanggung, Emir bersedia menjadi sosok ayah bagi putranya--Aidan yang malang.


Sungguh berat bagi Amara menerima semua kebaikan seorang Emir Hamzah. Itulah yang membuat dia berpikir apakah langkahnya benar untuk menerima semua pengorbanan Emir? Apakah dia tidak seperti sedang memanfaatkan?


Sementara perasaan wanita itu untuk Emir seolah tertutup oleh yang namanya hutang budi.


"Aku akan gendong Yeden" Perkataan Emir membuyarkan lamunan Amara. "Kamu bawakan tas Yeden saja," lanjutnya sambil mengangkat tubuh bocah lelaki itu dalam pelukannya.


Sejak kapan pria itu sudah ada didekat putranya?


Amara pun segera menuruti saja perkataan Emir untuk mengambil tas kecil milik Aidan. Saat bagasi mobil terbuka, wanita yang masih terlihat linglung itu mulai tersadar. "Kenapa tas Yeden diturunkan?" tanya Amara menatap ke arah Emir yang berdiri sambil menggendong Aidan dalam pelukan.


"Yeden akan tinggal bersamaku sampai resepsi menjelang. Jangan bilang kamu lupa," ujar Emir. "Ah! Aku sih tidak keberatan kalau kamu juga ikut tinggal ...," goda Emir dengan kerlingan nakal yang dibalas pelototan dari mata Amara.


Bagaimana bisa seorang Emir berkata dengan sikap menggoda seperti itu. Bisa-bisa Bunda bukan hanya mengusir Emir dari rumah Amara saja, akan tetapi bisa jadi Emir ditendang ke planet Mars jika ucapan nakalnya tadi didengar sang Ibu.


"Kalau sudah berdua-duan di dalam Kamar itu, orang ke tiganya SETAN, Mir! Setan itu paling seneng mengelabui yang haram agar terasa halal!"


Seketika Amara bergidik kala mengingat raut wajah Bunda perinya berubah sangar saat menceramahi Emir habis-habisan, sampai akhirnya memulangkan anak lelaki semata wayangnya itu untuk menempati Apartemennya sendiri.


"Hai Bro!"


Emir terhenti kala melihat seorang lelaki yang sudah lama tak ditemuinya. Sosok lelaki yang pernah lumayan akrab beberapa bulan lalu. Bahkan keduanya pernah terjalin dalam sebuah kerjasama sebelum akhirnya Izekai--perusahaan dimana dia mengabdi dulu kini telah turun pamor tak lama setelah kasus penghianatan menimpa Emir.


"Andre?! Apa kabar?" Emir sungguh terkejut dengan kehadiran sosok lelaki berpenampilan parlente itu. Dia pun langsung membalas uluran tangan lelaki yang bernama Andre itu.


Seketika Andre terlihat terkejut dengan mata terbelalak, walaupun di detik kemudian ekspresi terkejut itu sudah lenyap dan tergantikan dengan senyum lega.


"Apa yang Kau lakukan di sini?" Pertanyaan Emir membuat Andre mengalihkan pandangannya dari Amara. "Kau membeli unit di sini juga?" Emir lagi-lagi penasaran dengan keberadaan lelaki didepannya.


Emir ingat betul saat Andre membuat kekacauan pada bekas Apartemen miliknya beberapa bulan lalu. Mengadakan pesta zina ditempat pria itu tanpa izin. Dan yang lebih parah lelaki itu mengundang beberapa penari stiptis untuk memenuhi hasrat gila teman brengseknya itu.


Emir sangat murka dibuatnya dan dia memaksa lelaki bernama Andre ini bertanggung jawab untuk membeli Apartemen miliknya karena Emir tak sudi balik ke kawasan itu. Dan sialnya, ternyata Amara lah yang bertugas membersihkan unit itu yang penuh dengan bekas kemaksiatan. Emir terlambat tau.


"Tidak!" Andre menyanggah asumsi Emir secepat kilat. "Aku hanya bantu mengurus tempat Helma untuk .... Ah! Sebelumnya Aku ikut prihatin dan menyesalkan apa yang telah dia lakukan sampai Kau dan ...," perkataan Andre terhenti saat tatapannya beradu dengan wanita disebelah Emir.


Andre benar-benar tak menyangka bahwa sosok Helma yang anggun dan supel yang sempat mencuri hatinya itu cukup nekat juga melukai sosok lemah yang saat ini berdiri disebelah Emir. Wanita disamping Emir bahkan jauh terlihat lebih kecil dari sosok wanita yang kini ada dibalik jeruji besi.


"Dari apartemen Helma? Untuk apa?" selidik Emir. Tidak mungkin kan Andre mengadakan pesta maksiat lagi?


"Keluarga Helma minta bantuan untuk mengurus berkas kepemilikan. Karena mereka akan menjualnya," ungkap Andre yang hanya di angguki Emir dengan raut datar.


"Semoga prosesnya dilancarkan" sahut Emir yang tak ingin menanggapi lebih. "Aku permisi dulu, Ndre," pamit Emir yang kemudian berlalu dari hadapan Andre sambil menggandeng lengan Amara.


"Mir!" Panggilan Andre membuat langkah Emir terhenti dan membuat pria itu sedikit menoleh. "Aku harap kita bisa ngopi bareng kaya dulu. Ajak juga si Edo," kata Andre dengan senyum simpul seperti pertama kali mereka menjalin pertemanan beberapa tahun silam.


"Sure!" Setelah mengatakan itu, Emir pun kembali melanjutkan langkah bersama Amara menuju lift yang saat ini sedang terbuka dan langsung tertutup setelah masuk ke dalamnya.


Setelah tadi melihat Emir bersama wanita yang dulu pernah Andre anggap sebagai cewek ular itu karena hasutan Helma, dia merasa bersalah. Karena nyatanya Emir lah yang terlihat begitu posesif pada wanita beranak satu bernama Amara itu.


"Ternyata perempuan itu yang Kau ceritakan dulu, Mir .... Selamat Bro! Aku doakan semua rencanamu kali ini berjalan lancar tanpa penghalang," gumam Andre dengan kelegaan tulus pada temannya yang dulu dia anggap aneh karena hanya mengharap satu perempuan saja dihidupnya. Beda dengan dirinya yang memang penggila wanita. Setelah itu Andre pun berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan senyum.


...Bersambung...