Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
39| Takdir Amara



...Takdir Amara...


SUDAH empat puluh hari sejak meninggalnya Andar yang terbilang mendadak.


Sanak saudara dari keluarga besar Orang tua Amara berkumpul di rumah megah itu untuk melakukan acara Empat-Puluh Harian.


Orangtua Emir pun masih menginap di sana. Ahmad dan Fatma datang tepat setelah mengetahui kabar duka yang diberitahukan Liana secara khusus.


Lain halnya dengan Melani dan Sandrina yang tengah menempuh pendidikan di Luar Negri. Mereka tak bisa hadir. Sejak tersiar kabar duka dari Amara, kedua sahabatnya hanya bisa mengirimkan karangan bunga--untuk menyampaikan belasungkawanya.


"Apa Bunda tinggal disini saja buat temenin kamu, sayang?" Ucap Fatma sambil mengelus rambut panjang Amara yang sedang tidur di atas ranjangnya.


Amara kemudian terduduk, gadis itu menatap sendu ke arah wajah Fatma yang sangat mirip dengan Emir.


"Makasih, Bunda. Tapi ... Amara harus bisa menghadapi semua, kan?" lirih Amara, gadis itu mencoba untuk tersenyum


Fatma kemudian memeluk gadis yang tubuhnya semakin kurus. "Iya. Kamu sekarang sudah menjadi gadis dewasa," Fatma melepas pelukan itu dan beralih menangkup wajah Amara yang sudah tidak chubi lagi. "Bunda lupa. Bunda masih berpikir bahwa kamu masih gadis kecil yang manja." Fatma mengecup pipi gadis itu.


Semua sanak saudara dari keluarga Orangtua Amara sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Ada yang menuju Solo, Yogya dan juga Surabaya. Hanya satu atau dua kerabat yang tinggal di Jakarta. Salah satunya Om Fahri, adik kandung dari Almarhum Papa Amara, yang tinggal di Bekasi.


Dan keesokan harinya Fatma dan Ahmad yang menyusul pamit kembali ke kampung halamannya.


Kini Amara hanya berdua saja--dengan Sang Mama.


...•••...


Sudah satu tahun sejak kepergian Andar, kini Liana menjadi tulang punggung untuk menghidupi dirinya dan sang Putri.


Bahkan Supir serta para pekerna dirumah itu terpaksa dipulangkan, karena Liana merasa berat membayar gaji untuk para Asistennya semenjak kepergian Suami tercinta.


Bahkan Amara diam-diam berhenti dari Kampusnya dan mengubur secara dalam cita-citanya bersama semua kesedihannya. Liana dama sekali tak tau.


Sudah hampir tujuh bulan Amara bekerja sebagai pelayan di sebuah pusat perbelanjaan.


Saat mengetahui Sang Mama bekerja banting tulang sendirian, akhirnya gadis itu nekat memakai ijasah SMA nya untuk melamar kerja--untuk membantu memenuhi kebutuhan.


Getaran ponsel milik Amara membuat gadis itu berhenti dari kegiatannya yang sedang mengecek barang.


Sebuah telpon dengan nama pemanggil yang begitu dia kenal tercetak dilayar pemanggil.


"Halo Mah?" sambut Amara saat ponsel itu terangkat.


^^^("Maaf, apa ini anak dari Ibu Liana?") suara wanita lain dari seberang telpon membuat Amara mengerutkan dahinya.^^^


"Betul, ada apa ya, Bu?"


Amara menjatuhkan sebuah barang yang bertuliskan Passeo, sebuah merek tisu. Lalu gadis itu meminta tolong pada teman kerja disebelahnya untuk menggantikan. Amara berlari kencang ke arah pintu Karyawan dan menjelaskan prihal kejadian yang menimpanya pada sang Supervisor.


Hampir Tiga puluh menit perjalanan gadis itu menuju tempat dimana Mamanya berada.


Kini gadis itu sedang berada diruangan Dokter yang ternyata selama ini merawat Liana.


"Kanker?!"


Amara hampir berteriak saat mendengar penjelasan Doter Niken yang menunjukan buku catatan sang Mama yang memang rutin periksa saat Almarhum Papanya masih hidup.


Gadis yang tubuhnya semakin kurus itu terkejut sekaligus bingung dengan keadaan yang dia alami sekarang. Mengapa dia baru tau?


Seolah Tuhan sedang menguji hidupnya.


Semua berawal dari berpulangnya Sang Papa yang sangat dia cintai dengan cara mendadak.


Ditambah lagi kondisi Ekonomi keluarganya pasca ditinggal Papanya yang semasa hidupnya sebagai tulang punggung di keluarga itu.


Dan sekarang, kenyataan Sang Mama yang ternyata sudah bertahun-tahun mengidap Kanker Darah. Kejutan macam apa ini?!


Itu semua membuat Amara tak kuasa menopang tubuhnya. Gadis itu pingsan di ruang Dokter disertai dengan air mata yang bercucuran.


...Bersambung...