
...Parasit...
SEKETIKA mata Amara membulat. Nafasnya mulai cepat, raut wajah gadis itu juga mulai terlihat geram.
"Kenapa? memang seperti itulah kamu." Dengan santainya Helma kembali berucap.
Amara mencoba meredam kekesalannya. "Aku nggak pernah mengusik kamu. Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu. Bahkan kamu bukan orang yang termasuk dekat denganku untuk bisa bicara seperti itu!" desis Amara.
Helma mendekat ke arah Amara. Gadis itu menatap tajam ke arah Amara dengan durasi yang cukup lama, Amara pun tak mau kalah, dia juga menatap Helma yang kini tepat didepannya.
"Arogan sekali! Kamu hanya gadis manja yang bertopang pada nama besar Orangtuamu! Jika tanpa mereka ... aku yakin kamu bukanlah apa-apa! Bahkan tak sebanding dengan Emir!" bisik Helma didepan wajah Amara. Kemudian gadis itu berlalu dengan angkuh.
Amara teringat ucapan yang dia lontarkan pada Emir beberapa minggu lalu. Dan sejak itu, Amara tak pernah sekalipun berbicara lagi pada Emir.
Saat berada dirumah pun, Amara mengacuhkan lelaki itu. Walaupun berkali-kali Emir memohon untuk berbicara, namun Amara tak menggubrisnya.
Gadis itu sadar. Bahwa ucapannya sangat tidak pantas pada Emir saat itu. Namun rasa benci yang entah dari mana bermula, membuat gadis itu berani merendahkan orang lain. Walau itu bukan sikap Amara yang sebenarnya. Namun semua sudah terjadi.
Amara meremass rok sekolahnya. Bahkan gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Sebutan 'Parasit' yang dituduhkan oleh Helma membuatnya sakit hati.
Hari demi hari berlalu begitu cepat, hingga akhirnya mereka menjajaki kelas 3 dengan jurusan yang telah dipilih. Sebagian memilih jurusan karena memang sudah terencana. Namun sebagian yang lain memilih jurusan hanya melalui peruntungan atau karena ikut-ikutan saja.
Emir begitu dikenal dengan prestasinya di sekolah itu. Selalu mendapatkan hasil terbaik dari kejuaraan Matematika sudah menjadi langganan baginya.
Tak berbeda dengan Emir. Amara pun selalu mendapat juara 1 ditingkat Lari cepat untuk acara pekan olah raga dan sejenisnya.
Gadis itu sangat gemar berolah raga. Hampir semua jenis olah raga disukai Amara. Bahkan kini cita-cita nya adalah menjadi seorang atlet Lari Nasional. Semoga saja.
Menjalani Dua Semester begitu menyenangkan bagi Emir dan Amara. Keduanya benar-benar menikmati menjadi murid putih abu yang sesungguhnya dengan segudang prestasi.
Namun ada ruang kosong pada diri keduanya. Bunga-bunga dan kupu-kupu yang biasa menghinggapi para remaja diusia belia itu tak dirasakan Emir dan Amara.
"Liat tuh! Si Helma nyebelin banget. Sok paling cakep. Sok paling pinter, sok paling iye!" tunjuk Sandrina, memberi tahu Amara. "Cocok. Emir sama Helma itu sama-sama belagu!" maki gadis itu lagi sambil melihat ke arah kelas IPA yang ditempati Emir dan Helma.
Sandrina tidak kaget saat mengetahui Helma satu kelas dengan Emir. Gadis itu memang terlihat selalu menempel pada Emir sejak selalu dikirim bersama untuk mengikuti kejuaraan sains di Sekolahnya.
"Ah! Jangan bahas mereka, Na. Nyebelin" Amara beranjak dari duduknya. Lalu dia berkata lagi sambil melirik ke arah Emir dan Helma. "Cuma menghabiskan energi positif, kalau lihat hal yang negatif kaya gitu!" ujarnya. Lalu masuk kedalam kelas.
Dari kejauhan, Emir melirik Amara yang bangkit dan memasuki kelas. Dan tak lama kemudian, Emir menutup bukunya, lalu berdiri dan pergi meninggalkan Helma.
"Emir ... Kok pergi. Ini bagaimana?" pekikan Helma tak digubris Emir yang sudah menjauh.
...Bersambung...