Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
131| Sudah Cukup!



KABAR yang baru saja disampaikan dari sang ayah lewat sambungan telpon tadi membuat Helma sedikit berharap. Tidak mungkin seorang Emir melepaskan jabatan CEO-nya secara cuma-cuma, terlebih sudah bertahun-tahun dia menggapainya dengan susah payah.


Helma berpikir bahwa Emir akan menerima tawaran Tadaki untuk menikahi dirinya. Di mata Helma, Emir tak akan menjadi apa-apa tanpa dirinya dan juga nama besar Sakamoto dari keluarga ayahnya.


Dan kini senyum merekah terukir diwajah angkuhnya saat mengetahui siapa sosok yang datang ke rumah neneknya.


"Hai, Mir. Akhirnya kamu datang," sapa Helma yang sudah berdiri di ambang pintu. Helma sudah menunggui kedatangan pria itu sejak siang tadi.


Kendati Emir tak membalas senyumannya, Helma dengan percaya dirinya meraih lengan Emir untuk dia bawa masuk. Namun, sepersekian detik Emir melepas cekalan tangan Helma yang menggenggam tangan Emir.


Melihat gerakan Emir yang terang-terangan menolaknya, Helma mencoba tenang. "Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita," beritahu Helma dengan senyum percaya diri.


"Aku tidak --,"


"Kamu masih ingat, Mir. Dulu kamu pernah minta diajarkan cara mengolah masakan Teriyaki pada Nenekku" sergah Helma sebelum Emir terang-terangan kembali menolaknya.


Helma menatap figura mendiang Neneknya yang berjajar dengan foto lain di bufet ruangan depan. Dia meraihnya.


"Aku jadi merindukan masa-masa itu," kenang Helma sambil mengelus sebuah sketsa dengan potret dirinya dan Emir yang sedang mengapit seorang wanita tua yang dikenal adalah nenek dari Helma.


Tak dipungkiri, Emir juga merindukan sosok wanita tua dalam figura itu.


"Ya. Aku juga sangat merindukannya," aku Emir.


Helma menoleh, seolah binar harapan muncul pada tatapan wanita itu saat mendengar pengakuan Emir.


"Berkat nenek, Aku bisa membuat teriyaki kesukaan Amara dengan olahan yang tepat,"


Mencelos. Lidah Helma terasa kelu, hatinya menjadi getir tatkala nama perempuan itu kembali terdengar dari mulut Emir.


Helma menaruh kembali bingkai foto itu. Gerakannya tenang, wajahnya yang kaku dan sedikit kecewa tak luput dari perhatian Emir.


"Dalam kondisimu yang sedang tertekan seperti ini ... Kau masih bisa memikirkan perempuan manja itu" nada ejekan terdengar dari mulut manis Helma. Emir menatap tajam ke arah mata wanita yang sedang menatapnya dengan nanar.


Emir masih berdiri didekat bufet kayu yang berjarak sekitar delapan langkah dari Helma duduk. Pria itu memasukkan kedua lengannya kedalam saku celana. Mengepal kuat menahan amarah.


Mungkin jika Helma adalah seorang pria, sudah habis Helma dengan bogeman mentah yang Emir tahan.


Emir tertawa sinis. Tatapannya nyalang menghujam wanita angkuh yang kini perlahan menampakkan warna aslinya.


"Menikahimu? Begitu?" perkataan Emir ini bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan lebih seperti ejekan. "Aku sebenarnya miris dengan kalian berdua, Helma. Kau dan ayahmu terlihat seperti pecundang yang menggunakan cara murahan untuk sebuah kredibilitas" cecar Emir dengan nada datar.


Beberapa detik kemudian ...


"Apa katamu?!" Helma berdiri dengan raut wajah marah. Sungguh, dia tidak terima dengan apa yang baru saja Emir ucapkan.


"Ya. Aku pikir sudah tak perlu lagi berkata manis didepan manusia serakah seperti kalian. Terlebih setelah apa yang kalian lakukan dibelakangku" tuduh Emir sambil melempar tatapan jijik.


Helma terlihat marah. Deru napasnya naik turun tak beraturan. Dia tidak menyangka Emir akan berkata sinis padanya, terlebih dengan tatapan hina Emir yang sengaja diarahkan pada Helma.


Emir mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celana. Kini satu tangannya bertolak pinggang, dan tangan lainnya menyibak rambutnya kebelakang sambil menghela napas kasar. "Dengarkan ini baik-baik!" tunjuk Emir mengarah pada Helma yang terkesiap berdiri didepannya.


"Aku tidak peduli lagi dengan jabatan persetan itu. Dan aku muak dengan sikap kalian, terutama kau, Helma! Kau adalah manusia paling narsis yang dengan mudahnya merendahkan orang lain. Kalau kau pikir kedatanganku kesini adalah untuk menyetujui usulan bodoh ayahmu, kau salah! Dan dengan begini, Aku jadi yakin dengan langkahku selanjutnya!"


Setelah mengatakan itu, Emir langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dari rumah itu. Namun, saat langkahnya hampir sampai, Helma memekik dari arah punggung Emir.


"Kau adalah lelaki tak tau diri, Emir! Kau adalah benalu! Kau tidak sadar, bahwa tanpa Aku, Kau bukanlah siapa-siapa!" pekik Helma dengan nada pongah.


Emir berbalik badan menghadap ke arah Helma yang baru kali ini menampakkan wajah murka. Begitu percaya diri dalam balutan arogansinya.


Emir tersenyum sinis melihat kearah Helma. lalu dia berkata, "Kita buktikan saja! Siapa benalu yang sebenarnya!" geram Emir. setelah itu dia berlalu pergi.


...Bersambung...