Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
92| Minta Izin



TIDAK terasa satu bulan hampir berlalu. Lusa adalah jadwal Emir untuk menjemput dua orang yang selama sebulan ini membuat Emir melakukan hal apapun untuk menyambut kedatangan mereka.


Rencananya Aidan akan tinggal dirumah Amara--dimana sang Ibu dibesarkan. Rumah yang juga mengenalkan Emir pada keluarga Amara yang turut membangun kepribadian pria itu seperti sekarang.


Hal pertama yang dilakukan Emir tentu saja dimulai dari menata kamar untuk Aidan sesuai keinginan bocah lelaki itu.


Saat di Sidney, Aidan pernah mengatakan pada Emir bahwa dia ingin punya kamar seperti berada di ruang Angkasa.


Emir pun menyewa jasa khusus desain interior untuk mewujudkan imajinasi anak lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi anaknya dalam sebuah kartu keluarga. Semoga Aidan suka. Begitulah doa Emir.


Tidak hanya itu. Penataan taman yang dipenuhi bunga kesukaan Amara--mawar putih, juga tak luput dari perhatian. Dia ingin mawar-mawar putih itu menyambut kedatangan pemilik mereka dengan nuansa putih dihalaman depan.


Emir pun kembali merekrut beberapa orang pekerja yang akan membantu mengurus rumah Amara. Dan orang-orang itu adalah orang yang mengenal Amara saat Orangtua wanita itu masih hidup.


Oh ... yang tak kalah penting dari semua itu adalah persiapan Emir untung mempersunting Amara. Dari persiapan acara sakral sampai pesta, Emir akan dibantu oleh orang-orang yang kompeten dibidangnya. Namun, tentu saja Emir harus menunggu Amara untuk konsep yang diinginkan oleh wanita itu untuk pernikahan impiannya.


Dari seluruh persiapan yang telah disusun dalam agendanya. Hari ini Emir mendatangi salah satu orang terpenting dalam hidup Amara yang juga masih keluarga kandung dari Almarhum Ayahnya--Om Fahri. Tepatnya adik dari Ayah Amara yang juga tinggal di Jakarta.


Fahri juga mengetahui peristiwa yang pernah menimpa Amara beberapa tahun silam.


Pria berusia lebih dari setengah abad itu begitu menyesal saat mendapatkan kabar buruk yang di alami Amara. Bahkan dia sempat memberikan bogem mentah bertubi-tubi pada kedua pelaku tepat setelah putusan persidangan.


Jauh sebelum kejadian tragis yang menimpa keponankannya, Fahri dan sang Istri sudah meminta Amara untuk tinggal bersama mereka. Namun dengan alasan ingin mandiri, akhirnya Fahri menyerah dan mendukung semua keinginan anak dari Almarhum kakaknya itu.


"Om, merasa beruntung, Amara memiliki teman-teman yang begitu sayang padanya," ujar Fahri dikediamannya saat Emir berkunjung.


"Apa, Amara dan Aidan dalam keadaan sehat?" tanya Fahri kemudian.


Pria itu baru beberapa kali bertemu dengan putra Amara. Terakhir adalah dua tahun lalu saat dirinya berkunjung ke Sidney untuk bertemu dengan Aidan. Fahri hanya ingin tau bagaimana perkembangan anak yang dilahirkan prematur dalam kondisi psikis Amara yang terganggu saat itu.


Fahri juga tau, jika selama ini Amara memilih tinggal di jakarta, diperkampungan yang padat penduduk. Dan dia juga tau jika Aidan dirawat oleh teman dekat dari Amara--Melani yang tinggal di Sidney bersama suaminya yang seorang Pengacara. Hal itu lebih baik, begitulah menurutnya.


"Alhamdulillah, Om. Terakhir kali Emir bertemu Amara, dia sehat. Dan Aidan tumbuh dengan baik," sahut Emir yang seolah tau perkembangan Aidan.


"Om, sudah kangen mau bertemu mereka. Tapi setiap kali Om menghubungi Amara, dia bilang Aidan masih belum bisa ke Jakarta," ungkap Fahri yang memang kesulitan menemui Amara.


"Lusa, Emir akan menjemput Aidan dan Amara di Sidney, Om," beritahu Emir.


"Benarkah?" Fahri terlihat antusias.


"Nanti Emir akan mengajak mereka berkunjung," ujar Emir yang disambut raut wajah tak sabar dari pria dihadapannya.


"Terimakasih, Emir. Ahmad dan Ibu mu memang telah berhasil mendidikmu. Om, turut bangga, Mir," puji Fahri yang memang mengenal Ayah Emir dari semenjak mereka masih muda.


"Tapi, Mir. Niat kamu untuk mendatangi para pelaku ... Om, rasa lebih baik kamu urungkan saja,"


...Bersambung...