
MENDENGAR Emir berkata 'I love you' --Amara hanya tersenyum saja.
Sebenarnya Amara masih tak percaya diri untuk sebuah pengakuan rasa. Terlebih dengan kondisinya yang sekarang.
Menerima tawaran Emir hanyalah untuk membuat kehidupan Aidan sempurna, tidak lebih.
Mengingat kembali niatnya akan sebuah 'status', membuat Amara jijik terhadap dirinya sendiri. Benar kata Helma, sebutan parasit yang dilontrakan perempuan itu saat mereka dibangku SMA memang tepat untuk dirinya saat ini.
Membayangkan hal itu, membuat Amara tak sadar memejamkan matanya tanpa merespon ucapan Emir barusan.
Melihat Amara yang terpejam, Emir menjadi tenang. Apalagi tidur di satu ranjang yang sama dengan wanita itu beserta bocah lelaki yang sebentar lagi akan resmi menjadi anaknya dalam sebuah dokumen keluarga.
Kedatangan Emir ke Australia sejak pagi setelah kepulangan dari Jepang kemarin, tentunya membuat tubuh pria itu sangat lelah. Namun, karena perasaan dan pikiranya senang dan tanpa beban, maka kelelahan itu sirna seketika. Apalagi kini Amara sudah aman berada dalam lingkarannya dan juga mau menerimanya.
Sungguh, malam ini adalah tidur ternyaman yang pernah pria itu rasakan selama hidupnya. Begitulah pikir Emir.
Keesokan paginya rumah Melani ramai oleh teriakan Rossie dan Aidan yang sedang main kejar-kejaran.
Rossie begitu senang saat Aidan berpura-pura menjadi seekor macan yang tengah mengejar dirinya yang saat ini sedang memakai kostum kelinci.
"Roarrr!! Aku akan memakanmu Ossie. Agar kau tak berisik!" pekik Aidan meniru suara auman macan--seolah akan menerkam mangsanya sambil berlari menggunakan kostum macan hitam.
Rossie yang mendengar ucapan Aidan, tiba-tiba menghentikan larinya secara mendadak--membuat Aidan hampir terjungkal menahan tubuhnya agar tak menabrak Rossie yang berdiri dengan wajah cemberut ke arah bocah lelaki itu.
"Kau mengatai suaraku jelek?" tanya Rossie dengan sinis.
Aidan menggeleng. "Aku mengatakan suaramu berisik," sahut Aidan dengan wajah datar.
Sejak kejadian menyanyi disekolah, kemarin. Aidan tak henti-hentinya mengejek Rossie dengan 'si berisik'. Tentu saja anak perempuan Melani itu tak terima. Dia membela dirinya bahwa yang dia lakukan adalah tehnik dalam bernyanyi.
"Itu sama saja, Yeden!" pungkas Rossie. "Kau selalu mengejekku. Aku sebal!" ungkapnya lagi sambil berjalan keruang keluarga.
Melihat Rossie yang berjalan dengan menghentakkan kaki tak suka. Aidan pun mengikutinya dari belakang.
"Are you kidding ? (Apa kamu bercanda?)" ujar Rossie dengan tatapan tak percaya.
"It's not funny, Yeden! (Itu nggak lucu, Yeden!)" kesal Rossie dengan wajah cemberut.
Kemudian Rossie membalikan badan dan berjalan ke ruangan yang kini sedang berkumpul para orang dewasa. Disana ada kedua orangtua Rossie--Beryl dan Melani, ada juga Mama Aidan dan seorang pria yang kemarin mengaku sebagai Papa dari Aidan.
"Uncle!" panggil Rossie yang membuat Emir menoleh. "Kau mengambil Yeden dariku!" tuduhnya dengan wajah cemberut.
Semua orang dewasa yang tadi sedang berbincang, tiba-tiba terdiam dan mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang masih mengenakan kostum kelincinya.
"My honey bunny," panggil Melani pada putrinya yang sedang menatap Emir tak suka. "Bukannya Ossie selalu berdoa agar Yeden bertemu Papanya?" ujar Melani mengingatkan kembali tentang apa yang diharapkan sang putri tiap dia berdoa sebelum tidur.
"Ya! Tapi tidak untuk membawanya, Mom" tukas Rossie dengan wajah seriusnya.
Emir yang melihat reaksi anak perempuan Melani--langsung mendekatinya.
"Uncle, janji. Saat libur sekolah, Yeden akan menginap di sini. Atau Ossie yang datang ke Jakarta dan menginap disana, bagaimana?" ucap Emir berkata selembut mungkin.
Seketika mata Rossie berbinar. "Tentu. Kalau seperti itu aku akan mengijinkan, Uncle, untuk membawa, Yeden," ucap Rossie antusias.
Aidan yang melihat Rossie sudah tidak cemberut lagi--berjalan mendekati anak perempuan itu.
"Dan selama satu bulan, Aku akan setia mendengarkan kau bernyanyi," ucap Aidan yang membuat semua orang dewasa disana tersenyum.
"Janji?" Rossie menaikan jari kelingkingnya ke arah Aidan.
"Janji!" sahut Aidan yang juga menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Rossie.
...Bersambung...